SEORANG lelaki muda bergerak dari Gampong Seuneubok Seulimeum memacu sepeda motornya menuju Kota Jantho. Sebuah plastik hitam besar tergantung di sisi sepmor. Hujan gerimis menuju intensitas sedang mengguyur lintas menuju Kota Jantho.
Pria berpostur ceking itu lalu berhenti sejenak pada beberapa tempat dan memasang lembaran poster pada tempat yang memungkinkan. Hujan terus mengguyur, lelaki juga terus bergerak, seakan tak terusik dengan limpahan rahmat dari langit.
Setelah disimak lebih dekat, ternyata ia memasang poster ukuran kalender milik Paslon 01 Pilkada Aceh Besar, Muharram Idris (Syech Muharam)/Syukri A Jalil (Pak Syukri). Ini benar benar operasi dalam senyap. Tak ada konvoi mobil timses, tak ada riuh yel yel atau apapun layaknya sebuah kontestasi politik.
Lelaki yang menolak disebutkan namanya itu mengaku hanya karena rasa kagum dan keinginan untuk terwujudnya perubahan di Aceh Besar, ia rela berhujan hujan untuk memasang poster atau spanduk Comando Independen, nama lain untuk Paslon Syech/Syukri. Tak ada nilai finansial dalam pemasangan poser itu. Semuanya sukarela, dengan tekad Aceh Besar berubah.
Itulah gambaran utuh dari fenomena Paslon Syech Muharram/ Syukri yang menapak kontestasi politik dengan hati dan nyaris menafikan masalah fulus. Keduanya memilih jalur independen juga dengan semangat untuk naik benar benar dari keinginan tulus masyarakat. Ya….menjadi wakil masyarakat, bukan wakil dari Parpol.
Jujur saja, untuk naik dari altar Partai Politik pasangan itu bukanlah anggota–konon lagi–pengurus Parpol di Aceh Besar. Dan sudah bukan rahasia lagi, jika ingin naik tentu harus menyediakan konpensasi finansial. Lebih dari itu, Parpol di Aceh Besar terutama yang memiliki wakil di lembaga parlemen, telah memiliki jago tersendiri, dari internal partai. Praktis Syech/Syukri tak punya perahu politik, hingga memilih dari jalur independen atau perseorangan.
Pilihan itu mendapat kecibir dari berbagai pihak. Banyak sindiran miris untuk Syech/Syukri, hana peu eik bupati meunyoe hana peng (tak usah naik ke bupati jika tak punya uang), hanapue ikat guda dengan beuneung (tak usah mengikat kuda dengan benang) atau hal yang sia sia.
Para penyindir itu melihat Syech Muharram pria kelahiran 10 Oktober 1975 itu seperti orang nekat bahkan diklaim seperti bunuh diri. Bagi Syech kecibir itu malah menjadi motivasi untuknya, dan makin membulatkan tekad untuk maju. Syech Muharram yang juga the real comander dalam masa konflik Aceh saat menjadi Panglima GAM Aceh Rayeuk itu, benar benar ingin membuktikan keteguhan hatinya sebagai seorang prajurit. Hanya ada kata terus maju. No way to return (tk ada kata untuk mundur).
Di tengah masivnya pergerakan dan sosialisasi pasangan lain, Syech/Syukri hanya bergerak perlahan tapi pasti. Jaringan Syech di tataran ‘komando’ tampaknya menjadi modal kuat. Ratusan kombatan itu menyatakan loyal kepada Syech, komandan mereka. Mereka juga ingin melihat Aceh Besar dengan spirit baru serta lebih maju. Geliat yang sama juga pada umumnya masyarakat Aceh Besar.
Comander Muharram tiba tiba mengingatkan kita dengan tokoh revolusioner kelahirab Rosario Argentina Che Guevara dan Lech Walensi si pemasak besi dari Polandia. Rakyat sepakat menginginkan perubahan nyata di Aceh Besar, melalui tokoh yang kuat dari dalam serta punya jaringan keluar. Muharram sengaja menarik Syukri A Jalil sebagai Wakil, selain karena pertimbngan wilayah–Muharam dari wilayah barat–karena Syukri dari wilayah tengah, namun lebih dari itu, jam terbang Syukri di birokrasi pemerintahan Aceh Besar juga tak diragukan lagi. Rakyat sepakat untuk rela bahu membahu tampa melihat sisi finansial untuk mendukung Syech/Syukri di kontestasi Aceh Besar. Tak ada money politic dari Paslon yang embrionya dari rahim rakyat itu. Ia justru makin membumi, karena relawannya betul betul orang yang rela untuk bekerja dengan hati dan nurani. Semuanya karena satu alasan, bangkitnya spirit perubahan.

Dan hasilnya justru melambung jauh di luar ekspektasi. Rakyat selaku pemilik tahta (demoktasi) memberikan suara mayoritas untuk Syech Muharam/Pak Syukri sesuai dengan rekapitulasi KIP di awal penkan ini.
Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Besar T. Khairun Salim, mengatakan, pasangan calon nomor urut satu atas nama Muharram Idris atau Syech Muharram-Syukri memperolehan suara sah terbanyak yaitu sebesar 73.673 suara atau 33,8 persen. Atas perolehan suara terbanyak tersebut, Syech Muharram, dinyatakan terpilih sebagai Bupati Aceh Besar periode 2025-2030.
Sementara pasangan calon nomor urut dua atas nama Mukhlis Basyah-Tgk. Muhammad Jazuli, kata T Khairun, mendapat suara sah sebanyak 55.093 atau 25,3 persen. Kemudian pasangan calon nomor urut tiga atas nama Mawardi Ali dan Irawan Abdullah mendapat suara sah sebanyak 33.485 atau 15,4 persen. Dan pasangan calon nomor urut empat atas nama Musannif dan Sanusi Hasyim, memperoleh suara sah 55.673 atau 25,5 persen.
Lantas apa kata Comander Syech atas hasil Pilkada itu? Bagi kami berdua perjuangan baru dimulai. Sebagai pasangan yang lahir dan diberi amanah dari rakyat, kini saat nya kami menjawab dan memenuhi ekspetkasi rakyat, Dan kami siap mewaqafkan diri kami untuk memberi yang terbaik bagi rakyat Aceh Besar, ujar Syech yang tak dapat menyembunyikan gurat keharuannya.
Lantas kemana pula orang yang menyindir dengan sinonim Hana pue ikat guda deungon beuneung? Hanya Allah yang tahu kemana mereka kini!!





















