
Peristiwa ini diduga terjadi berabad-abad lampau. Tanpa tahun, apalagi tanggal kejadiannya. Tanpa dokumentasi yang bisa diverifikasi. Namun demikian, karena ceritanya sudah melegenda. Bagi masyarakat pedalaman Aceh Tengah peristiwa itu bak sesuatu yang nyata.
Dan kini gua batu yang berada di pinggiran jalan lingkar Danau Laut Tawar pun menjadi salah destinasi wisata yang patut dikunjungi bagi pelancong yang ingin menikmati keajaiban-keajaiban di Dataran Tinggi Gayo. Ini adalah sebuah destinasi religi dan mistis.
Religi karena kerinduan terhadap ibu tidak bisa dielakkan dan kepatuhan terhadap perkataan sang ibunda menjadi sesuatu yang harus dipatuhi. Sedangkan mistis, ya akibat dari lalai terhadap wasiat sang bunda telah menyebabkan sang putri nan jelita berubah menjadi seonggok batu.
Sabtu, 16 November 2019, sebanyak 30 pelaku wisata yang tergabung dalam Fam Trib Aceh Tengah-Bener Meriah menyaksikan wajah Putri Pukes yang telah menjadi batu sedang berdiri di dalam gua seluas lebih dari 8 meter.
Menurut alkisah, pada suatu hari, saat dalam perjalanan menuju ke kerajaan sang suami, Putri Pukes, tak mampu menahan kerinduannya untuk melihat ibu dan ayahanda yang merupakan permaisuri dan raja Lingge yang sangat sayang terhadap putrinya dipersunting oleh raja dari wilayah pesisir utara.
Padahal, sebelum berangkat bersama suami yang juga didampingi dendayang yang menyertai kepergian Sang Putri, Ibunda Putri Pukes sudah mewanti-wanti agar dalam perjalanannya tidak melihat ke belakang. “Kami sangat sayang. Dan kami pun mengakui, engkau pasti sangat merindukan kami. Tapi, dalam kondisi apapun, selama dalam perjalanan kamu ke kerajaan suami, engkau putri tidak boleh melihat lagi ke belakang. Pergilah semoga engkau bahagia,” ujar sang ibu seperti dikisahkan pemandu Iwan di sela-sela kunjungan tim Famtrib Aceh Tengah Bener Meriah di Gua Putri Pukes.
Namun, lanjut Iwan, sang putri ternyata tak mampu menahan rindu terhadap kasih sayang ibu dan ayahanda yang telah membesarkannya. Tanpa di sengaja, Sang Putri Pukes, melupakan pantang. Dia melihat ke belakang. Akibatnya, cuaca yang semua adem-adem saja sepanjang perjalanannya sang putri tiba-tiba berubah menjadi mendung dan sertai dengan gemuruh petir menjilat-jilat Danau Laut Tawar.
Di antara petir dan hujan lebat, perjalanan Sang Putri dan Sang Pangeran tiba-tiba melihat ada satu lubang batu yang menganga di pinggiran bukit. Menghindari hujan yang semakin deras, sang putri dan pangeran bersepakat untuk berteduh di dalam gua tersebut.
Putri dan sejumlah dendayang masuk ke dalam. Sedangkan pangeran menjaga di luar. Setelah beberapa lama mereka berteduh, hujan pun reda. Rombongan sang putri pun ingin melanjutkan perjalanan kembali ke utara.
Saat semua dendayang sudah keluar gua, ternyata Putri Pukes tidak keluar-keluar. Meski sudah berkali-kali dipanggil, sang putri bukan hanya tidak keluar, tapi menjawab pun tidak.
Merasa penasaran, sang dendayang kembali ke gua. Waduh… mereka sangat terkejut ketika melihat sang putri secara perlahan sedang berubah menjadi batu. Mereka tidak sanggup melihat kondisi tersebut. Apalagi sang putri dalam perubahan bentuknya masih mengeluarkan air mata.
Dari tetesan air mata inilah yang telah menyebabkan badan Putri Pukes makin lama makin membesar, kata sang pemandu wisata di Gua Putri Pukes, Iwan kepada sejumlah pelaku pariwisata Aceh dari Banda Aceh, Aceh Besar, dan Langsa di sela-sela mengunjungi Gua Putri Pukes.

Rombongan beranggotakan 30 orang dari berbagai stake holder pariwisata di Tanah Rencong mulai dari Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Aceh, HPI, ASITA, ASPERASPI, dan GENPI sangat menikmati ketika memasuki gua batu sedalam lebih kurang 3 meter dengan luas 8 meter.
Dipandu Ketua ASPPI Aceh, Azwani Awi mereka melakukan foto bersama di dalam gua yang sudah dilengkapi dengan lampu penerangan. Ada yang mengambil suasana foto bareng dengan Putri Pukes yang telah menjadi batu.
Ketua Dewan Pengawas ASPPI Aceh, Akhyar Ibarahim, Waka ASPPI Apri Al Amin dan Muslem Amiren, Sekretaris ASITA Totok Julianto, Pengurus ASPERAPI T Boy, dan sejumlah pengusaha Travel dari Banda Aceh, Aceh Besar dan Langsa, di antaranya Andi Rizal dan Milda mengakui memang banyak obyek wisata yang ada di dataran tinggi Gayo sangat potensial untuk dijual ke turis manca negara.
“Kami siap menjual paket-paket Banda Aceh – Bener Meriah – Aceh Tengah dengan harga khusus. Dan yang harus diketahui, destinasi di Aceh Tengah bukan hanya Gua Putri Pukes. Banyak lainnya, suasana malam yang dingin juga siap menarik untuk turis manva negara,” kata Muslem Amiren yang mengaku sedang menyiapkan paket untuk beberapa tamu yang siap menikmati keindahan Aceh Tengah dan Bener Meriah.
penulis : M Nasir Yusuf


















