Ustad H Tamlicha Hasan: Jihad Paling Tinggi, Berkata Benar di Depan Penguasa yang Zhalim

BANDA ACEH I ACEHHERALD – Jihad yang paling tinggi nilainya adalah berkata benar di depan penguasa yang dhalim, dengan tujuan semata mata untuk kemaslahatan negeri dan seisinya. “Namun perlu juga diingat, pernyataan yang dikeluarkan harus amn untuk kita dan oran orang di sekitar kita.” Hal itu diungkapkan oleh Ustad H Tamlicha Hasan Lc MA pada … Read more

Ustad Tamlicha Hasan (tengah)

Iklan Baris

Lensa Warga

BANDA ACEH I ACEHHERALD – Jihad yang paling tinggi nilainya adalah berkata benar di depan penguasa yang dhalim, dengan tujuan semata mata untuk kemaslahatan negeri dan seisinya. “Namun perlu juga diingat, pernyataan yang dikeluarkan harus amn untuk kita dan oran orang di sekitar kita.”

Hal itu diungkapkan oleh Ustad H Tamlicha Hasan Lc MA pada Pengajian Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Rabu (17/08/2022) malam, di Kantor The Aceh Post. Pengajian dengan thema ‘Cara Islam Memaknai Kemerdekaan’ itu dipandu langsung oleh Koordinator KWPSI, Azhari S.sos,

Menurut Tamlicha yang sering mengisi pengajian di beberapa masjid dan instansi seputar Banda Aceh itu, berkata benar di depan penguasa itu adaah pesan Rasulullah Muhammad. Dan itu akan aman dari fitnah. “Pemimpin yang baik menurut Rasulullah adalah, pemimpin yang rakyat memujinya dan ia pun memuji rakyatnya. Sebaliknya pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang membenci rayatnya dan rakyat juga benci dengan kebijakan pemimpin yang memberatkan mereka,” tutur Tamlicha.

Tamlicha lalu mencontohkan betapa Khalifah Umar RA marah dengn pemimpin yang otoriter, bahkan ia meminta kepada Rasulullah untuk menghabisinya. Namun Rasulullah menahannya dengan berkata, selama seorang pemimpin yang dhalim masih memberikan kesempatan shalat kepada rakyatnya, maka jangan dihabisi. “Namun kalau jelas jelas kehidupan rakyat dibuat susah dan tersiksa, maka lawan lah mereka. Itu titah Rasulullah,” kata Tamlicha.

Menyangkut esensi kemerdekaan dalam Islam, Tamlicha mengatakan, kemerdekan bagi Islam adalah hal yang paling esensi dan awal dalam sebuah kehidupan Dimulai dari proses penciptaan hingga mematikan dan menghidupkan. “Allah membentukan nilai nilai kemanusiaan. Tak ada yg boleh menguasai manusia selain Allah. Unuk itu perlu kemerdekaan bertauhit. Karena makna merdeka adalah bebas dari penghambaan, mandiri atau berdiri di atas kaki sendiri,” tutur Tamlicha.

Baca Juga:  Gubernur Lepas 48.325 Vaksin Covid-19 ke Seluruh Aceh

Dalam Surat Hujarat ayat 13 Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dari ayat tersebut Allah menyampaikan bahwa semua manusia memiliki kesetaraan yang sama sebagai bagian dari kemerdekaan. Allah membentuk paradigma kemerdekaan, bahwa tidak boleh ada pihak mengatur di luar dari nilai kemanusiaan itu sendiri. Kebebasan manusia tidak boleh dikuasai dan dieksploitasi.

Islam memaknai merdeka sebagai sesuatu yang sangat universal, yakni dalam bertauhid, berekspresi, intelektual, dan berbagai bidang lainnya.

Misalnya, ketika seorang mujtahid dengan intelektualitasnya mengkaji Alquran tanpa hawa nafsu, jika benar kajiannya maka akan mendapatkan dua pahala, sementara  jika tidak benar maka mendapatkan satu pahala.

“Merdeka bukan hanya merdeka dari penjajahan. Secara universal makna bebas sebenarnya mencakup berbagai aspek dalam kehidupan,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut dihadiri puluhan jamaah termasuk tokoh-tokoh masyarakat Dusun Surabaya, Gampong Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh sebagai lokasi Kantor The Aceh Post.

Berita Terkini

Haba Nanggroe