Hakikat Perjalanan Hijrah Rasulullah

BANDA ACEH | ACEHHERALD.com — Akademisi Fakultas Agama Islam, Universitas Serambi Mekkah, Tengku H. Rahmadon Tosari Fauzi, M.Ed., Ph.D menceritakan bahwa Rasulullah Nabi Muhammad SAW pernah mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk melakukan perjalanan Hijrah dari Makkah ke Madinah. Dimana saat itu, kaum Muslimin di Makkah mayoritas telah pergi meninggalkan Makkah untuk hijrah ke Madinah, … Read more

Jamaah pengajian KWPSI berpose sejenak dengan Teungku Rahmadon,

Iklan Baris

Lensa Warga

BANDA ACEH | ACEHHERALD.com — Akademisi Fakultas Agama Islam, Universitas Serambi Mekkah, Tengku H. Rahmadon Tosari Fauzi, M.Ed., Ph.D menceritakan bahwa Rasulullah Nabi Muhammad SAW pernah mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk melakukan perjalanan Hijrah dari Makkah ke Madinah. Dimana saat itu, kaum Muslimin di Makkah mayoritas telah pergi meninggalkan Makkah untuk hijrah ke Madinah, kecuali Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib.

Hal itu dituturkan Rahmadon di hadapan Jamaah KWPSI yang berhadir di Garuda Kupi, Banda Aceh, Rabu (26/7/23), dalam acara kajian rutin KWPSI, yang mengangkat seputar tahun baru Hijriyah, dalam konteks memperkuat derajat iman dan taqwa.

Diceritakan Rahmadon, dalam momentum Hijrah itu, Nabi Muhammad telah mempersiapkan hijrah hampir dua bulan, dengan perencanaan yang sangat matang. Beliau juga menyiapkan rencana dengan melihat situasi dan kondisi di Kota Makkah. Adapun proses hijrah Nabi Muhammad dilakukan dengan taktik untuk mengelabui Kaum Kafir.

Saat itu, kaum kafir Quraisy berencana akan membunuh Nabi Muhammad untuk mencegah Nabi SAW hijrah ke Madinah. Pada saat itu umat Islam di Makkah hanya tinggal sedikit. Sebelum turun perintah hijrah kepada nabi Muhammad, beliau sudah meminta Abu Bakar untuk menemaninya. Setelah itu, Abu Bakar menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah bin Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan.

Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar pun meninggalkan Makkah secara diam-diam. Pada malam akan berangkat hijrah tersebut, Nabi Muhammad meminta Ali bin Abi Talib untuk memakai mantelnya dan berbaring di tempat tidurnya. Nabi Muhammad SAW berpesan kepada Ali bin Abi Thalib, setelah Nabi hijrah, untuk tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya.

Ketika para algojo kafir Quraisy mengintip ke tempat tidur Nabi Muhammad SAW, mereka melihat sesorang berbaring di tempat tidur dan mengira bahwa Nabi SAW sedang tidur. Setelah tahu bahwa yang tidur adalah Ali bin Abi Thalib, mereka menyeretnya ke Masjid Haram dan menyiksanya, lalu melepaskannya. Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar pun pergi ke Madinah melalui arah selatan dalam rangka mengelabui kafir Quraisy. Mereka berdua menetap di dalam Gua Tsur pada hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Gua Tsur tersebut terletak di Jabal Tsur yang berjarak lima kilometer sebelah selatan Kota Makkah.

Baca Juga:  Azwar Abubakar Deklarasikan LEPADSI

Selama berada di gua Tsur, Nabi Muhammad saw telah merencakan secara matang untuk mengamankan proses hijrahnya. Dimana Abdullah bin Abu Bakar mendatangi gua setiap malam dan menyampaikan berita tentang rencana dan kegiatan kafir Quraisy. Sebelum fajar ia sudah kembali ke Makkah sehingga seolah-olah ia selalu berada di Makkah.

Pada waktu itu, Abu Bakar menawarkan satu dari unta itu kepada Nabi SAW sebagai hadiah. Namun Rasulullah memilih untuk membeli unta itu. Abu Bakar (RA) pun akhirnya bersedia menerima pembayaran sebesar empat ratus dirham. Unta dikenal sebagai unta Nabi saw yang dinamai Quswa. Dengan dipandu oleh Abdullah bin Ariqat, mereka berdua pun memulai perjalanan menuju Madinah, Amar pun juga menyertai perjalanan mereka.

