Pertamina Hulu Rokan Zona 1 Dukung Penurunan Stunting, Wujud Nyata Peduli Anak Indonesia

Di Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau aktif memberdayakan masyarakat melalui pelatihan pengolahan makanan berbahan dasar daun kelor.
15 kader Posyandu dan pelaku UMKM lokal binaan Pertamina EP Rantau Aceh Tamiang, memperkenalkan cara mengolah daun kelor menjadi makanan bernilai jual tinggi seperti cookies, mie, dan teh kelor. Foto: Ist

Iklan Baris

Lensa Warga

JAMBI | ACEHHERALD.Com — Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 menunjukkan komitmen berkelanjutan mendukung tumbuh kembang anak melalui berbagai program penanggulangan stunting di wilayah operasionalnya yang tersebar dari Lhokseumawe, Aceh hingga Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Hal ini dikatakan Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan, Iwan Ridwan Faizal, saat memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2025 yang mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”.

Manager CID Pertamina Hulu Rokan, ini meyakini bahwa upaya menciptakan generasi unggul dimulai dari pemenuhan hak dasar anak, terutama hak atas gizi dan kesehatan.

“Melalui program-program penurunan stunting yang tersebar di seluruh wilayah kerja kami, kami ingin berkontribusi dalam memastikan anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan. Ini bukan hanya program sosial, tapi bentuk komitmen kami untuk turut membangun masa depan Indonesia,” ujar Iwan Ridwan Faizal, dalam rilisnya yang diterima redaksi Acehherald.com, Kamis (24/7/2025).

Iwan menyebutkan bahwa upaya ini difokuskan pada perbaikan gizi anak dan edukasi masyarakat. Program-program ini dilaksanakan dengan menggandeng pemangku kepentingan lokal, kader kesehatan, dan tenaga medis guna memberikan intervensi yang tepat sasaran.

Salah satu program unggulan adalah Gerakan Masyarakat Atasi Stunting (Gemar Anting) yang digagas oleh PHE Jambi Merang di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Program ini mengedukasi masyarakat pentingnya kesadaran pemenuhan gizi sejak tahap remaja hingga calon pengantin untuk mencegah anak yang tumbuh dengan status stunting. Talkshow terbaru (24/6) dilaksanakan di Desa Tungkal Jaya, melibatkan 50 peserta, sebelumnya juga dilakukan di Bayung Lencir dengan 70 peserta.

Di Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau aktif memberdayakan masyarakat melalui pelatihan pengolahan makanan berbahan dasar daun kelor. Workshop yang diikuti 15 kader Posyandu ini menghadirkan pelaku UMKM lokal dan memperkenalkan cara mengolah daun kelor menjadi makanan bernilai jual tinggi seperti cookies, mie, dan teh kelor.

Baca Juga:  Polres Lhokseumawe Ringkus Tersangka Penggelapan Minyak Kapal MT Garuda Asia

Selain itu, Pertamina EP Rantau juga mengadakan pelatihan untuk pengolahan abon lele. Edukasi ini menjadi bentuk nyata penguatan ketahanan pangan lokal yang bergizi dan berkontribusi untuk pencegahan stunting di wilayah kerja PEP Rantau.

Di wilayah Jambi, Pertamina EP Jambi mengadakan pemeriksaan kesehatan untuk ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan anak berisiko stunting di Puskesmas Muara Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Bekerja sama dengan dokter spesialis obgyn dan spesialis anak, sebanyak 23 ibu hamil dan 17 anak dari tujuh desa mendapat pemeriksaan langsung. Program ini turut didukung oleh pemberian makanan tambahan (PMT) dan pelatihan bagi kader kesehatan.

Dukungan nyata juga hadir dari PHE NSO yang menargetkan Desa Paloh Punti di Lhokseumawe—desa sekitar wilayah operasi dengan jumlah balita stunting tertinggi. Program yang berjalan sejak 2024 ini turut mendukung keberhasilan turunnya jumlah balita stunting dari 26 menjadi 17 anak per pertengahan 2025. Dukungan yang diberikan berupa Rumoh Gizi Gampong, distribusi alat ukur antropometri, serta pemberian PMT.

Upaya serupa dilakukan Pertamina EP Pangkalan Susu yang secara aktif mendukung gizi balita melalui pemberian PMT dan alat ukur tumbuh kembang anak. Pada 24 Juli 2025, dijadwalkan sebanyak 184 balita di Bukit Jengkol akan menerima PMT sebagai bagian dari intervensi berkelanjutan.

Di sisi lain, Pertamina EP Lirik menjalankan program intervensi gizi di tiga kabupaten—Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hulu—dengan memberikan bantuan PMT berupa susu selama dua bulan. Langkah ini sejalan dengan pemahaman para ahli bahwa masa keemasan untuk intervensi stunting adalah selama dua bulan.

Kepedulian ini menunjukkan bahwa peringatan Hari Anak Nasional bagi PHR Zona 1 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk mempertegas komitmen terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak—dimulai dari hal paling mendasar: kesehatan dan gizi.

Baca Juga:  DPRA Batal Gelar Paripurna, Diduga Ada Anggota Berstatus ODP Corona
Kata Kunci (Tags):
gerakan masyarakat atasi stunting, gemar anting, pertamina hulu rokan, phr zona 1, pertamina, hari anak nasional, han 2025, stunting,

Berita Terkini

Haba Nanggroe