BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Kegagalan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh era Pelaksana Tugas (Plt) Tgk Anwar Ramli melaksanakan Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa (Musorprovlub) KONI Aceh, disesalkan jajaran Pengprov Cabor. Mereka mengaitkan hal itu dengan macetnya konsistensi pembinaan dan peningkatan prestasi atlet.
Kegagalan Musorprovlub KONI Aceh membuat atlet Aceh gagal mengikuti event nasional; seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) Beladiri di Kudus serta Pelaksanaan Pra PORA bagi puluhan cabor yang belum dilaksanakan. “Ini benar benar memprihatinkan dan berdampak langsung kepada atlet, terutama keikutsertaan pada event local dan nasional. Seharusnya ini tak perlu terjadi, karena terkesan ada pihak menegakkan benang basah,” kata Kang Yayan dari Pengprov Tarung Derajat.
Bagi Cabor Tarung Derajat yang pada PON ke-21 sukses meraih dua emas (Garang Putra 3 dan Garang Putri 2), 3 perak dan 7 perunggu, saat ini sedang mempersiapkan diri secara intensive untuk ikut PON Beladiri yang dilaksanakan di Kudus, mulai tanggal 11 September 2025. “Sesuai kuota yang disediakan, kami membawa 8 atlet. Kita optimis mengulang prestasi seperti di PON yang lalu. Namun kini bisa jadi semua kandas di tengah jalan, karena gagalnya pelaksanaan Musoprprovlub hingga kepengurusan KONI Aceh di bawah status Plt berakhir,” kata Kang Yayan.
Sementara Sarwan yang juga guru besar Muaythai yang juga pengurus Pengprov Muaythai Aceh yang dihubungi secara terpisah mengatakan, kegagalan Musorprovlub KONI Aceh benar benar hal yang membuat miris. Menurutnya, semua itu bermuasal dari ego yang tak seharusnya dipertontonkan, dengan dalih yang tak jelas dan terkesan dibuat-buat. Masalahnya, hal itu berdampak luas, serta jauh dari nilai nilai sportivitas dalam dunia olahraga. “Seharusnya ini tak boleh terjadi, karena mencederai komitmen KONI Aceh dalam upaya terus meningkatkan prestasi atlet. Buktinya dengan gagalnya Musorprovlub, nyaris tak terkejar waktu untuk persiapan ikut PON Beladiri. Selain itu, juga terhambatnya pelaksanaan Pra PORA. Benar benar miris dan sangat memprihatinkan,” kata Sarwan yang akrab disapa Gubes itu.
Muaythai mendulang tiga medali emas di PON ke-21, yaitu dari Nomor Elite 54 Kg Putra, Elite 60 Kg Putri dan Seni Aerobic Putra. Atas dasar itu Gubes mengajak semua pihak untuk berpikir jernih dan menjauhkan tendensi demi kelanjutan prestasi dan prestise olahraga Aceh ke depan. “Program ke depan juga seleknas SEA Games dan dari situ kita bisa tahu kekuatan lawan yang sebenarnya, dan ini adalah peluang untuk menuju prestasi emas di PON NTT. Dengan kondisi KONI Aceh saat ini, tentu hal itu bisa menjadi stagnan,” kata Sarwan.
Sementara Husaini dari Pengprov Anggar yang dihubungi secara terpisah mengatakan, kegagalan pelaksanaan Musorproblub KONI Aceh secara langsung menggambarkan ketidakkonsistenen pengurus dalam mengelola KONI Aceh. Padahal secara jelas Rakerprov telah mengamanatkan pelaksanaan Musorprovlub untuk kelancaran operasional KONI Aceh dan pembinaan prestasi atlet Aceh secara berkrlanjutan. Namun nyatanya hingga batas waktu berakhir dan telah diperingatkan berkali kali oleh KONI Pusat, Musorprovlub KONI Aceh tetap tak terlaksana.
Anggar adalah salah satu Cabor pendulang emas terbanyak untuk Aceh di PON ke-21. Dari ajang keterampilan ‘laga senjata pedang’ itu, Aceh meraih 4 emas 2 perak dan empat perunggu. KItulah prestasi Aceh terbesar di Cabor anggar selama PON berlangsung di negeri ini. Dengan kondisi stagnasi seperti saat ini, cabor olahraga dengan sendirinya ikut stagnan. “Ibaratnya, kalau induk tak bergerak maka anak pun ikut tak bergerak, termasuk pelaksanaan event seperti Pra PORA. Kalau begini siapa yang disalahkan,” tandas Husaini.
Gagal Ikut PON Beladiri
Sementara Wakil Ketua II KONI Aceh Bidang Pembinaan Prestasi, Bachtiar Hasan, mengatakan, akibat kegagalan pelaksanaan Musorprovlub KONI Aceh, maka Aceh hampir dapat dipastikan gagal mengirimkan atletnya untuk berlaga di ajang {PON Beladiri yang berlangsung di GOR Djarum Arena Kabupaten Kudus Jateng, 11 s/d 26 Oktober 2025.
Menurut Bachtiar yang juga Ketua Pengprov PASI Aceh itu, kepengurusan KONI saat ini akan berakhir Selasa (30/09/2025) dan terhitung tanggal 01 Oktober 2025, KONI Aceh akan dipimpin oleh pengurus caretaker. Seperti regulasi yang ada, caretaker tidak bisa melakukan pencairan dana operasional. Karenanya, untuk operasional normal KONI Aceh, harus segera dilakukan Musorprovlub, agar regulasi organisasi bisa berjalan sesuai SOP.
Dalam kondisi itu, jalan satu satunya adalah menyegerakan Musorprovlub KONI Aceh oleh caretaker. Jika itu berlangsung di bawah tanggal 05 Oktober 2025, masih ada peluang untuk keikutsertaan Aceh di ajang multievent PON Beladiri. “Akan tetapi hal itu akan terasa sulit terwujud, karena pengurus caretaker juga perlu sedikit waktu untuk melakukan konsolidasi internal, sementara PON Beladiri juga butuh persiapan administrative hingga proses pencairan dana,” kata Bachtiar.
Hal senada menurut Bachtiar juga akan menimpa cabor-cabor yang belum ikut ajang Pra PORA, karena juga butuh persiapan administrative di KONI Aceh. Sejauh ini hanya beberapa cabor yang telah menuntaskan tahapan Pra PORA, yaitu Pengprov PSSI Aceh dan Porlasi Aceh. Sebagaimana diketahui, keduanya adalah Cabor yang menggugat KONI Aceh ke Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia (BAKI) ,yang menjadi salah satu dalih pengurus Plt KONI Aceh tak mau melaksanakan Musorprovlub. “Kedua cabang itu telah selesai tahapan Pra PORA, sementara cabang lain masih terombang-ambing nasibnya, karena Musorprovlub gagal terlaksana. Kita berharap event Pra PORA tetap terlaksana sesuai jadwal yaitu awal Nopember 2025, karena itu terklait langsung dengan ketepatan jadwal pelaksanaan PORA di Aceh Jaya,” kata Bachtiar.





















