Pemerintah Aceh Tegaskan Komitmen Mencari Solusi Soal Kopi Gayo

[divider style=”solid” top=”20″ bottom=”20″] BANDA ACEH | ACEH HERALD PEMERINTAH Aceh kembali menegaskan komitmennya untuk membantu petani kopi arabika di Dataran Tinggi Gayo, yang kini makin terpuruk akibat merosotnya harga kopi. Bahkan kran pemasaran nyaris tertutup total, akibat pandemi Covid-19. Penegasan komitment itu dilontarkan Kadis Perindag Aceh Ir Muhammad Tanwier MT kepada Aceh Herald, siang … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Ir Muhmmad Tanwier MT (Dok.Foto Ist)

[divider style=”solid” top=”20″ bottom=”20″]

BANDA ACEH | ACEH HERALD

PEMERINTAH Aceh kembali menegaskan komitmennya untuk membantu petani kopi arabika di Dataran Tinggi Gayo, yang kini makin terpuruk akibat merosotnya harga kopi. Bahkan kran pemasaran nyaris tertutup total, akibat pandemi Covid-19.

Penegasan komitment itu dilontarkan Kadis Perindag Aceh Ir Muhammad Tanwier MT kepada Aceh Herald, siang ini, saat ditanyakan seputar langkah yang ditemuh Pemerintah Aceh terkait anjloknya harga kopi arabika di Tanah Gayo, sebagai produsen utama dan terbesar dunia jenis kopi arabica. “Pak Gubernur terus berupaya maksimal, kami dari jajaran Disperindag juga terus berupaya mencari peluang pasar, bahkan hingga membuka counter di Jakarta,” tandas Muhammad Tanwier yang akrab disapa Baong itu.

Seperti diketahui, pagi tadi ratusan petani kopi di Bener Meriah mengusung peti mati ke kantor DPRK Bener Meriah. Mereka menyerahkan peti mati pertanda matinya dunia perkopian Tanah Gayo itu kepada Ketua DPRK Bener Meriah, Muhammad Saleh, yang saat itu didampingi Wakil Ketua I, Husnul Ilmi, dan Ketua Badan Legistasi, Zulham.

Selain peti mati, masyarakat juga membawa sejumlah poster, salah satunya bertuliskan tentang keprihatinan mereka akan anjloknya haera kopi saat ini. Diantara tulisan pada poster yang dibawa oleh PKM tersebut adalah, “Harga Kopi Rp 5 Ribu Negeri Agraris Yang Ironis!!! #Qanun Kopi Harga Mati.”

Menurut Muhammad Tanwier, faktor utama anjloknya harga kopi itu adalah karena prahara pandemic covid-19 dan dampak itu bukan hanya melanda petani kopi, namun juga seluruh lini ekonomi dan kegiatan lainnya. “Kita tak mungkin memaksa buyer untuk membeli, karena mereka sendiri kini dalam kondisi kepayahan secara ekonomi. Namun kami tak pernah lelah untuk terus berusaha. Termasuk dengan mengembangkan peluang pasar di dalam negeri, dengan membuka counter jualan produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Jakarta, termasuk dengan membuka jaringan kemitraan dengan UMKM sekalipun,” kata Baong.

Baca Juga:  Popda XIV Meulaboh, Tim Sepak Bola Pidie Gilas Banda Aceh 3-0
Petani kopi arabica menggeruduk Kantor DPRK Bener Meriah, hari ini.

Bahkan pihak Disperindag juga sedang mencari peluang pasar di negeri jiran melalui usaha roasting kopi gayo di Malaysa dan Singapura bahkan ke Negara India. “Memang semuanya tak seperti membalik telapak tangan, namun Pemerintah Aceh akan terus berupaya,” tegas Baong.

Bahkan dalam beberapa hari ini, Baong mewakili Pemerintah Aceh akan bertemu dengan pemasok kopi utama untuk Rusia. “Mana tahu kita dapat peluang dari mereka, yaitu menjadi mitra untuk pemasaran kopi gayo ke Tanah Rusia, karena di luar negeri kopi gayo juga telah punya nama,” ujar Baong.

Ketika ditanya soal rumors Pemerintah Jokowi akan membeli kopi gayo dengan dana hinggs Rp 1 triliun, Kadisperindag Aceh itu mengaku, sejauh ini pihaknya belum mendapat keterangan yang rinci seputar rencana tersebut. Namun satu yang perlu digarisbawahi,  Pemerintah Aceh terus berupaya maksimal untuk kemaslahatan petani kopi dan pelaku usaha kopi di Tanah Gayo.(*)

 

PENULIS     :     NURDINSYAM

Berita Terkini

Haba Nanggroe