Sisi Bendung Brayeun Longsor

JANTHO I ACEHHERALD.com – Kelangsungan fungsi bending brayeuen Krueng Geupeu Sarah Kecamatan Leupung, Aceh Besar, sebagai pemasok air untuk irigasi persawahan di Kecamatan Leupung, kini mulai terancam. Penyebab itu adalah karena sisi bendung atau dekat tebing sungai mengalami longsor pada saat banjir pekan lalu. Akibatnya kini debit air di saluran berkurang, karena air mengalir melalui … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Lokasi wisata bendung brayeun, sebelum terjadinya banjir pekan lalu. Foto Ist

JANTHO I ACEHHERALD.com – Kelangsungan fungsi bending brayeuen Krueng Geupeu Sarah Kecamatan Leupung, Aceh Besar, sebagai pemasok air untuk irigasi persawahan di Kecamatan Leupung, kini mulai terancam.

Penyebab itu adalah karena sisi bendung atau dekat tebing sungai mengalami longsor pada saat banjir pekan lalu. Akibatnya kini debit air di saluran berkurang, karena air mengalir melalui sisi yang telah longsor.

Selama ini irigasi Brayeun tersebut mengairi ratusan hektar areal persawahan masyarakat di sejumlah gampong dalam Kecamatan Leupung, yang sebagian besarnya dalam bentuk irigasi teknis. Kawasan irigasi Brayeun yang semula dibangun oleh Belanda dan terus diupgrade dalam beberapa tahun terakhir, selama ini juga  menjadi salah ikon wisata alam bagi masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar.

Ketua Pengelola Objek Wisata Alam Brayeun Ilyas Ramli CR, kepada awak media mengatakan, pihaknya berharappihak terkait dilingkup Pemkab Aceh Besar atau pemerintah Aceh agar bisa turun ke lapangan untuk melakukan berbagai tindakan pencegahan dan penanganan kondisi yang ada. “Pembangunan untuk mencegah abrasi merupakan kebutuha  mendesak kareka apabila kondisi yang ada terus dibiarkan maka dikhawatirkan akan berdampak besar bagi kelangsungan hidup sektor pertanian dan kebutuhan air bersih oleh masyarakat sekitar,”ujarnya Sabtu (16/5/2020).

Ilyas Ramli menjelaskan, sumber air yang melimpah pada kawasan tersebut selama ini juga dimanfaatkan sebagai air bersih oleh masyarakat kecamatan Leupung melalui pembangunan water intake dan pemipaan oleh Uni Eropa melalui NGO THW Germany.

Saat ini pemeliharaan water intake dan pemipaan tersebut dilakukan oleh PT Solusi Bangun Andalas (SBA) yang juga digunakan untuk operasional pabrik cement tersebut.

Ilyas Ramli yang juga ketua Pengcab Kodrat Aceh Besar itu menambahkan, sebelum tragedi tsunami tahun 2004 lalu, air dari pergunungan kawasan tersebut juga disuplai untuk kawasan Ulee Lheue Banda Aceh dan sekitarnya.

Baca Juga:  Ekspedisi Toba HPN 2023: Jangan Lengah Mempertahankan Geopark Kaldera Toba

 

Penulis                 :*/nurdinsyam

Berita Terkini

Haba Nanggroe