KOTA JANTHO I ACEHHERALD.com – Jefriandi (25), seorang personil Damkar BPBD Aceh Besar di Pos Durung, Kecamatan Mesjid Raya, Rabu (24/07/04) malam, pingsan di Pos, ketika sedang piket siaga.
Rekannya segera melarikan korban ke klinik pengobatan. Belakangan korban dilarikan ke rumah sakit Kampus USK di Darussalam, karena kondisi klinik penuh pasien.
Kalak BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil SSos MSi yang dihubungi awak media, malam ini,mengakui adanya insiden itu.
“Benar, saat ini saudara Jefriandi masih dirawat untuk proses pemulihan. Dari diagnosa yang ada, diperkirakan karena faktor kelelahan, termasuk tekanan kerja kedaruratan yang butuh siaga penuh selalu,” kata Ridwan Jamil yang akrab disapa RJ yang sedang membezuk Jefriandi.
Ditambahkan, saat kejadian Jefriandi sedang melaksanakan piket di Pos Durung. Namun secara tak diduga,saat sedang di kursi, tiba tiba ia tumbang dan pingsan. Kebetulan dilihat langsung oleh rekan yang juga sedang bertugas piket.
Rekan rekannya segera mengupayakan bantuan medis dengan membawa ke klinik terdekat, yaitu Klinik Nanggroe Madani di seputaran Kajhu. Namun dikarenakan klinik dalam kondisi penuh pasien, Jefriandi dilarikan oleh rekan nya ke RS Pendidikan USK Jalan lingkar kampus USK.
Ketika ditanya apakah tumbangnya Jefriandi terkait dengan rumors yang beredar tentang minimnya asupan bergizi petugas Damkar yang punya beban kerja luar biasa, baik secara fisik maupun moril, RJ tak menampiknya, namun ia akan terus berkoordinasi dengan lintas pemangku kepentingan, soal asupan yang layak itu.
Sumber lain juga menyebutkan, jerih petugas Damkar itu juga disamaratakan dengan Tekon lain di Aceh Besar, sementara mereka punya beban kerja luar biasa, dan bertugas dalam bentang 24 jam, termasuk medan tugas yang makin beragam, mulai melepaskan cincin, menangkap ular, mengatasi kebakaran hutan yang makin intesn akibat kemarau hebat, hingga urusan anak anjing liar.
“Ini jelas sangat tidak adil, karena tugas di BPBD punya medan yang sangat berbeda, hingg butuh perlakun yang berbeda. Termasuk perhatian soal asupan makanan, hingga mereka tak muda lelah hingga berakibat fatal, seperti pingsan kala sedang piket sekalipun,”ujar sumber yang tak mau disebutkan jai dirinya itu.
Yang lebih ironi disebutkan, kala Pemkab Aceh Besar memberlakukan situasi Darurat Bencana Kekeringan, masalah biaya operasional harian, juga masih menjadi tanda tanya.
RJ yang dtanya seputar itu, tidak membantah, namun ia menyarankan untuk ditanyakan langsung ke pihak yang lebih kompeten soal dana tersebut.



















