
BANDA ACEH | ACEH HERALD.com–
Pemerintah Aceh menyiapkan sejumlah pengusaha muda Aceh yang siap bersaing di dunia bisnis internasional. Untuk menyiapkan pengusaha eksportir muda tersebut, Pemerintah Aceh menggelar Coaching Program for New Exporter untuk calan eksportir.
Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Iskandar AP, Senin (28/3/2022) secara resmi membuka kegiatan Coaching Program for New Exporter, di Gedung Keuangan RI perwakilan Aceh.
Coaching Program for New Exporter itu, katanya, sebenarnya didedikasikan untuk mendorong lahirnya eksportir-eksportir baru dari kalangan pegiat Usaha Mikro Kelas Menengah (UMKM) dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Aceh.
Iskandar mengatakan Aceh dengan letak sisi geografisnya memiliki potensi besar untuk menjalankan bisnis internasionalnya. Karena letak wilayah Aceh, berbatasan langsung dan sangat berdekatan dengan negara-negara ASEAN lainnya, di antaranya Thailand, Malaysia, Singapore, India, dan lainnya.
Namun demikian, sangat disayangkan export-import di kalangan pengusaha UMKM dan UKM Aceh masih sangat minim, padahal pemerintah telah mengupayakan pembukaan infrastruktur berupa pelabuhan ekspor agar transaksi bisnis internasional berjalan lancar.
Bahkan salah satunya yakni, pelabuhan Malahayati juga telah dideklarasikan sebagai pelabuhan container yang siap mendukung pebisnis kecil dan menengah yang bergerak di bidang eksport dan import.
Namun, Iskandar menyayangkan, kehadiran pelabuhan berkelas ekspor-impor tersebut justru yang banyak memanfaatkannya hanya perusahaan-perusahaan besar yang mengekspor Crude Palm Oil (CPO), biji besi, batu bara, dan lainnya, sedangkan ekspor impor produksi UKM masih relatif sedikit.
“Kita ingin fasilitas dan kemudahan ekspor-impor yang ada di Aceh dimanfaatkan oleh para pegiat UMKM dan UKM sehingga transaksi bisnis itu berjalan dengan baik di daerah kita,” ujarnya.
Karena itu, menurut Iskandar, kegiatan ini adalah sebuah kesempatan bagi para pegiat UMKM dan UKM Aceh untuk menggali ilmu bisnis yang lebih mendalam yang berkaitan dengan bisnis yang bergerak di bidang ekspor–impor.
Dia berharap hasil coaching tersebut dapat berlanjut ke hal-hal yang lebih implementatif, sehingga semangat menjadi eksportir bagi pegiat UMKM dan UKM Aceh lebih mengental.
Karena itu, Iskandar berharap, melalui Coaching Program for New Exporter yang diselenggarakan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) ini, akan memantik semangat pegiat UMKM dan UKM Aceh agar menjadi eksporter, sehingga melahirkan lebih banyak para eksporter baru di Serambi Mekkah. Dengan demikian potensi strategis Aceh dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Jika menilik ke belakang, emas yang melekat di Monas dan pesawat Seulawah RI I dan II bantuan masyarakat Aceh itu adalah bentuk kemakmuran Aceh melalui perdagangan internasional. Sebab, kata Iskandar, sebenarnya masyarakat Aceh sudah terbiasa bertarung di kancah perdagangan internasional.
“Maka itu, mari kita kembali bertarung dan mengembalikan kejayaan perdagangan internasional kita melalaui export,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil DJKN Aceh Syukriah, menyampaikan kegiatan ini merupakan langkah awal untuk memajukan perekonomian Aceh melalui export, dengan begitu masyarakat akan memiliki kemandirian dalam membangun perekonomian di Aceh.
“Mudah-mudahan langkah awal ini menjadi jalan untuk kemajuan perekonomian masyarakat Aceh ke depan,” ujar Syukriah seperti dilansir AcehHerald.com dari Biro Adpim Setda Aceh, Selasa (29/3/2022).
Penulis M Nasir Yusuf




















