Kopi Gayo di Persimpangan Jalan

[divider style=”solid” top=”20″ bottom=”20″] BANDA ACEH | ACEH HERALD SATU satu komoditi andalan Indonesia runtuh di pasar internasional. Setelah sawit yang nyaris ‘game over’ akibat tindakan ‘pembunuhan karakter’ lewat labelisasi ‘palm oil free’ pada produk makanan di Eropa dan Amerika, hingga sempat masuk pasar Indonesia, kini giliran kopi gayo menjadi sasaran selanjutnya. Dengan dalih sedang … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Lahan kopi gayo yang sedang dipanen. (Dok. Foto Ist)

[divider style=”solid” top=”20″ bottom=”20″]

BANDA ACEH | ACEH HERALD

SATU satu komoditi andalan Indonesia runtuh di pasar internasional. Setelah sawit yang nyaris ‘game over’ akibat tindakan ‘pembunuhan karakter’ lewat labelisasi ‘palm oil free’ pada produk makanan di Eropa dan Amerika, hingga sempat masuk pasar Indonesia, kini giliran kopi gayo menjadi sasaran selanjutnya.

H Muhammad Tanwier ST MT

Dengan dalih sedang terjadi mega bencana lewat pandemi Coronavirus desease 2019 (Covid-19), produk kopi arabika dari dataran tinggi Gayo yang sempat memuncaki pasar dunia—terutama di Eropa—kini seperti sedang sakaratul maut. Saat ini saja sekitar 15.000 ton lebih produksi kopi gayo tertumpuk di dalam gudang. Walaupun sebagian sudah dalam bentuk resi gudang.

Sempat bertiup sejenak ‘angin syurga’ ketika Presiden Jokowi memberi sinyal jika negara akan membeli kopi gayo dengan persiapan dana mencapai Rp 1 triliun. Namun semua itu sejauh ini hanya sebatas ‘Pehape’ semata. Dan persoalan menjadi makin crowded ketika Menkeu Sri Mulyani menyatakan negara sedang dalam jurang resesi ekonomi.

Sementara buyer di Eropa berdalih, bukan hanya sebatas Covid-19 yang meruntuhkan hegemoni pasar kopi arabica gayo atau gayo mountain coffee, namun ketidakmurnian kopi gayo sebagai produk organik, juga menjadi alasan. Mereka berdalih kopi gayo mengandung residu pestisida.

Hal itu diakui oleh Kadis Perindag Aceh, H Muhammad Tanwier ST MT atau akrab disapa Baong. Katanya, residu itu justru didapat bukan karena proses budidaya langsung, namun karena terserap oleh akar, dari perlakuan pembasmian rumput di sekeliling batang kopi yang masih memakai herbisida. “Berat dugaan dari situlah terjadi residu di dalam green bean kopi gayo,” tutur Baong.

Persoalan makin terasa pelik, karena alat untuk mendeteksi residu pestisida itu justru tak ada di dalam negeri. Akibatnya, mulai dari petani hingga eksportir seperti tak berdaya dan meraba raba. Karenanya jangan heran jika tiba tiba sinyalemen perang dagang langsung mengemuka.

Baca Juga:  Kapolda Aceh Pantau Pembangunan Mako Polres Pidie Jaya

Hal itu persis seperti dialami sawit Indonesia di blantika pasar Eropa dan Amerika. Sawit terus ditekan secara massive, dengan alasan merusak lingkungan serta tak sehat secara higinis. Dimulai dengan pemberlakuan sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) yang sangat diskriminatif hingga pembunuhan karakter lewat labelisasi palm oil free. Target Uni Eropa adalah zero sawit di benua biru itu pada akhir dekade 20-an. Yang ujung ujung nya adalah menyelamatkan minyak nabati rapased, bunga matahari dan minyak kedelai milik Eropa dan Amerika yang terkubur dengan pamor sawit. Padahal jelas-jelas, komoditi itu lebih menggerus tutupan hutan secara cepat karena hanya tanaman semusim.

Bisa jadi kopi gayo adalah produk perang dagang seperti itu. Karenanya kita berharap agar Pemerintah Aceh dan RI tentunya bertindak cepat, menyelamatkan nasib 70 persen masyarakat dataran tinggi gayo yang bergantung dengan kopi.

Konon lagi seperti diungkapkan Kadis Perindag, Muhammad Tanwier, kini petani kopi gayo sedang menatap masa panen raya hingga Januari 2021 nanti. Dengan taksiran produk mencapai 20 ribu ton lebih. Kemanakah hasil itu akan dibawa. Akankah terkubur bersama harapan dan mimpi indah para petani kopi gayo di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues?

 

PENULIS     :     NURDINSYAM

Berita Terkini

Haba Nanggroe