Menapak Sejarah Senior 1993, Menari di Atas Bara Api

SIANG ini, Kamis (13/10/2021) sekira pukul 13.00 WIB atau pukul 15.00 WIT, Stadion Mandala, Jayapura akan menjadi saksi dari perhelatan puncak PON XX Papua. Bukan ceremony penutupan pada petang nanti, namun perhelatan yang paling ditunggu para maniak bola tanah air adalah final cabang sepakbola, sebuah cabang yang paling prestisius sepanjang sejarah kejuaraan olahraga multi event. … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Rencong Muda Aceh sejenak memastikan lolos ke final, usai menekuk Jatim 2-1. Foto Ist

SIANG ini, Kamis (13/10/2021) sekira pukul 13.00 WIB atau pukul 15.00 WIT, Stadion Mandala, Jayapura akan menjadi saksi dari perhelatan puncak PON XX Papua. Bukan ceremony penutupan pada petang nanti, namun perhelatan yang paling ditunggu para maniak bola tanah air adalah final cabang sepakbola, sebuah cabang yang paling prestisius sepanjang sejarah kejuaraan olahraga multi event. Apakah Olimpiade, Asiang Games, SEA Games atau bahkan kejuaraan multi event tingkat kabupaten sekalipun.

Cabang sepakbola seakan menjadi ritual untuk pertaruhan martabat, harga diri serta hal hal yang sifatnya prestise lainnya. Meraih status sebagai juara umum, tanpa membawa pulang medali emas cabang sepakbola, prestasi serasa hambar. Sebaliknya walau hanya merengkuh emas cabang sepakbola, seakan sudah menundukkan medan laga sebenarnya. Apa boleh buat, beban anak anak bola jauh lebih berat, karena menyangkut ekspektasi seluruh rakyat.

Siang ini, pasukan besutan Fakhri Husaini melakoni peran itu di Mandala, Jayapura. Menjajal skuad tuan rumah di partai puncak. Terasa sesak, ketika kita menyadari ini adalah partai ulangan tahun 1993 di PON Jakarta. Kala itu kita hancur lebur hanya gara gara faktor non teknis internal tim. Kali ini lawan memang memiliki segalanya, faktor tuan rumah, generasi emas serta beribu keuntungan non teknis lainnya. Namun yang perlu diingat, kali ini allenatore Fakhri telah menyiapkan segalanya, terutama menyangkut soliditas tim. Karenanya, walaupun kecil, peluang tetap ada.

Tahun 1993, Dahlan Jalil dkk menuju PON setelah hanya mengutip tiket melalui babak playoff hingga tampil sebagai juara tiga dan masuk pentas PON.  Namun siapa sangka mereka akhirnya melesat hingga ke partai final.Tahun ini Akhirul Wahdan dkk malah datang dengan status juara Porwil, setelah menundukkan tuan rumah lewat gol tunggal dari heading Azirul kala injury time. Belakangan Bengkulu gagal berangkat ke Papua.

Baca Juga:  Wagub Banten Berharap Wartawati Lebih Fokus Angkat Persoalan Perempuan dan Anak

Medali emas di Bengkulu itulah yang merubah nasib tim PON Aceh. Dari semula hanya dianggap ‘kelas teri’ oleh para pengambil keputusan di KONI Aceh, atau bukan cabang prioritas, akhirnya berubah dan dianggap prioritas dengan hasil di Bengkulu. Seperti diakui Ketua Asprov PSSI M Nazir Adam. Karena sudah cabang prioritas itulah, mantan pelatih timnas U-16 dan U-19 Fakhri Husaini dipanggil pulang ke Aceh untuk menangani tim. Karena pihak KONI Aceh tiba tiba membebani pasukan muda dari Tanah Rencong itu masuk babak final.

Ya …Reza Rizki dkk mengulang nasib seniornya Tarmizi Rasyid dkk di PON 1993. Bila Tarmizi datang melalui koridor play off, maka Reza Rizki cs muncul dengan status sebagai ‘pendatang’ yang tak dikehendaki dalam kafilah. Mereka ‘tak dianggap’ ketika dengan tertatih menuju pentas Porwil Bengkulu. Namun kedua tim beda generasi itu, mampu menerobos hingga partai final. Lawannya juga sama, Papua dan lawan di semifinal juga sama, Jatim.

Secara lebih general, nasib Tim PON Aceh sama dengan The Dynamit Denmark di Piala Eropa 1992. Peter Schemeichel dkk adalah ‘pendatang haram’ karena bukan tim yang lolos kualifikasi. UEFA memblaclist Yugoslavia yang sedang berkonflik dan lalu mengundang Denmark untuk mencukupkan quota. Yang terjadi adalah, Stadion Gottenberg jadi saksi terbunuhnya para jawara oleh The Dynamit, hingga pada partai final, Olle Gunnar Solkjaer dkk mnghadirkan mimpi buruk untuk Deer Panzer Jerman yang dikenal sebagai Staying Power, 2-0 pada laga final.

Ingatkah Anda dengan tragedi Bello Horizante pada piala Dunia 2014 lalu di Brazil. Tragedi yang kemudian disebut dengan tragedi Maneirazo. Tampil dengan line up terbaik dunia kala itu, serta di depan public sendiri. Brazil yang diperkuat oleh Oscar, Bernard dkk dan tanpa Neymar yang cedera diluluhlantakkan oleh Jerman 7-1. Inilah skor kekalahan terbesar Brazil sepanjang masa.

Baca Juga:  Bola dan Lapangan Perlu Disterilkan Saat Kompetisi Dilanjutkan

Sebelumnyam di tahun 1950, Brazil yang menjadi tuan rumah dipermak 2-1 oleh tamunya dalam final sepakbola Piala Dunia tahun 1950 di Stadion Maracana. Drama itu kemudian dikenang sebagai tragedi Maracanazo.

Masih juga dalam pentas Piala Dunia tahun 1998, ketika pada babak final di Stadion Stade de France 12 Juni 1998, Brazil yang kala itu difavoritkan sedunia, dikubur dengan skor telak 3-0 lewat dua gol Zidane dan Immanuel Petit. Sampai sampai Ronaldo, mega star Brazil kala itu dianggap terkena sihir.

Sementara itu sejarah juga mencatat ketika tim debutan Keledai Terbang Chievo Verona di Liga Italia dan Leicester City di liga Primer  menjungkirbalikkan pasar taruhan William Hill saat mereka yang hanya tim debutan membunuh raksasa di liga utama masing-masing. Dalam konteks lokal, bukankah Sang Abang, Persiraja melesat ke pentas Liga 1 setelah sempat dipandang sebelah mata oleh rekan tarung mereka di Liga 2…?

Sekali lagi, memang ibarat menari di pentas yang penuh bara api. Akan tetapi kesempatan untuk Akhirul Wahdan dkk tetap ada. Datang dengan status underdog, tak mesti memadamkan spirit tarung dan daya juang. Toh walaupun mereka ditekuk di partai puncak, para Rencong Muda masih bisa menegakkan kepala saat keluar dari Stadion Mandala, karena mereka telah memenuhi ekspektasi KONI Aceh untuk masuk final. Walau semula hanya sebagai tim yang tak dianggap.

Berita Terkini

Haba Nanggroe