BANDA ACEH | ACEHHERALD.com – Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Provinsi Aceh, Faisal Ilyas mendorong anak muda Aceh untuk melek dengan literasi Artificial Intelligence (AI) yang saat ini semakin masif dilakukan banyak orang, ujarnya kepada Acehherald.com.
Dalam kesempatan itu, Faisal menyebut, sebuah keniscayaan memang, karena mayoritas masyarakat saat ini cenderung memilih dan mencari informasi melalui sarana media sosial (medsos). “Literasi AI sebenarnya bertujuan agar mempermudah akses informasi dan mempermudah banyak hal, tentu kehadiran AI juga patut diwaspai”, ungkapnya, Kamis (3/8/23).
Faisal berpesan, yang terpenting adalah bagaimana membangun literasi penggunaan teknologinya atau membuat skema atau platform-platform yang dapat memberikan bagi orang lain, sehingga fungsinya dapat menjawab kebutuhan masyarakat saat ini.
Ia menjelaskan, salah satu platform seperti ChatGPT menjadi referensi baru setelah kemunculan Google, atau kadang-kadang ChatGPT menjadi referensi utama dalam hal copy writing. “Jadi hal itu saja sudah dapat menjawab kebutuhan copy writing,” tandasnya.
Faisal juga mewanti-wanti, menjadi hal negatif memang ketika memilih kata perintah dengan keyword yang tidak seperti yang kita harapkan. Apalagi filter data di Indonesia saat ini belum cukup kuat privasi datanya. Sehingga muncul berbagai hal yang negatif perangkat kita.
Kemudian juga patut juga diwaspadai, seperti kemunculan mitigasi dengan aksi-aksi penipuan, kemudian juga marak nomor-nomor yang tidak terdetec, akhirnya muncullah beragam penawaran jasa yang tidak kita inginkan.
Faisal mengingatkan, kecerdasan buatan seperti AI menjadikan peran literasi digital makin krusial, karena itu masyarakat terutama anak muda diharapkan untuk meningkatkan literasi digitalnya, harapnya. “Memang masyarakat saat ini cukup mudah dalam hal menggunakan teknologi, akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah cara dan tujuan pemakaiannya apakah sudah aman dan benar atau belum. Disinilah peran literasi dan pembelajaran lebih lanjut yang perlu ditekankan, pungkasnya.
Penulis: Andika Ichsan/Banda Aceh




