Ir Said ‘Papi’ Mursal : Selamatkan Dulu Persiraja

BANDA ACEH I ACEH HERALD – Jika benar seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Tim Transisi Persiraja, Ardiansyah SSTP, Jumat akhir pekan lalu, hari ini, Selasa (16/08/2022), adalah batas akhir penyerahan nama pemain Persiraja untuk didaftarkan ke PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator Liga Indonesia 2, maka dibutuhkan langkah taktis dan strategis untuk memastikan Persiraja … Read more

Ir Said Mursal

Iklan Baris

Lensa Warga

BANDA ACEH I ACEH HERALD – Jika benar seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Tim Transisi Persiraja, Ardiansyah SSTP, Jumat akhir pekan lalu, hari ini, Selasa (16/08/2022), adalah batas akhir penyerahan nama pemain Persiraja untuk didaftarkan ke PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator Liga Indonesia 2, maka dibutuhkan langkah taktis dan strategis untuk memastikan Persiraja ikut Liga 2, jika tidak ingin terlempar ke liga kelas tarkam, atau Liga 3.

Mantan Ketua Umum sementara Persiraja yang juga menjadi Manajer Tim Persiraja di dekade sepuluhan itu menyarankan agar semua pihak menyelamatkan dulu status Persiraja untuk bertahan di Liga 2. Syaratnya adalah dengan mendaftarkan dulu para pemain sesuai jadwal. “Jika pendaftaran klub sudah dilakukan, maka kini saatnya mendaftarkan pemain, karena itu syarat yang saling mengkait. Lupakan dulu soal sengkarut manajemen, karena itu bisa diselesaikan kemudian, asal semua pihak berpikir jernih dan tidak justru terkesan ingin memurukkan Persiraja,” kata Said Mursal yang di kalangan sohibnya sering disapa dengan Papi.

Papi mengilas balik bagaimana Persiraja dulu diakuisisi dengan tidak pakai uang sepeserpun. Bahkan tanpa menunggu musyawarah klub klub yang ada di bawah underbouw Persiraja yang kala itu masih berstatus klub persirakatan.  “Kalau mau jujur waktu itu juga ada utang, tapi kami ikhlas saja, karena memang demi menyelamatkan Persiraja. Karena Persiraja kala itu sempat juga hidup atas belas kasihan simpatisan dan legion veteran yang punya perhatian,” kata Papi.

Masa suram Persiraja kala itu sejenak setelah Walikota Banda Aceh Ir Mawardi Nurdin M.Eng yang sangat peduli klub kebanggaan Kota Banda Axeh dan Aceh itu, meninggal dunia. Manajemen langsung limbung, hingga akhirnya Persiraja beralih kepemilikannya dan berhasil merangkak naik hingga ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia Liga 1.

Baca Juga:  Sekda Aceh Minta Guru Dorong Siswa ke Perguruan Tinggi

Saat masih berbentuk Perserikatan, Persiraja memiliki klub dengan level divisi utama, divisi 1 dan divisi 2. Klub klub itu diputar kompetesinya secara rutin dan menjadi sumber pemain untuk Persiraja. Sebnyak 12 klub menempati Divisi Utama, 15 klub Divisi 1 dan sisanya adalah Divisi 2.

Menanggapi soal utang manajemen lama sebanyak Rp 2,4 miliar, menurut Papi Mursal, adalah hal yang wajar. Bahkan menurutnya bisa jauh lebih di atas itu. Karena hal itu sesuai dengan pengalamannya yang telah malang melintang mengarungi Kompetisi Liga membawa Persiraja. “Kala itu  PT ISL hanya membantu sekitar Rp 100-an juta, kalau sekarang mungkin lebih. Tapi tetap saja jauh dari nilai ril kebutuhan kompetisi yang sudah menganut sistem home and away. Jadi bisa saja utang itu jauh di atas angka tersebut,” kata Said Mursal.

Hanya saja ia mengingatkan, semuanya harus ada hitam di atas putih, misalnya dengan laporan yang akuntabel, termasuk hasil RUPS, karena Persiraja berbadan hukum. “Kalau memang itu tak dilakukan, ya….sama saja dengan manajemen tukang pangkas atau truk pasir,” pungkas Papi yang juga mantan wartawan sebuah harian lokal di Aceh.

Berita Terkini

Haba Nanggroe