BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Mantan Pemegang Saham Pengendali Bank Aceh sekaligus mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf serta mantan Komisaris Utama (Komut) Bank Aceh, Thantawi Ishak, sepakat jika Dirut Bank Aceh ke depan adalah sosok yang mumpuni dari sisi kompetensi, serta memahami betul karakter operasional Bank Aceh dan juga menyangkut kearifan lokal di Bumi Aceh.
Hal itu terungkap saat keduanya dihubungi acehherald.com secara terpisah, Kamis (23/02/2023) petang tadi. Menurut Irwandi, pemahaman karakter manajemen dan kearifan lokal itu adalah hal yang paling utama dan tak bisa ditawar lagi. Karena ini menyangkut nasib dan eksistensi Bank Aceh ke depan, dan yang jauh lebih penting, juga karena posisi PSP saat ini yang sebenarnya ‘adhock’. Sehingga semua kemungkinan bisa saja terjadi saat PSP nantinya akan berposisi definitif. “Satu yang perlu juga diingat, bahwa nama nama yang kini beredar telah melalui proses di Otoritas Jasa Perbankan (OJK), namun faktor pengenalan karakter manajemen secara penuh serta dari track tour of duty juga harus diperhatikan, hingga tak terjadi kesungkanan dalam proses komando manajerial,” kata Irwandi yang juga Ketua Umum Partai PNA itu.
Jangan Sampai Terjadi Stagnasi Manajemen
Sementara itu Thantawi Ishak mantan Komisaris Utama (Komut) Bank Aceh sekaligus mantan Sekda Aceh secara terpisah mengatakan, semua pihak harus menyadari posisi Bank Aceh sebagai aset rakyat Aceh. Karena dari sisi rasio kecukupan modal, Pemerintah di Aceh hanya menyetor Rp 1,8 triliun, selebihnya dalah uang milik rakyat Aceh. “Atas dasar ini saya berharap semua berkomitmen untuk membangkitkan Bank Aceh, yang ujung ujungnya juga berperan untuk pembangunan Aceh, serta mensejahterakan rakyat Aceh. ini yang perlu dipahami semua pihak terkait suksesi kepemimpinan Bank Aceh Syariah saat ini,” tutur Thantawi.
Menurut Thantawi, sosok Dirut Bank Aceh bukan hanya sekadar punya kemampuan atau skill perbankan. Namun juga memahami betul kearifan lokal, karena Bank yang kini bertranformasi menjadi bank pembiayaan yang masiv itu, membutuhkan skil khusus menyangkut kearifan lokal untuk mendukung kemampuan berkomunikasi.
Pada sisi lain Thantawi juga mengingatkan perlunya pola tour of duty dalam menetapkan sosok leader dalam kancah manajemen apapun, termasuk Bank Aceh, sebagai unit usaha perbankan yang memiliki kekhususan tersendiri. Biasanya, perjalanan karir itu berjalan seiring pematangan emosional dan kemampuan dalam manajerial sebuah perusahaan. “Kalau tidak, akan terjadi kondisi ‘meutangah’ dalam menjalankan manajerial perbankan. Karena yang bersangkutan akan berhadapan dengan para seniornya.
Dalam strata manajemen Bank Aceh, kepala cabang saja, dimulai dengan Type B, lalu meningkat ke Type A, setelah itu cabang utama, selanjutnya barulah pemimpinan divisi, dari situ mencapai level direksi hingga akhirnya pada posisi Dirut. Jika seseorang merangkak dari Kepala Cabang Type B, untuk menjadi dirut akan melangkahi sedikitnya empat level. Kondisi inilah yang akan memunculkan kesungkanan manajemen. “Memang figur yang akan ditetapkan oleh para pemegang saham dalam forum RUPS Bank Aceh pekan mendatang, telah melalui saringan kompetensi oleh OJK, namun tetap saja jenjang urut kacang seharusnya patut jadi perhatian, karena menyangkut integrity dan kewibawaan manajemen. Selain itu juga tentunya dibutuhkan kemampuan memahami kearifan lokal secara kental untuk eksistensi dan soliditas internal serta eksternal Bank Aceh.





















