Perangkat Gampong Sudah Mundur Duluan

SUSOH I ACEHHERALD.com – Puluhan warga Gampong Keudai Susoh atau lazim disebut sebagai Kedai Pasir, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Minggu (7/6) sore menyegel atau memalang pintu kantor Keuchik setempat. Tindakan itu sebagai akumulatif dari kekecewaan warga terhadap manajemen gampong yang dinilai tak transparan.
Beberapa sumber di Susoh yang dihubungi acehherald.com, Senin (08/05/2020) siang tadi, mengakui adanya penyegelan tersebut. Namun mereka menduga tindakan itu bukan hanya sekadar karena pencairan BLT dana desa yang tak kunjung tiba, namun juga karena berbagai factor lain, terutama komunikasi yang buruk di tataran perangkat gampong.
Disebut-sebut, karena ketidakcocokan dengan Keuchik, hampir semua perangkat gampong mundur, antara lain, sekdes, bendaharan gampong, operator atau admin gampong hingga jajaran kepala dusun. Disebut sebut keuchik sering bersolor karir dan tidak melibatkan aparat gampong lainnya. Salah satu proyek itu adalah pembangunan kolam gampong dekat masjid pusaka Keude Pasie yang selama ini imumchiknya didatangkan dari gampong sekitar Keude Pasie yang nota bene gampong nelayan itu.
Bahkan jamaah Masjid Pusaka selama ini sebagian besar adalah warga dari luar gampong Keudee Pasie itu sendiri.
Tuha Peut Desa Keudai Susoh, Dasruddin Darman kepada awak media mengatakan, selain terkait pencairan BLT Covid-19, warga juga menilai keuchik tidak transparan dalam mengelola Dana Desa semenjak tahun 2015 hingga 2020. “Warga mulai geram, karena selama beliau (keuchik) menjabat tidak ada transparan terhadap penggunaan dana desa,” katanya.
Padahal, lanjut Dasruddin, setiap selesai pelaksanaan kegiatan, harusnya keuchik membuat rapat pertanggungjawaban dalam setiap tahunnya kepada warga. “Minimal kepada kami selaku Tuha Peut,” tuturnya.
Kalau desa lain, tambahnya, laporan pertanggungjawaban langsung di depan umum, tapi keuchik di desa ini tidak demikian. “Jangankan ke Tuha Peut, kepada warga saja tidak pernah. Paling langsung ke kabupaten,” sambungnya.
Terkait hal itu, Keuchik Kedai Susoh, Sabri membantah tudingan yang dilontarkan tersebut. Menurutnya, BLT Covid-19 bukan tidak disalurkan, akan tetapi ada oknum yang memprovokasi di desa dan ingin menjatuhkan dirinya.
Dijelaskannya, bagaimana BLT Covid-19 itu bisa disalurkan, sementara, sekretaris desa (Sekdes), bendahara dan operator desa telah mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri mereka juga terkesan mendadak.
Bahkan pada saat ingin mengadakan rapat dengan warga, Sabri mengatakan, kalau tuha peut saja tidak datang. “Kalau mereka tidak datang, terpaksa rapat dibatalkan,” ujarnya.
Penulis : Nurdinsyam


















