BANDA ACEH I ACEH HERALD – Jumlah pengungsi akibat banjir Kabupaten Aceh Tamiang hingga Jumat (04/11/2022) tadi malam, mncapai 21.696 jiwa atau 6512 KK. Para pengungsi itu tersebar di 195 titik lokasi yang tersebar pada 12 Kecamatan dalam wilayah Aceh Tamiang, mulai Tenggulun hingga Kota Kuala Simpang.
Hingga kini jalur nasional Banda Aceh-Medan belum pulih, karena masih tergenang banjir hingga ketinggian satu meter lebih, terutana di awasan Sei Liput yag terhitun kawasan paling parah. Banjir yang mlanda Aceh Tamiang terhitung sejak Senin (31/10/2022). Kawasan Axeh Tamiang terhitung langganan banjir, karena menampung air kiriman dari Aceh Tenggara, Langkat, Aceh Tengah dan bahkan juga Aceh Timur.
Air turun itu membentuk sungai raksasa mulai dari perbatasan Kota Kuala Simpang hingga perbatasan Aceh di Seumadam. Dengan titik terdalam kawasan Sungai Liput.
Menurut Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Aceh, Hasanunddin Bangka mengutip laporan dari Kalaksa BPBD Aceh Tamiang, Imam Suheri SSTP MSP, secara keseluruhan jumlah korban terdampak banjir bear Aceh Tamiang mencapai 40.317 jiwa atai 11.700 KK.
Kawasan terparah dilanda banjir adalah Kecamatan Bendahara, Tenggulun, Banda Mulia dan Rantau, di kawasan itu, jumlah pengungsi rata rata di atas dua ribu jiwa. Sedangkan lokasi pengungsian adalah berupa kantor desa, Puskesmas, rumah warga serta titik titik pengungsi yang difasilitasi oleh BPBD Aceh Tamiang, yang kini masih berjibaku di lapangan.
Sementara Pemerintah Aceh melalui BPBA seperti diungkapkan Kalaksa BPBA Dr Ir Ilyas, telah menyalurkan bantuan logistic masa panik untuk titik titik banjir di Aceh, dimulai dari banjir Aceh Uara, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Selatan dan tadi pagi disalurkan untuk pengungsi Aceh Tamiang. “Kita ingin agar masyarakat korban terdampak banjir merasakan, Pemerintah Aceh hadir dalam kesempatan pertama di tengah rakyat, terutama dalam konteks musibah,” kata Ilyas yang akrab disapa Abi Ilyas itu.
Pada bagian lain, Ketua F PRB Hasanudin Bangka mengatakan, pihak FPRB telah mengirimkan surat ke Kalak BPBA tentang rekomendasi untuk didirikan Pos Pendamping Penanganan Darurat Bencana (PDB) di lokasi banjir, sebagai upaya mempercepat proses penanganan pascabencana, termasuk sebagai langkah konsolidatif, agar penanganan lebih efektif dan terukur. “Kita telah menyurati Pak Kalak BPBA, namun beliau juga dalam kondisi lelah, setelah bersafari tanpa henti meninjau dan menyalurkan bantuan Pemerintah Aceh pada titik titik lokasi banjir antarkabupaten di Aceh,” tutur Hasanuddin.





















