Sahabat dan Kolega Kumpul Dana Beli Ventilator Khusus

Kisah di Balik Kepergian Imai Indra BANDA ACEH I ACEHHERALD.com- KEPERGIAN selamanya, dr Imai Indra, salah seorang ahli anastesi terbaik Aceh yang berasal dari Pekanbaru, Riau, benar benar menyisakan banyak cerita. Pria yang murah senyum itu dikenal paling supel diantara para teman dan koleganya. Jangan heran, ketika menyaksikan saat penglepasan jenazahnya dari pelataran RSUDZA, sejenak … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Kisah di Balik Kepergian Imai Indra

Saat ambulans yang membawa jasad dr Imai Indra dilepaskan dalam balutan duka mendalam dari koleganya, di pelataran RSUDZA. Foto Ist

BANDA ACEH I ACEHHERALD.com-

KEPERGIAN selamanya, dr Imai Indra, salah seorang ahli anastesi terbaik Aceh yang berasal dari Pekanbaru, Riau, benar benar menyisakan banyak cerita. Pria yang murah senyum itu dikenal paling supel diantara para teman dan koleganya. Jangan heran, ketika menyaksikan saat penglepasan jenazahnya dari pelataran RSUDZA, sejenak ia meninggal dan difardhukifayahkan, Rabu (02/09/2020), ia dilepas melebihi bak seorang pahlawan. Ratusan wajah tertunduk dalam tangis, ada yang pecah ada pula yang sesungukan. Sebuah potret nyata dari suasana hati seluruh manajemen RSUDZA yang terkoyak, atas kepergian pria yang senantiasa berpenampilan sederhana itu.

Ya…bagi kolega dan karibnya, Imai Indra ayah dari dua orang anak itu, adalah sosok fenomenal. Suka tampil seadanya, dan jauh dari kesan sebagai seorang dokter anastesi papan atas. Kadang ia larut bersama anak anak muda di warung kopi, menikmati segelas kopi pancung. Kadang ia menenteng satu plastik kueh basah hanya untuk dimakan bersama dengan teman komunitas bersepeda pada sebuah titik kumpul usai gowes. Nothing to loose!

Jangan juga heran, gara gara tampil sangat sederhana itu pula, ia sempat dicegat Satpam Rumah Sakit saat mau masuk ke ruang operasi. Padahal tim gabungan di meja operasi telah stanby, hanya menunggu kedatangan dokter Imai selaku ahli anastesi untuk dimulainya proses operasi. Lama ditunggu, Imai tak kunjung datang. Lalu dihubungi via ponselnya. Dengan santai almarhum menjawab,ia ada di luar, akan tetapi tak dibenarkan masuk oleh Satpam yang kebetulan baru dan tak kenal dengan Dokter Imai.

Spontan ia dijemput dari ruang lobi di depan kamar operasi, dan sang dokter anastesi itupun masuk sembari memandang dengan senyum kebapakan ke wajah Sang Satpam yang tertunduk kalah KO. He he he….ada ada saja!

Baca Juga:  Peringati Hari Buruh, Ketua DPRK Bagikan Masker Kepada Buruh Terminal Mobar

Hal hal begitulah yang membuat Dokter Imai menjadi begitu lekat di hati koleganya, terutama lingkup RSUDZA dan FK Unsyiah. Tak heran jika saat almarhum Imai Indra masih dalam perawatan di RICU RSUDZA, koleganya dari RSUDZA dan Ikatan Alumni Kedokteran Unsyiah (IAKU) begitu perhatian. Salah satu bentuknya adalah menggalang dana untuk dilakukan terapi advanced berupa pengadaan ventilator dengan high flow oxygen yang harganya di atas Rp 100 juta dan di luar pertanggungan BPJS.

Spirit empati itu benar benar luar biasa, sebuah ventilator bisa diadakan oleh kolega almarhum dan sempat digunakan kala perawatan almarhum. “Hanya ini yang mampu kami berikan untuk almarhum, sebagai upaya meringankan beban keluarga. Ini benar benar empati yang tulus dari teman teman, sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa salah satu teman dan kolega terbaik kami,” ujar drg Mukhlis Noer, salah seorang karib almarhum yang sering menghabiskan akhir pekan dengan acara bakti sosial dan bersama komunitas itu.

Upaya dari kolega sesama tenaga medis dan paramedis di RSUDZA telah maksimal. Namun Allah lebih sayang dengan hambaNya, hingga dokter anastesi yang jadi panutan para mahasiswanya itupun menggapai batas demarkasi bentang kehidupan. Lelaki itu menjadi dokter pertama di Aceh yang syahid karena pandemi Covid-19. Ia pergi menghadap Sang Khalik meninggalkan keluarga kecilnya, satu orang istri dan dua orang anak. Selamat jalan Dokter Imai. Semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

PENULIS               : NURDINSYAM

Berita Terkini

Haba Nanggroe