Akibatnya Gas 3kg Selalu Langka

MEUREUDU I CEHHERALD.com-Antrian panjang tetap mewarnai setiap kali stok gas elpiji bersubsidi masuk kios di semua pangkalan di Pidie Jaya. Para ibu rumah tangga rela menungggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu atau dua tabung gas elpiji melon. Ramainya pengguna elpiji bersubsidi berkalang tahun karena sudah bukan rahasia lagi, warga yang berekonomi mapan pun juga ikut menikmati jatah masyarakat miskin itu. Padahal itu jelas jelas melanggar.
Apalagi, gas elpiji isi 3 kilogram ini tak hanya untuk rumah tangga warga miskin, bahkan kebanyakan rumah makan, warkop dan hampir semua jenis usaha lainnya juga memakai gas bersubsidi. Pedagang terkadang memiliki stok lebih dari lima tabung. Tulisan “Hanya untuk masyarakat miskin” yang tertera pada tabung gas nyaris formalitas belaka. Karena semua lapisan ekonomi masyarakat menikmati fasilitas gas untuk kaum miskin itu.
Masyarakat berekonomi mapan menggunakan gas elpiji 3 kg karena alasan jauh lebih hemat dari segi biaya ketimbang memakai tabung non subsidi seperti gas berisi 12 kg atau sejenisnya. Karena pengguna sudah hampir menyeluruh, sehingga tidak mengherankan bila setiap kali gas bersubsidi masuk pangkalan, puluhan warga terutama ibu rumah tangga rela mengantri kendati lebih dua jam. Amatan Acehheral.com, mereka dengan sabar mengantri atau menunggu hingga gas masuk pangkalan.
Warga rela berlama-lama mengantri yang terkadang hingga 2-3 jam menunggu truk pengangkuat gas masuk pangkalan. Seperti terlihat di beberapa pangkalan resmi dalam Kecamatan Mureudu, Murahdua, Ulim dan Bandardua dalam sepekan terakhir. Di pangkalan resmi tertera pada papan plang harga gas elpiji 3 kg 18.000/tabung. Ada juga beberapa pangkalan yang saat disodorkan uang Rp 20.000 tidak lagi mengembalikan Rp 2.000 dan itu dianggap wajar karena kedua belah pihak tidak keberatan .
Di Meurahdua, pangkalan Gampong Beuringen milik Mustafa H Abubakar Isris adalah yang teramai setiap kali gas masuk. Pangkalan ini sangat tertib dalam mendistribusikan gas walau antriannya panjang. Selain Meurahdua tak sedikit pula warga Meureudu yang berdatangan ke sana. Sehingga wajar saja dalam sekejap atau tidak sampai satu jam semua gas habis terjual. Pangkalan ini sangat ketat dan disiplin. Artinya, penjualan tidak sembarangan, tidak neko-neko dijalankan sesuai prosedur.
Mustafa menjawab Acehherald.com, Selasa (4/8/2020) menyebutkan, dalam sebulan pasokan gas elpiji yang dipasok PT Alam Jaya ke pangkalannya sebanyak 10 kali. Setiap kali masuk jatah yang diberikan berjumlah 150-160 buah tabung. Pihaknya terpaksa memperketat penjualan dengan mengantri agar semua warga miskin terbantu. “Setiap orang hanya satu tabung tak boleh lebih,’ kata Mustafa. Di Meureudu yang sering dipadati warga adalah pangkalan di Gampong Beurawang dan Masjid Tuha.
Begitu halnya beberapa pangkalan gas elpiji di Ulim dan Bandardua. Sementara sejumlah kios pengecer yang terus menjamur, gas dijual antara Rp 27.000 – Rp 30.000/tabung. Bahkan ada yang menjual Rp 35.000/tabung. Alasannya, ia harus mengeluarkan modal tambahan saat membeli gas di pangkalan resmi. Artinya, jika lebih dari satu tabung terpaksa menggunakan jasa orang lain yang tentunya harus mengeluarkan uang jerih. Ada juga pedagang gas keliling yang khusus bergerak dalam bidang antar jemput gas dengan kendaraan roda dua dengan harga lebih dari Rp 25.000/tabung.
H Sibral Malasyi MA yang juga agen Gas Elpiji di Pijay menyebutkan, pihaknya kurang sependapat jika disebut gas bersubsidi sering langka. Menurutnya, itu bukan langka, tapi pengunanya selama ini bukan hanya orang miskin, malah orang kaya yang ekonominya sudah mapan pun ikut berebutan gas melon. “Kalau sudah begitu seberapa pun tidak cukup,” timpal H Sibral yang juga Direktur CV Maar Group.
Penulis : Abdullah Gani (Pidie Jaya)



















