Mangat Na Meurasa Tan

Namun apa yang terjadi di ‘Estadio’ Dimurthala benar benar membuat miris dan malu kita sebagai tuan rumah. Pentas sepakbola kok rasanya seperti panggung sandiwara Sinar Harapan dalam lakon Gara Gara Honda Kijang yang ada Toke Sofyan serta Cutmaruhoi di sana.
Sebuah sisi Laga Aceh vs Sulteng. Foto Haman-7.com

Iklan Baris

Lensa Warga

INILAH sebuah pepatah Aceh yang layak kita sandangkan untuk kemenangan anak anak Aceh, Mahyuddin dkk atas kesebelasan Sulteng, dalam laga perempatfinal Cabor Sepakbola PON XXI yang penuh drama, Sabtu (14/09/2024) malam ini, di Stadion Dimurthala, Lampineung Banda Aceh. Mangat na meurasa tan. Ya….enak nya memang ada, tapi tak ada rasa atau hambar. Sebuah penggambaran ironi dari perasaan senang namun terasa hampa bahkan yang ada nelangsa.

Laga antara tuan rumah Aceh dengan tamunya Sulteng benar benar menjadi tontonan miris dalam sebuah potret sportitivitas yang seharusnya kita junjung bersama. Adalah wajar jika sebagai tuan rumah kita mendapatkan sedikit keistimewaan. Dan itu sudah menjadi rahasia umum di mana saja, walau kita menjerit mendewakan fair play dan menjunjung sportivitas. Itu hanya sloganistis semata. Dan itu sudah dianggap jamik dimana mana.

Namun apa yang terjadi di ‘Estadio’ Dimurthala benar benar membuat miris dan malu kita sebagai tuan rumah. Pentas sepakbola kok rasanya seperti panggung sandiwara Sinar Harapan dalam lakon Gara Gara Honda Kijang yang ada Toke Sofyan serta Cutmaruhoi di sana.

Laga yang semula memang layak ditonton itu berlangsung normal hingga babak pertama usai dalam durasi 45 menit. Tanpa diduga gawang M Safrijal dibobol oleh Wahyu Alman Poru di menit ke-24. Gol yang benar benar menyentak. Aceh yang datang dengan status tuan rumah, selain itu finalis cabor sepakbola di PON Papua tahun 2021. Sementara Sulteng hanya tim Gurem yang setelah tiga kali gagal melewati kualifikasi PON, akhirnya tahun ini sukses masuk gelanggang.

Gol dari tim yang sepertinya dipandang sebelah mata itu, membuat Samuel dkk goyah dan menjurus down. Hingga akhir babak pertama kedudukan tetap 1-0 untuk tim Sulteng. Memasuki babak kedua, belasan ribu pasang  mata termasuk yang menyaksikan secara live dari kanal televisi serta youtube mulai menyaksikan drama yang kadang membuat sakit perut menahan ketawa miris.

Baca Juga:  Gegara Harta Warisan, Abang Adik Bacok-bacokan

Di menit 74 wasit Ahmad Hafidh Ilmi melambaikan kartu merah kepada Wahyu dengan dalih melakukan pelanggaran, karena melakukan protes Wahyu dilambaikan kartu kuning kedua hingga harus keluar karena terakumulasi kartu kuing.

Drama berlanjut ketika wasit melambaikan langsung kartu merah kepada M Akbar yang dinilai melakukan pelanggaran berat. Anehnya dari tayangan berulang-ulang, pelanggaran berat itu seperti tak ditemukan. Suhu pertandingan makin panas dan emosi tinggi tim tamu. Pelatih Sulteng Zulfikar Syukur mengamuk di sintelban memprotes wasit.

Di tengah situasi laga yang makin tak nyaman untuk ditonton, wasit memberikan penalty untuk tuan rumah ketika Mahyudin dianggap dijatuhkan di kotak 16. Tayangan berulang ulang membuktikan jika Mahyudin tak tersentuh dan terkesan ‘menjatuhkan’ diri alias diving. Wasit menunjuk titik putih, Zulfikar menarik pemainnya keluar.

Setelah nego di luar lapangan, Zulfikar melepaskan lagi pemainnya masuk lapangan dan langsung menghadapi penalty yang dieksekusi Herkules. Namun antisipasi kiper Rexy yang tampil luar biasa malam ini, membuat gawang Sulsel tetap tak bobol.

Lagi lagi drama berlanjut, kali ini dengan alasan handsbal wasit kembali menunjuk titik putih. Penalti lagi untuk tuan rumah. Saat bergegas menuju titik putih itulah, nahas menimpa wasit Ahmad Hafizd. Diduga karena kekecewaan memuncak, full back Rizki Saputra membogem wasit Ahmad hingga tersungkur di lapangan.

Dua unit ambulans masuk ke lapangan, seiring keluarnya kembali pasukan muda Sulteng. Lagi lagi  terjadi nego, dan Sulteng masuk lagi ke lapangan dan langsung eksekusi penalty oleh Akmal Juanda di menit 125 dalam waktu reguler. Akhirnya tembakan penalti itu berhasil menyamakan angka. Yaaa… penyamaan angka setelah tiga pemain Sulteng diekspulso keluar lapagan.

Baca Juga:  Polda Kawal Pengiriman Vaksin ke Wilayah Barat Aceh

Laga lalu dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Zulfikar Syukur lalu lagi lagi menarik pasukannya dari lapangan. Kali ini penarikan permanen dan Sulteng pun dinyatakan kalah WO. Herkules dan kawan kawan melaju ke semifinal melawan Jawa Barat di partai semifinal setelah menang adu penalti melawan tuan rumah Sumatra Utara dengan skor 5-4.

Laga itu tak urung memunculkan riuh rendah komentar miring di Medsos, ada yang mengatakan, kemenangan itu menyisakan pil pahit kpada skuad Aceh, padahal itu bisa jadi karena pekerjaan non teknis oknum. Sebuah komentar lagi justru lebih pahit, “Seharusnya kita berterimakasih kepada wasit yang ‘bersedia menggadaikan’ integritas dan bahkan jiwanya demi Aceh…..

Terlepas dari semua itu, kita memang harus menyikapi lawan secara mendalam serta lebih bijak, karena tak selamanya tim lemah itu selalu lemah. Roda berputar, dan kita tak menyadarinya serta baru apoh apah. Bisa saja tim ayam sayur berubah menjadi batu cadas yang melumat segalanya.

He..he ..he kita akhirnya menang juga bro……..jangan takut sepakbola model begini bukan hanya di PON, di Piala Dunia juga ada, hanya saja kadang tak sevulgar di negeri kita.

Kata Kunci (Tags):
pon xxi, sepakbola, stadion di murthala, sulteng, mahyuddin

Berita Terkini

Haba Nanggroe