Indeks Literasi Ekonomi Syariah di Aceh Sebesar 13,8%

MEDAN | ACEHHERALD.COM – Indeks literasi ekonomi syariah (Eksyar) nasional Tahun 2022 sebesar 23,3% dimana untuk indeks literasi di Provinsi Aceh mencapai 13,8 persen dan Provinsi Sumatera Utara sebesar 24,2%. Sementara itu, pada indeks literasi Eksyar tertinggi berada pada provinsi Sumatera Barat sebesar 66, 6% dan terdapat juga provinsi dengan indeks literasi bawah 5% yaitu … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

MEDAN | ACEHHERALD.COM – Indeks literasi ekonomi syariah (Eksyar) nasional Tahun 2022 sebesar 23,3% dimana untuk indeks literasi di Provinsi Aceh mencapai 13,8 persen dan Provinsi Sumatera Utara sebesar 24,2%.

Sementara itu, pada indeks literasi Eksyar tertinggi berada pada provinsi Sumatera Barat sebesar 66, 6% dan terdapat juga provinsi dengan indeks literasi bawah 5% yaitu Provinsi Sumatera Selatan, Riau, dan Lampung.

Hal ini dikatakan Yuri Fathia Zumara – Analis Senior di Kelompok Edukasi & Sosialisasi Ekonomi & Keuangan Syaria – Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (BI), Jumat (21/7/2023) di Kota Medan, pada kegiatan capacity building mitra jurnalis Aceh.

“Saya kasih bocoran data soal indeks litetasi ekonomi syariah di provinsi Aceh, ya…dan dari data ini pengelolaan keuangan secara syariah di Aceh paling tinggi dibanding provinsi lainnya di Indonesia,” kata Yuri Fathia Zumara dihadapan awak jurnalis mitra bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh.

Yuri Fathia Zumara menambahkan bagaimana peran Bank Indonesia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, yakni dengan menyasar melalui meningkatkan kontribusi ekosistem produk halal melalui penguatan ekosistem produk halal.

Lalu meningkatkan kontribusi pembiayaan dan pendalaman pasar keuangan syariah melalui penguatan keuangan syariah. Kemudian meningkatkan penerapan halal lifestyle melalui penguatan penerapan halal lifestyle.

Yuri menyampaikan bahwa tak hanya pemerintah dan juga BI yang memiliki peran untuk meningkatkan indeks literasi ekonomi syariah termasuk dari sektor wisata, masyarakat pun bisa berpartisipasi dengan cara mempromosikan daerahnya melalui akun media sosial. Mengapa tidak, tekan nya.

Ia pun mencontohkan video dari salah satu influenser di Bali yang mempromosikan wisata halal di Pulau Dewata yang berdurasi satu menit. “Jadi kalian juga bisa menjual apa yang ada di Aceh, seperti wisata tsunami atau saat pelaksanaan Salat Jumat toko pada tutup atau wisata religi lainnya,” ungkapnya lagi.

Baca Juga:  Dyah: Kolaborasi Kunci Utama Majukan UMKM Aceh

Digitalisasi dan Rantai Pasok Halal untuk Kemanfaatan Eksyar Sumatera

Hal yang sama dikatakan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung dalam upacara pembukaan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Sumatera, di Medan, Jumat (21/7), yang dilansir dari laman bi.go.id.

Juda Agung menyebutkan penguatan ekonomi dan keuangan syariah (eksyar), khususnya di wilayah Sumatera, telah dicapai melalui sejumlah langkah, utamanya melalui akselerasi digitalisasi. Rantai pasok halal (halal value chain) turut menjadi elemen penting dalam pengembangan eksyar.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan bahwa kunci keberhasilan mendukung ekonomi dan keuangan syariah membutuhkan dukungan digital.

Untuk itu di Sumatera, terdapat penguatan berbagai upaya akslerasi digitalisasi di bidang eksyar yaitu digitalisasi sertifikasi halal dan digitalisasi keuangan sosial ZISWAF (Zakat, Infaq, Shodaqah, dan Wakaf).

Berbagai inisiatif digitalisasi kemudian dilakukan sejalan dengan tema FESyar Sumatera 2023 yaitu “Penguatan Sinergi dan Inovasi Ekonomi Dan Keuangan Syariah Melalui Dukungan Digitalisasi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Sumatera yang Inklusif”. 

Lebih lanjut, Deputi Gubernur Juda menyampaikan bahwa terdapat tiga celah pengembangan eksyar yang perlu diisi. Pertama, masih ada pangsa eksyar yang perlu dikembangkan, misalnya industri wisata muslim.

Kedua, pangsa pasar keuangan syariah masih stagnan pada 10% di tengah ekspansi produk keuangan syariah yang masih terbatas, dan ketiga, aspek literasi yang menunjukkan indeks literasi ekonomi syariah Indonesia masih pada posisi 23,3%, masih jauh dari targetnya 50% pada tahun ini.

Ia menambahkan, contoh implementasi digitalisasi bagi eksyar di Sumatera di antaranya adalah pertama, penggunaan smart green house dan Internet of Things (IoT) dalam produksi pangan, khususnya tanaman holkikultura. Kedua, sinergi Bank Indonesia (BI) dengan Kementerian Agama, dan Badan Wakaf Indonesia dalam adopsi pembayaran digital, salah satunya QRIS.

Baca Juga:  KPwBI Aceh: Dorong Perekonomian Hijau

Ketiga, pengembangan halal lifestyle yang dapat didorong melalui program yang mendukung budaya dan perdagangan, termasuk oleh BI. Hal ini dilakukan melalui penyelenggaraan festival kuliner dan peragaan busana yang menguggulkan busana tradisional Melayu khas Sumatera.

Selain itu, ujarnya, dukungan BI dalam digitalisasi utamanya juga dilakukan melalui sistem pembayaran, yakni melalui penerapan QRIS, BI-FAST, dan Kartu Kredit Indonesia (KKI). 

Pada pelaksanaan Fesyar, BI juga meluncurkan sejumlah program penguatan halal value chain dalam rangka mendukung Indonesia menjadi pusat halal dunia. Program tersebut antara lain pemberian sertifikat halal gratis bagi UMKM dalam rangka mendukung program Sertifikasi Halal Gratis (“Program SEHATI”) berkolaborasi dengan Pemerintah, Baznaz, MUI, Kemenag dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) setempat; kerja sama pembentukan halal center; program dedikasi untuk negeri kepada Masjid dan 3 Pesantren Program Infratani berupa Green House; temu bisnis perdagangan produk halal; serta penguatan halal lifestyle melalui peluncuran Festival Kuliner Halal “The Kitchen of Asia”. 

Berita Terkini

Haba Nanggroe