Resah dan Prihatin Seorang Wiratmadinata

SEORANG putra kelahiran Tanah Gayo yang bermuasal dari embrio generasi tua Sunda Kuno, Muhammad Wiratmadinata dan kemudian lebih dikenal dengan Wiratmadinata atau Wira, menorehkan geliat resah dan prihatinnya terghadap negeri yang ia cintai. Wira yang seorang akademisi lulusan doctoral bidang studi hukum, sekaligus penyair dan pembaca puisi serta juga mantan jurnalis itu, menyuarakan resahnya melalui goresan puisi tentang rakyat yang marah. Ya….marah dengan kondisi kekinian, tentang pajak yang mencekik rakyat, tentang korupsi yang meraja lela, sementara rakyat makin terjepit bahkan tercekik nasibnya. Ia menyindir wakil rakyat berlagak pintar, padahal untuk naik ke kursi Dewan harus mengemis bak peminta-minta di lampu merah, bermohon sekeping suara dari rakyat. Toh saat menjadi penghuni gedung dewan malah ikut-ikutan menyengsarakan rakyat lewat keputusan kolaboratif dengan eksekutif. Berikut, pusi Bung Wira
Wiratmadinata

Iklan Baris

Lensa Warga

PUISI ORANG MARAH

Inilah puisi orang marah,

yang resah, murung dan gelisah;

Wahai para penikmat hasil pajak rakyat,

Jangan pamerkan harta hasil korupsimu,

di depan rakyat lapar, yang lehernya tercekik,

oleh harga beras dan lauk nan melambung  tinggi.

Wahai para penguasa hasil Pemilu yg curang,

jangan berlagak pintar, setelah jadi Wakil Rakyat;

Karena sejatimu hanyalah para badut politik,

yang mendadak berkuasa karena beli suara.

Rakyat yang merana, nelangsa dan sakit hati,

sudah tak tahan lagi, mendengar bualanmu;

jangan sampai rasa lapar, marah dan sedihnya,

berubah menjadi badai yg merobek hidupmu.

Rakyat adalah gelombang samudera dalam,

jika ia datang dengan kemarahan,

kalian akan tenggelam.

Rakyat adalah sekumpulan topan lautan,

saat ia datang menggeram,

kalian akan karam ke dasar lautan.

~ Wiratmadinata ~ 30 Agustus 2025.

Baca Juga:  Ilmu Solusi Persatuan Umat Islam
Kata Kunci (Tags):
puisi orang marah, wiratmadinata, demo dpr ri, pajak rakyat

Berita Terkini

Haba Nanggroe