Setibanya Nabi Muhammad SAW di Madinah, Program pertama beliau adalah menentukan tempat dimana akan dibangun Masjid. Beliau melepaskan untanya dan menetapkan tempat berhenti untanya sebagai masjid. Ternyata untanya berhenti di tanah milik dua orang anak yatim. Maka Nabi saw minta keduanya untuk menjual tanahnya.

Namun keduanya ingin memberikan tanahnya sebagai hadiah. Tapi Nabi SAW tetap ingin membayar harga tanah itu sebesar sepuluh dinar. Dan Abu Bakar menyerahkan uang kepada mereka berdua.

Nabi Muhammad SAW tinggal di rumah Abu Ayyub al Anshari sampai selesai pembangunan Masjid Nabawi dan tempat tinggal beliau. Seluruh sahabat bersama Nabi SAW ikut membangun Masjid Nabawi, sebagaimana mereka melakukan bersama-sama dalam pembangunan Masjid Quba.

Beberapa hari kemudian, istri Nabi Saudah, dua putri beliau Fatimah dan Ummu Kulsum, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah dan Ummu Aiman juga menyusul hijrah ke Madinah dibawah kawalan Abdullah bin Abu Bakar. Adapun putri beliau seorang lagi, Zainab baru diijinkan hijrah ke Madinah setelah terjadi peperangan Badar.

Baca Juga:  Dirjen Minerba Kementerian ESDM RI Kunjungi Pabrik SBA

Dalam kesempatan itu, di Madinah, Rasulullah memanjatkan doa yang Artinya, “Ya Allah, berkahilah buah-buahan kami, berkahilah kota kami, berkahilah Sha’ kami, & berkahilah Mud kami. Ya Allah, Nabi Ibrahim adalah hamba-Mu & kekasih-Mu. Sedangkan aku adalah hamba & Nabi-Mu. Dia berdo’a kepada-Mu bagi kemakmuran Makkah, & aku berdo’a kepada-Mu bagi kemakmuran Madinah, seperti Ibrahim mendo’akan kota Makkah”.

Tengku Rahmadon menyimpulkan bahwa, perjalanan hijrah nabi secara historis merupakan tonggak sejarah penting bagi umat Islam. Karena pada hari itulah Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, sebagai langkah awal strategis bagi kebangkitan Islam dan umat Islam di dunia. Karena betapa pentingnya pemahaman sejarah Islam, lebih-lebih lagi dalam memahami makna dan hikmah di balik memperingati peristiwa Tahun Baru Islam. Satu Muharram selain dinilai sebagai tonggak sejarah kebangkitan Islam dan umat Islam, juga sebagai awal kalender Islam yang berdasarkan peredaran bulan. Akan tetapi disayangkan jika sebagian besar umat Islam belum memahami makna penting di balik Tahun Baru Islam itu dan tidak dijadikan sebagai momentum dalam menyemarakkan, memperkokoh dan menyuburkan syiar-syiar Islam pada setiap komunitas muslim.

Karena Islam sebagai satu-satunya agama yang memiliki keistimewaan yang langsung diberi nama oleh Allah SWT. Sedangkan agama lain, seperti “Nasrani”, nama ini berasal dari nama desa kelahiran Nabi Isa AS. Serta agama lainnya berdasarkan nama Kitabnya, seperti Taurat. Keistimewaan lainnya agama Islam yang lahir di Mekkah, namun lebih berkembang setelah hijrah ke Madinah, sebab ia agama terakhir yang disempurnakan Allah dari agama-agama yang diturunkan kepada para nabi dan rasul Allah sebelum Nabi Muhammad saw.

Tujuan utama dari perayaan hijrah tidak mungkin dapat dicapai kalau peristiwa itu dipahami hanya sebagai rekayasa Allah SWT sendiri. Akan tetapi dengan mengungkapkan aspek historisnya secara objektif, pasti akan membuahkan sejumlah hikmah kehidupan dalam membangun peradaban komunitas Muslim, paling tidak sebagai awal kebangkitan Islam dan umat Islam.

Penulis: Andika Ichsan/Banda Aceh

Berita Terkini

Haba Nanggroe