Saat Bocah Bermain Waterboom Dengan Isabela dan Azis

MOBIL double cabin Toyota hilux kami sedang terangguk angguk di jalan sempit berbatu, ketika dari sisi kanan mobil sekitar 50 meter seekor gajah jantan sumatera (elephas maximus sumatranus) ukuran jumbo—belakangan kami tahu namanya Azis—dengan gagah berjalan di antara kerimbunan hutan muda. Sinar matahari yang garang kala jam menunjukkan pukul 12.38 WIB menerobos lewat celah rimbun … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Foto Nurdinsyam

MOBIL double cabin Toyota hilux kami sedang terangguk angguk di jalan sempit berbatu, ketika dari sisi kanan mobil sekitar 50 meter seekor gajah jantan sumatera (elephas maximus sumatranus) ukuran jumbo—belakangan kami tahu namanya Azis—dengan gagah berjalan di antara kerimbunan hutan muda. Sinar matahari yang garang kala jam menunjukkan pukul 12.38 WIB menerobos lewat celah rimbun pohon sepanjang jalan. Seorang lelaki bertubuh atletis yang mengendarai azis (seorang pawang) memberi komando kepada gajah jantan itu.

Itulah pemandangan yang menyambut kami rombongan pesepeda gunung Hospital Bike Community (Hobic) Banda Aceh, sejenak memasuki camp Conservatory Response Unit (CRU) di Gampong Ie Jeureungah Kecamatan Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya. Suasana alam begitu menggoda di kawasan yang terletak dalam pelukan lembah pegunungan Bukit Barisan itu.

Hari itu Sabtu (11/07/2020) tampak beberapa mobil pengunjung lokasi CRU tersebut telah terparkir di halaman lokasi pelatihan gajah yang luasnya sekitar 1,5 hektar. Satu buki bahwa CRU Sampoiniet memang telah menjadi lokasi objek wisata yang diminati di Aceh Jaya. Di situ juga sering dijadikan area camping ground atau gathering bagi berbagai Lembaga swasta dan pemerintah di Aceh.

Ada rasa dag dig dug, menjelang mobil kami memasuki pelataran pekarangan CRU beriringan dengan Azis sang gajah jinak. Rasanya sebuah side kick sang gajah sudah cukup menjungkalkan double cabin itu hingga jungkir balik. Toh ternyata aman aman saja.

Samsul, Pimpinan CRU Sampoiniet

Rombongan kami disambut pemandangan menakjubkan saat menjejakkan kaki di CRU Sampoiniet. Cekikik tawa bocah dan gadis remaja di bibir sungai Krueng Ligan memancing pandang kami. Bagai tak percaya kami menyaksikan dua ekor gajah bercanda dengan bocah bocah bertelanjang dada. Tak ada rasa takut apalagi gundah, dua jenis makhluk Allah dari dua dunia itu tampak akrab.

Baca Juga:  Laki-laki Terbanyak Terjaring Operasi Yustisi Protokol Kesehatan

Sesekali para bocah itu mengusap badan poe meurah, ada yang memegang kuping, mengusap belalai sambil menyiram air. Sesekali sang gajah yang ternyata betina dengan nama Isabela itu, menghirup air dengan belalainya lalu menyiram ke kawasan bocah dan remaja tersebut.  Dan…….muncullah tawa ceria sekaligus tepuk tangan. Ya….siraman air yang mereka rasakan, bak saat berada di waterboom dengan wadah berupa druum yang ditumpahkan airnya.

Benar benar alami, nyaris tak ada batas. Dua orang mahout (pawang gajah) tampak mendampingi poe meurah atau teungku rayeuk. Mereka sesekali memberi komando dan sang gajah manut dengan patuh.  Hari itu, tiba giliran Isabela gajah betina yang juga gajah tertua di CRU dengan umur 36 tahun, dan gajah jantan Azis menemani para turis lokal yang mandi di Krueng Ligan. Tak ada jarak emosi antara teungku  rayeuk dengan para bocah itu.

Dua gajah lain penghuni CRU Sampoiniet sedang di hutan, yaitu gajah betina Joana dan gajah jantan Olo.

Tampak juga seorang lelaki muda menggendong bayinya, lalu membiarkan kepalanya dicium oleh Isabela. Bayi mungil di gendongannya begitu menikmati adegan tersebut, tampak ia tertawa kesenangan. Sementara Azis terlibat main ‘perang air’ dengan para bocah termasuk ibu ibu mereka yang turut menikmati canda lepas dengan Poe meurah. Dan seperti biasa, adegan itu direkam dengan kamera hape para orang tua bocah, termasuk dengan pose bersama Isabela dan Azis tentunya.

Hari telah menunjukkan pukul 13.25 WIB, saat Samsul, kepala CRU Sampoiniet yang juga seorang mahout, meminta izin kepada para turis kecilnya. “Maaf, gajah mau istrahat dulu sekalian kami makan siang, nanti kita teruskan kembali,” katanya.

Baca Juga:  Lalu Syaifuddin Ingatkan Aparatur Pemko Lhokseumawe Dalam Penggunaan Anggaran
Pos UKK CRU Sampoiniet. Foto Nurdinsyam

Benar benar terlatih, hanya dengan gerakan kecil, Isabela dan Azis melengkungkan kaki depannya sebagai pijakan, lalu kedua mahout itu melompat dengan sigap ke badan gajah. Dan mereka pun kembali ke kamp di pinggir sungai. Isabela dan Azis dimasukkan ke kandang luas dengan pagar kawat berarus listrik. Tampak ada plang peringatan di situ. “Awas kabel listrik bertegangan tinggi”

Para pawang itu berbaur di teras secretariat CRU Sampoineit. Ada jejeran kelapa muda plus durian segar yang menanti mereka. Inilah kelompok staf di CRU Sampoineit, yang terdiri atas delapan orang mahout, dua orang rangers, tenaga humas, admin serta pendukung lainnya.

Seperti diakui Samsul,  CRU yang berada di Gampong Ie Jeureungah Kecamatan Sampoiniet ini, adalah CRU tertua di Aceh. CRU Sampoiniet dibentuk oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Dinas Kehutanan Aceh, Pemerintah Kabupaten di Aceh dan dibantu oleh Fauna and Flora International (FFI) Program Aceh, pada tahun 2008.

Menjelang ashar kami beranjak meninggalkan CRU, sembari merasakan pengalaman bathin yang luar biasa. Pesona alam yang memukau serta gajah jinak yang tanpa batas dengan insan manusia. Saat kami melewati gerbang CRU, dari tepian arus Krueng Ligan, lamat lamat kami masih mendengar tawa dan jerit senang para bocah, karena bisa bersama lagi dengan poe meurah yang selama ini hanya ia bisa mereka lihat melalui gambar dan tayangan televisi.

 

Penulis                  : Nurdinsyam

 

Berita Terkini

Haba Nanggroe