Iskandarsyah Madjid: Pariwisata Aceh Terus Bangkit, Jangan Tunggu Habis Pandemi

BANDA ACEH | ACEHHERALD.COM- Pakar ekonomi dan penngamat pariwisata Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala, Banda A Dr Iskandarsyah Madjid mengatakan Aceh tetap berpeluang di sektor pariwisata di masa pandemi dan pascapandemi Covid-19. Untuk bangkit, pelaku wisata Aceh disarankan jangan pernah berpikir, ‘kita akan berkiprah setelah berakhirnya pandemi.’ Pandemi itu tidak akan pernah … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Dr Iskandarsyah Madjid.  FOTO ACEHHERALD.COM/M NASIR YUSUF

BANDA ACEH | ACEHHERALD.COM-

Pakar ekonomi dan penngamat pariwisata Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala, Banda A Dr Iskandarsyah Madjid mengatakan Aceh tetap berpeluang di sektor pariwisata di masa pandemi dan pascapandemi Covid-19.

Untuk bangkit, pelaku wisata Aceh disarankan jangan pernah berpikir, ‘kita akan berkiprah setelah berakhirnya pandemi.’ Pandemi itu tidak akan pernah ada yang tahu kapan berakhirnya?

Hal itu dikemukakan tenaga pengajar Univesitar Syiah Kuala, Banda Aceh menjawab pertanyaan AcehHerald.com, tentang sikap dan pemikirannya terhadap pengembangan usaha pariwisata di tengah pandemi Covid-19 yang hingga kini masih membalut Tanah Rencong.

Pandemi Covid-19 memang telah membuat bisnis sektor pariwisata dunia, termasuk Aceh terpuruk. Tapi, pelaku wisatanya harus terus bersiap untuk menyambut tamu. “Pandemi atau tanpa pandemi, tapi tamu sudah rindu untuk berwisata,” kata putra mantan Gubernur Aceh, Prof A Madjid Ibrahim tersebut.

Untuk menarik wisatawan, kata dosen yang konsentrasi manajemen FEB USK, pelaku wisata dan stakeholder pariwisata di Tanah Rencong juga harus bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Secara gamplang, Dr  Iskandarsyah Madjid mengakui banyak keluarga di Aceh yang ingin menikmati keindahan alam tepi pantai, pergunungan, obyek bersejarah yang tersebar di hampir 1000 titik.

Maka saat inilah pelaku pariwisata yang mengelola obyek wisata pantai, wisata pegunungan, arung jeram, panjat tebing, jelajah hutan berinovasi untuk menarik turisnya yang sedang ‘kesepian’ untuk mengunjungi obyek wisata yang sudah lebih setahun ditutup dengan alasan jaga jarak, tak boleh berkerumun.

“Rindu kita, ya sama dengan rindu warga dunia lainnya. Bagi tamu luar, misalnya wisatawan Malaysia, mereka juga ingin menikmati keindahan alam Aceh, kuliner Aceh, dan sovenir Aceh. Tapi, masalahnya saat ini belum ada transportasi udara antara Aceh dengan Malaysia,” ujarnya.

Baca Juga:  Nova - Luhut Bahas Investasi Pariwisata UEA untuk Aceh

Hal serupa dirasakan masyarakat Aceh yang ingin terbang ke Malaysia. “Kalau hari-hari ini, penerbangan Kuala Lumpur-Banda Aceh atau Penang-Banda Aceh sudah hadir di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang akan terlihat ramai-ramai warga yang akan terbang,” katanya.

Penulis M Nasir Yusuf

Berita Terkini

Haba Nanggroe