
TAKENGON I ACEH HERALD
POPULASI hewan gajah liar di kawasan Aceh Tengah terbilang subur, berdasarkan keterangan Kepala RKW 7 BKSDA Wilayah Aceh Tengah, Saidi, dari pantauan pihaknya populasi hewan bertubuh besar yang dalam suku gayo sering disebut “Abang Kul = Abang yang paling tua Red” ini jumlahnya hanya sekitar 26 ekor.
Namun saat ini, baru sekitar 10 tahun berlalu, jumlah populasi gajah liar di Aceh Tengah yang menetap dikawasan Kampung Karang Ampar, Kecamatan Ketol tersebut sudah mencapai 40 an ekor lebih.
Hal ini menurut Saidi merupakan suatu progres perkembangbiakan yang lumayan pesat bagi populasi gajah liar tersebut. Dimana dapat dikatakan disaat komunitas kawanan gajah ini sedang didera konflik memanas dengan masyarakat pemilik lahan di seputaran areal mereka, yang sampai pada tahap pengusiran paksa oleh warga baik menggunakan metode ledakan petasan dan sebagainya, namun gajah-gajah tersebut masih sempat berkembang biak melahirkan anaknya.
Sisi buruk dampak dari bertambahnya populasi gajah liar ini, menurut pria yang mengaku sudah bekerja Di BKSDA selama hampir 25 tahun ini, dengan semakin besarnya populasi gajah liar di kawasan tersebut, dapat dipastikan intensitas konflik antara gajah liar dan masyarakat sekitar semakin tinggi dan berkemungkinan akan berdapampak pada jumlah korban jiwa akibat dari konflik tersebut. “Aceh Tengah merupakan kawasan subur bagi gajah berkembang biak, dalam kurun waktu 10 tahun saja jumlah pertambahan populasinya hampir mencapai 45 % dari jumlah awal dan hal itu terjadi ditengah konflik antara kawanan gajah dan masyarakat sedang terjadi, bagaimana jika tidak ada konflik, tentu jumlah pertunbuhan mereka bisa lebih besar Lagi,” ujar Saidi yang ditemui Acehherald.com, Senin, (07/3/22).
Lebih lanjut Saidi menjelaskan, konflik antara “Poe Meurah =Sebutan gajah dalam bahasa Aceh” dengan masyarakat ini terjadi akibat menipisnya jumlah area kawasan gajah tersebut yang terjadi akibat pembukaan lahan hutan dalam sekala besar.
Sehingga kawanan gajah tersebut kehilangan area tempat mereka berlindung dan sebagai tempat sumber makanan, akibat dari hal tersebut, kawanan gajah melakukan migrasi dan tentu saja dalam proses migrasi tersebut mereka menemukan area kawasan kebun penduduk yang menyajikan tanaman-tanaman yang dapat mereka jadikan sebagai makanan.
Salah seorang warga Kampung Karang Ampar, Bahri Aman Putroe, kepada Acehherald mengatakan seharusnya pemerintah daerah, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat segera mengambil tindakan guna mengantisipasi agar konflik antara gajah liar dan masyarakat ini tidak berkepanjangan dan juga tidak lagi menimbulkan korban di kedua belah pihak.
Menurut Aman Putroe, ada delapan ekor gajah liar yang mengendap dikawasan kebun milik orang tuanya, sehingga menyebakan orang tuanya serta masyarakat lain yang kebunnya berada dikawasan tersebut enggan kekebun, meski sekedar mengambil buah durian milik mereka yang sedang dimusim panen puncak saat ini.
Jika hal ini dibiarkan, ujar Aman Putroe, tidak tertutup kemungkinan warga akan mengambil tindakan ekstrim yang berdampak terjadinya korban pada kawanan gajah liar tersebut. “Sudah saatnya pemerintah serius memikirkan masalah penanganan gajah ini, harus berapa banyak lagi warga yang mati akibat dianiaya oleh kawanan gajah ini dan harus berapa orang lagi warga yang dipenjara karena terpaksa membunuh gajah liar tersebut, pemerintah jangan tutup mata, segeralah tangani masalah ini,” ujar Aman Putroe.
Sebagai saran, lanjut Aman Putroe, kenapa tidak dibebaskan lahan sekitar ratusan hektar guna untuk dibuatkan menjadi kawasan penangkaran gajah liar ini, sehingga disamping memelihara dan melestarikan populasi satwa dilindungi tersebut, penangkaran gajah tersebut juga merupakan langkah efektif menghentikan konflik antara gajah liar dan masyarakat yang sudah sejak lama terjadi.
ROBBY


















