BLANGPIDIE I ACEH HERALD – Bangunan Meuligoe Bupati Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), bisa menjadi ikon daerah. Kontruksinya megah dan indah, malah di bagian atap dihiasi kubah ala white house di Washington DC.
Dengan konsep landscap dalam pelukan alam, rumah dinas kepala daerah yang berpenduduk 153 ribu jiwa lebih itu dibangun di lokasi ‘tersembunyi’ masuk wilayah Desa/Gampong Lhueng Tarok Kecamatan Blangpidie, Abdya.
Bangunan Pendopo Bupati dicat putih secara total itu berdiri megah di bantaran Krueng (Sungai) Beukah, salah satu aliran sungai besar di Abdya yang membelah wilayah Kecamatan Blangpidie.
Keberadaan pendopo yang mentereng tersebut jauh dari rumah-rumah penduduk. Akses jalan dari dan ke lokasi harus melewati persimpangan jalan di lokasi antara jembatan rangka baja Krueng Beukah dengan bangunan Masjid Agung Baitul Ghafur Abdya.
Jembatan rangka baja Krueng Beukah berada pada lintasan ‘Jalan Guhang’ atau jalur alternatif dari Kota Blangpidie menuju Simpang Cot Manee, Kecamatan Jeumpa atau arah menuju Nagan Raya.
Akses jalan dari dan ke bangunan Meuligoe Bupati Abdya dari persimpangan jalan sekitar 900 meter, dengan kondisi permukaan jalan masih berbatu, dan tentu kurang terawat. Karena selama ini tak difungsikan sebagai kediaman orang nomor satu Abdya, kecuali hanya untuk Kantor Disdik Abdya.
Meuligoe ala white house itu seperti teronggok di atas lahan 4 hektare (ha) yang semula merupakan lahan pertanian milik masyarakat yang kemudian dibebaskan Pemkab Abdya. Sementara bangunan meuligoe berukuran 90 x 80 meter yang dibangun pada masa Bupati Abdya dijabat Jufri Hasanuddin.
Tidak tanggung-tanggung anggaran yang terserap mencapai Rp 24,7 miliar rupiah, bersumber dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Kabupaten (APBK) Abdya tahun 2015 dan 2016.
Meuligoe tersebut diresmikan Bupati Jufri Hasanuddin tanggal 6 Juli 2017, sekitar satu bulan menjelang berakhir masa jabatan periode 2012-2017, dengan kondisi bangunan belum rampung 100 persen, karena masih butuh finishing di sana sini.
Dikutip penjelasan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Abdya saat itu, bangunan meuligoe dengan luas 4.425 M2 itu terdiri dari bangunan depan merupakan ruang tamu dan ruang kerja kepala daerah (public service area).
Di bagian kiri merupakan ruang keluarga atau tempat tinggal bupati dan keluarga (private area). Bagian kanan merupakan ruang inap tamu (guest room area). Ruang makan tamu dan acara berada di bagian belakang, dan di bahagian tengah terdapat bangunan terbuka sebagai tempat Bupati melayani masyarakat yang bertamu.
Pembangunan rumah dinas kepala daerah tersebut direncanakan meliputi 20 item. Gedung utama akan didukung sarana dan prasarana lengkap seperti pagar, mushalla, ruang inap tamu, parkir. Kemudian taman, sarana olahraga, pos keamanan, sarana jalan, jaringan air bersih dan instalasi limbah.
Jika selesai dibangun seluruh item tersebut akan menyerap anggaran total tembus Rp 60 miliar rupiah (rencana saat itu), sebuah angka sangat fantastis.
Sayangnya meuligoe yang begitu megah setelah diresmikan pada 6 Juli 2017 tidak difungsikan sebagaimana mestinya hingga Bupati Jufri Hasanuddin berakhir masa jabatan pada 14 Agustus 2017.
Bupati Abdya saat itu Jufri Hasanuddin gagal menempati meskipun telah diresmikan, dikarenakan belum lengkap fasilitas pendukung. Seperti air, listrik, termasuk areal seluas 4 ha itu belum seluruhnya dibangun pagar beton, terutama di bagian depan bangunan meuligoe yang menghadap langsung bantaran Krueng Beukah.
Demikian juga bangunan dapur di bagian belakang baru selesai pengecoran tiang, sehingga sebagian bangunan sisi belakang masih terbuka. Karena belum rampung 100 persen.
Mengaku risih

Bangunan Pendopa Bupati Abdya yang mentereng di lokasi bantaran Krueng Beukah, Desa Lhueng Taroek, Kecamatan Blangpidie, dibangun tahun 2015-2016, namun tidak difungsikan hingga memasuki September 2022.
Memasuki kepemimpinan Bupati Akmal Ibrahim SH Masa Jabatan 2017-2022, meuligoe tersebut juga tidak difungsikan.
Setelah dilantik sebagai Bupati Abdya pada 14 Agustus 2017, Akmal Ibrahim ketika berkunjung ke lokasi saat itu mengaku risih jika gedung yang monumental itu dijadikan sebagai meuligoe bupati.
Alasannya, sederhana karena terlalu mewah bak seperti bangunan meuligoe raja, sehingga Akmal mengaku risih untuk ditempati sebagai rumah dinas. Jika difungsikan sebagai kediaman bupati, menurut Akmal akan menyerap anggaran operasional yang sangat besar.
Alhasil, bangunan yang sudah diresmikan itupun menjadi terlantar, tidak terawat. Selain kotor karena menjadi tempat hewan ternak berteduh, juga ada material bangunan yang dicuri. Dengan pertimbangan untuk menyelamatkan aset daerah, Bupati Akmal Ibrahim akhirnya menfungsikan bangunan untuk Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Abdya hingga sekarang.
Darmansah ingin fungsikan sesuai peruntukan
Pasca Akmal Ibrahim yang berakhir tanggal 13 Agustus lalu, dilanjutkan H Darmansah yang dilantik menjadi Penjabat (Pj) Bupati Abdya pada 14 Agustus 2022 lalu.
Dalam pertemuan silaturrahmi dengan seluruh elemen masyarakat di Meuligoe bupati tanggal 23 Agustus (malam), Darmansah mengutarakan rencananya untuk mengfungsikan kembali meuligoe Bupati Abdya di bantaran Krueng Beukah.
Kepala Sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh itu meninjau lokasi pada 27 Agustus didampingi Plt Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Khalid ST, Plt Kepala Dinas Kominsa, Mawardi SH, Kabag Umum Sekdakab, Alman Safriandi SP, Kabag Protokol dan Kominikasi Pimpinan Sekdakab, Indra Darmawan SE, termasuk Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, H Jauhari SPd.
Darmansah secara terbuka menyatakan siap untuk menfungsikan kembali Meuligo, dan saat tiba di lokasi, secara jujur pria itu tidak menyangka jika bengunan untuk rumah dinas bupati Abdya itu dibangun sangat besar. “Bangunan ini layak sebagai ‘meuligoe gubernur,” katanya.
Dipandu sejumlah penjabat yang hadir di lokasi, Darman meninjau satu persatu ruangan besar disertai penjelasan peruntukan setiap ruangan pendopo.
Darman juga sempat melihat langsung lahan lokasi pendopo seluas 4 ha, sebagian besar belum dibangun pagar pengaman. Saat ini lahan kosong itu digarap masyarakat sebagai lahan menanam beragam jenis sayur-sayuran.
Tidak kurang 15 petani menggarap lahan kosong kompleks bangunan pendopo, baik bagian belakang, sisi kanan kiri, termasuk sebagian halaman depan, tampak tumbuh subur tanaman jagung, cabai, kangkung, bayam dan tanaman lainnya. Kondisi gedung juga butuh rehab berat, karena terjadi kerusakan di sana sini.
Pj Bupati Darmansah mengaku untuk merenovasi meuligoe tersebut butuh anggaran lumayan besar, termasuk untuk meningkatkan akses jalan dari dan ke lokasi tersebut. “Oke lah kita renovasi. Pertanyaannya, apakah Bupati definitif nantinya bersedia menempati. Kalau saya kan sebentar,” ungkapnya.
Namun, Darman berupaya merenovasi dengan harapan Bupati Abdya ke depan bersedia tinggal di rumah dinas tersebut. Mudah-mudahan Pj Bupati Abdya bisa memfungsikan bangunan yang telah menyedot dana setidaknya belasan miliar uang rakyat itu, yang kini terkesan mubazir.
Penulis: Zainun Yusuf (Aceh Barat Daya)



















