Harga Sawit Terlalu Superior Malah Memunculkan Efek Berantai

JAKARTA I ACEH HERALD TREND harga sawit dalam beberapa bulan terakhir yang cenderung sangat positif atau bahkan terhitung superior, ternyata malah menimbulkan efek berantai di lapangan atau tepatnya kebun. “Kalau saat harga sawit jatuh, pencuri sawit hanya naik motor dan langsung kabur ketika dipergoki security kebun, namun saat harga melambung, maling malah sudah berkomplot … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Chief Executive Officer (CEO) Astra Agro, Santosa saat acara Talk to The CEO yang digelar secara daring/ist

JAKARTA I ACEH HERALD

 

TREND harga sawit dalam beberapa bulan terakhir yang cenderung sangat positif atau bahkan terhitung superior, ternyata malah menimbulkan efek berantai di lapangan atau tepatnya kebun. “Kalau saat harga sawit jatuh, pencuri sawit hanya naik motor dan langsung kabur ketika dipergoki security kebun, namun saat harga melambung, maling malah sudah berkomplot dan datang dengan truk. Giliran ditegur security , bukannya kabur, malah security yang digebuki,” kata Chief Executive Officer (CEO) Astra Agro Lestari Indonesia (AALI), Santosa, saat acara Talk to The CEO yang digelar secara online, Selasa (15/02/2022) siang tadi.

Menurut Santosa, harga tinggi itu tidak semata dipandang sebagai sebuah peluang margin keuntungan. Namun juga malah membuat industri sawit cenderung menjadi bulan bulanan. Mulai dari lapangan, dengan meningkatnya aksi pencurian atau lazim disebut sebagai ninja sawit. Hingga secara nasional adalah policy pemerintah dengan pembekuan eksport biodiesel, seiring penerapan domestic market obligation (DMO) dan diikuti dengan pemberlakuan domestic price obligation (DPO).

Semua itu juga karena efek dari harga minyak goreng yang disebut tak terkendali. Padahal itu juga karena harga sawit selaku bahan utama migor juga sedang super. “Semula pemerintah meminta agar untuk stabilitas harga migor itu dengan subsidi dari BPDPKS, namun kini telah berakhir seiring keluarnya kebijakan DMO dan DPO. Karena sudah lumrah harga produk olahan sawit tinggi, sementara di sisi lain, pedagang dan produsen minyak goreng selaku buyer tentu tak mau merugi,” ujar Santosa.

Kebijakan pembekuan ekspor Bio Disel hingga kebijakan DMO/DPO membuat prediksi market industry sawit secara kuantitas terkoreksi, tentu saja hal yang sama juga menyangkut finansial.  Kondisi inilah yang menurut Santosa menjadi ‘produk’ lain dari booming harga sawit saat ini. “Intinya, harga terlalu superior pun malah mengundang masalah. Kita ingin justru level yang aman aman saja hingga mampu meredam efek berantai yang justru tak dikehendaki, seperti harga migor misalnya,” kata Santosa yang senantiasa tampil sporty dalam sesi temu ramah dengan para jurnalis se Indonesia secara daring itu.

Baca Juga:  SDN 1 Bireuen Masuk Delapan Besar Sekolah Literasi Se-Indonesia

Secara khusus Santosa menyinggung soal harga migor yang meroket serta memunbulkan kelangkaan di pasar. Katanya, produsen bisa saja melepas migor dengan harga di tingkat kosumen Rp 14.000/liter, dengan catatan hanya ada konten standar. Namun bila ada tambahan lain dalam konten produk, itu jelas noway.”Kalau migor ‘generik’ ya bisa dijual di tingkat konsumen Rp 14 ribu/liter. Tapi kalau ada tambahan konten untuk peningkatan kualitas sesuai tuntutan konsumen, jelas itu tak mungkin. Ini kali kali yang rasional. Namun yang perlu dicatat, kita juga bekerja keras untuk terwujudnya stabilitas harga migor,” tutur Santosa.

 

Anjungan kemitraan

 

Pada bagian lain, Santosa mengemukakan salah satu prioritas AALI tahun ini, selain program rutin seperti replanting hingga pemantapan program kemitraan, termasuk dengan pemasok TBS. Dalam kaitan pelayanan maksimal kepada pemasok TBS di pabrik,selaku salah satu ujung tombak di lapangan, pihak manajemen akan membuat Anjungan Kemitraan di setiap pabrik PKS milik AALI.

Anjungan kemitraan itu berfungsi sebagai fasilitas menginap untuk sopir angkutan kelapa sawit, yang kadang antri loading di PKS. “Dengan begitu para sopir dan awak angkutan atau transporter TBS bisa lebih fresh saat mengantri,” tutur Santosa seraya memprediksi trend positif sawit akan terus bertahan di tahun 2022, saat menjawab pertanyaan salah seorang peserta dari daerah.

Berita Terkini

Haba Nanggroe