‘Jenderal’ Hafil Sayangkan Kerusuhan Debat Cagub

“Nah ini yang membuat nada tanya saya, mengapa kondisi rusuh itu terjadi, dan berbuntut pada penghenrian debat. Seharusnya kedua kubu diberi hak mereka untuk berekspresi secara elegant dan damai dalam debat. Soal ada dinamika yang terjadi, itu adalah buah dari demokrasi kita yang makin dewasa,” kata Hafil.
TA Hafil Fuddin

Iklan Baris

Lensa Warga

BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Kerusuhan debat ke-3 Pasangan  Calon (Paslon) Calon Gubernur/Calon Wakil Gubernur Aceh yang berujung terhentinya acara di Hall Utama The Pade Hotel, Darul Imarah Aceh Besar, Selasa (19/11/2024) malam, disayangkan banyak pihak. Selain menyayangkan langkah yang dinilai blunder dari kubu Paslon 02 Muzakir Manaf/Fadhlullah, juga menyorot lemahnya langkah Komisi Independen Pemilihan (KIP) dalam mengantisipasi insiden yang nyaris berbuah baku pukul antar kubu itu.

Mantan Pangdam IM, Mayjen TNI (Purn) Teuku Abdul Hafil Fuddin SH SIP MH yang dihubungi acehherald.com, secara terbuka menyatakan keprihatinannya atas insiden yang menurutnya tak perlu terjadi itu. Menurutnya, KIP selaku operator pelaksana debat, hendaknya harus benar benar menguasai peraturan dan itu ditegakkan secara tegas sejak debat pertama dilakukan. “Bukan setelah rusuh lalu membuat statement terkesan menohok kubu 01, sementara sebelumnya kok gak masalah.  Ini yang membuat situasi yang makin runyam, karena ada kubu kok seperti terzalimi. Inilah yang saya katakan tak boleh terjadi,” kata Hafil yang di kalangan koleganya sering disapa sebagai Jenderal.

Ditambahkan, jikapun terjadi protes, tentu bisa ditempuh dengan cara yang lebih elegant, ada regulasi yang ditempuh secara prosedural. Bukan malah merangsek ke atas panggung dan berteriak yang mengesankan minim etika dan ilmu. Dan itu secara langsung bisa berakibat turunnya elektabilitas kubu yang melakukan protes.

Selain itu, pihak KIP bisa mengatasi keadaan secepatnya dengan meminta pihak keamanan turun tangan untuk menguasai keadaan. Masalahnya menurut Hafil, ia membaca di pemberitaan media, 350 orang personil kepolisian dilibatkan untuk mengamankan acara debat terakhir tersebut. “Nah ini yang membuat nada tanya saya, mengapa kondisi rusuh itu terjadi, dan berbuntut pada penghenrian debat. Seharusnya kedua kubu diberi hak mereka untuk berekspresi secara elegant dan damai dalam debat. Soal ada dinamika yang terjadi, itu adalah buah dari demokrasi kita yang makin dewasa,” kata Hafil yang juga mantan dosen Lemhanas itu.

Baca Juga:  PM Jepang Minta Maaf ke Korsel soal Masa Penjajahan: Hati Saya Sakit

Hafil berharap jika memang memungkinkan, debat ketiga itu dapat dilanjutkan di kesempatan lain, walau waktunya sudah sangat terjepit. “Bila perlu dilakukan dengan tanpa penonton atau tanpa disaksikan relawan kubu masing masing. Ya..seperti laga sepakbola tanpa penonton, hingga terihat secara jernih dan orisinil, siapa sebenarnya yang lebih mumpuni dalam debat,” pungkas Hafil.

Kata Kunci (Tags):
dbat cagub, the pade hotel, butami hamzah, muzakir manaf, ta hafil , pilkada aceh

Berita Terkini

Haba Nanggroe