Money Charge Tutup, Bisnis Pariwisata Rumahkan Karyawan

BANDA ACEH -ACEHHERALD.com Perdagangan valuta asing di Banda Aceh terhenti. Perusahaan Money Charge terpaksa menutup usahanya. Para pengusaha yang bergerak di bisnis pariwisata terpaksa merumahkan sementara karyawannya. Sampai kapan? Umar Machtub, Wakil Ketua DPD Astindo Aceh kepada Acehherald.com, Sabtu (4/4/2020) mengaku kelesuan ini belum jelas kapan berakhirnya? Yang pasti dengan mewabahnya corona yang dikenal dengan … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Zulkifli Harun alias Zul Sotek

BANDA ACEH -ACEHHERALD.com

Perdagangan valuta asing di Banda Aceh terhenti. Perusahaan Money Charge terpaksa menutup usahanya. Para pengusaha yang bergerak di bisnis pariwisata terpaksa merumahkan sementara karyawannya. Sampai kapan? Umar Machtub, Wakil Ketua DPD Astindo Aceh kepada Acehherald.com, Sabtu (4/4/2020) mengaku kelesuan ini belum jelas kapan berakhirnya?

Yang pasti dengan mewabahnya corona yang dikenal dengan virus baru Covid-19 yang pertama ditemukan di Wuhan, China, akhir tahun 2019, kini telah menjadi pandemi dan telah merenggut nyawa ribuan manusia di seluruh dunia.

Karenanya, para pelancong yang selama ini masuk dan keluar Aceh, juga untuk sementara tidak beraktivitas. Akibatnya,  putaran mata uang asing seperti dolar AS, Ringgit Malaysia, atau Dolar Singapura tak lagi berputar.

Sebuah perusahaan tertua yang menggeluti bisnis valuta asing di Banda Aceh, PT Tuka Peng, bahkan sepekan yang lalu  resmi menghentikan operasionalnya sementara. “Kami sejak ada larangan turis masuk Aceh sementara, sudah merasakan geliatnya putaran bisnis valuta asing mulai melamban,’ kata Zulkifli Harun saat ditemui Acehherald.com di sela-sela acara peduli ISEI Cabang Aceh untuk mahasiswa yang terimbas Covid-19  di Kopma Unsyiah Darussalam.

Umar Machtub

Diakui, pada tahap awal, pihaknya memang coba untuk bertahan. Tapi, dengan semakin pandeminya Covid-19, dan Aceh memberlakukan jam malam, ternyata upaya untuk bertahan tidak berhasil. Dan bisnis Tuka Peng terpaksa dihentikan sementara.

Owner PT Tuka Peng, Zulkifli Harun yang akrab disapa dengan Zul Sotek kepada Acehherald.com mengharapkan kondisi ini segera berakhir. Pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) cabang Aceh itu mengaku bisnis pariwisata di Aceh baru saja booming. Tapi sudah harus berhenti. “Kasian semua pihak yang selama ini konsen mendukung kemajuan Aceh,” katanya.

Baca Juga:  Nova Ajak Pengusaha Australia Berinvestasi di Aceh

Senada dengan Zul Sotex, Wakil Asosiasi Travel Indonesia (Astindo) Aceh, Umar Machtub yang dihubungi Acehherald.com, Sabtu (4/4/2020) juga mengatakan hal yang sama. Sejumlah perusahaan yang bergerak di bisnis tour dan traveling kini terpaksa merumahkan karyawannya. “Bisnis tiketing tidak jalan, pemanduan wisata tidak ada, ya semua berimbas,” kata Umar Machtub yang juga dikenal pendiri DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Aceh.

Menurut Umar, kecuali tidak ada tamu dari luar negeri yang harus dihandel oleh kawan-kawan pengusaha pariwisata, kini wisatawan nusantara dan tamu lokal juga sedang tidak ada. Tidak ada satu bisnis pariwisata yang bergerak.

Sehingga Pandemi, Covid-19 ini, tidak hanya mematikan usaha tour and travel, tapi juga menghantam hampir semua bisnis yang bergerak di sektor pariwisata, perhotelan, penerbangan, bus pariwisata, restoran hingga ke pedagang sovenir.  Ya termasuk juga bisnis valuta asing, ujar Umar Machtub yang merupakan awner Ghara Menara Tour and Travel.

 

Penulis : M Nasir Yusuf

Berita Terkini

Haba Nanggroe