
IDI I ACEHHERALD.com – Nelayan yang sedang susah di tengah pandemi Covid-19, kini bertambah galau karena harga ikan basah hasil tangkapan mereka terjun bebas alias turun hingga tiga kali lipat.
Seperti ikan tongkol yang dulunya Rp12.000 per kilogram kini hanya Rp 5.000 per kilogram. “Hasil tangkapan melimpah, tapi harga ikan turun drastis sehingga nelayan terus merugi,” kata H Husaini, seorang tokoh masyarakat Aceh Timur mengutip keluhan para nelayan selama ini.
Untuk mempertahankan agar harga ikan normal meski hasil tangkapan melimpah, H Husaini menyarankan perlunya dibangun sejumlah fasilitas pendukung di PPN Idi, seperti cold storage.

Tujuannya agar hasil tangkapan ikan bisa disimpan lebih lama di dalam mesin pendingin dan akan dijual di saat masyarakat membutuhkan. “Saat ini, lanjutnya, tidak ada ruang pendingin yang mampu menampung ikan dengan kapasitas hingga 1.000 ton. Jika fasilitas ini tersedia, maka ikan yang dibongkar di PPN Idi, bisa langsung disimpan dan tahan lebih lama,” ujarnya lagi.
Merosotnya harga ikan berdampak terhadap upah anak buah kapal (ABK) dari Rp1,5 juta per 10 hari menjadi Rp 400 ribu – Rp 500 ribu per 10 hari. “Biasanya upah mereka dalam sekali berlayar selama 10 hari mencapai Rp1,5 juta, bahkan Rp 2 juta. “Jika harga ikan seperti ikan tongkol terus bertahan seperti ini, maka tidak sedikit dari nelayan akan kehilangan pekerjaannya,” terang H Husaini.
Sementara Bupati Aceh Timur, H. Hasballah HM.Thaib, SH atau Rocky, mengakui dalam dua bulan terakhir harga ikan tidak normal. Kondisi tersebut kerap disampaikan para nelayan, bahkan pasca lebaran Idul Fitri 1441 hijriyah lalu harga ikan benar-benar tidak stabil.
Rocky mengakui, wabah Covid-19 ikut mempengaruhi sektor kelautan dan perikanan. Meskipun hasil tangkapan masih cukup melimpah, namun permintaan justru menurun. Salah satu penyebabnya adalah karena penyerapan ikan oleh industri perikanan berkurang hampir 50 persen dibanding kondisi normal. “Menyikapi kondisi yang dihadapi nelayan hari ini, kita juga ikut berharap pemerintah pusat membangun sejumlah fasilitas pendukung di PPN Idi, apalagi saat ini pelabuhan kita tergolong salah satu penghasil ikan terbesar di Pulau Sumatera,” tutup Rocky.
Penulis : Ridwan Suud (Aceh Timur/Kota Langsa)




