Dari Aroma Kotoran Ayam Hingga Seulanga Timoh

“DULU suatu masa kami memulai kerja di kantor dengan menaburkan kopi seantero ruangan, untuk menghilangkan bau menyengat. Maklum, kantor yang hanya berbentuk toko satu pintu di Ketapang, Aceh Besar, bersisian dengan kedai jualan ayam (keudee manok} serta bengkel sepeda. Bau ayam yang menyengat yang menyambut kami saat tiba di kantor setiap pagi hari.” Itulah secuil … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Seulanga Timoh, arsitektur gedung BAS masa depan. Foto M Nasir Yusuf

“DULU suatu masa kami memulai kerja di kantor dengan menaburkan kopi seantero ruangan, untuk menghilangkan bau menyengat. Maklum, kantor yang hanya berbentuk toko satu pintu di Ketapang, Aceh Besar, bersisian dengan kedai jualan ayam (keudee manok} serta bengkel sepeda. Bau ayam yang menyengat yang menyambut kami saat tiba di kantor setiap pagi hari.”

Itulah secuil pengakuan Haizir Sulaiman SH MH, Dirut Bank Aceh Syariah (BAS) di depan para undangan yang menghadiri pengumuman Sayembara Pemenang Arsitektur Gedung Baru BAS, akhir pekan lalu.

Ya…Haizir mengilas balik keberadaan Bank Aceh Syariah yang semula hanya dalam wujud Cabang Syariah, kemudian berubah menjadi Unit Usaha Syariah (UUS) dari Bank BPD Aceh yang kala itu full convensional.

Sejarah mencatat, Cabang Syariah BPD Aceh lahir di penghujung tahun 2004. Dengan lokasi kantor sebuah toko dekat penjara keudah. Saat mega musibah gempa dan tsunami 26 Desember 2004, kantor itu digulung tsunami.

Dirut Bank BPD kala itu H Aminullah Usman SE,Ak MM memindahkan cabang Syariah tersebut ke kawasan Ketapang yang memang tak terkena tsunami. Di situlah para karyawan Cabang Syariah ‘berkelahi’ dengan bau ayam serta aroma bengkel sepeda.

Setelah berpindah ke lokasi yang lebih representative di kawasan Beurawe, sebuah catatan fenomenal  terjadi. Bank BPD Aceh yang konvensional, berubah menjadi Syariah secara 100 persen di tahun 2016, tepatnya tanggal 19 September 2016. Inilah konversi secara penuh pertama di Indonesia, sebuah bank yang telah mapan secara konven, secara berani melakukan tindakan konversi.

Langkah itu terhitung luar biasa dan bukan tanpa risiko, termasuk potensi rush dana nasabah. Namun karena dilakukan secara matang dan terukur, operasional Syariah penuh itu, tak menimbulkan goncangan berarti. Walaupun harus diakui jika sebagian staf juga sempat gamang dengan status Syariah, karena sudah merasa nyaman dengan status konven.

Baca Juga:  Kiper Persija Andritany Lelang 3 Barang Demi Bantu Perangi Corona

Toh…..the show must go on, layar telah terkembang, berpantang untuk digulung lagi. Secara perlahan langkah penyesuaian manajemen itu berlangsung. Secara perlahan, biduk Syariah itu mulai tegar menatap ombak samudera. Hingga akhirnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menetapkan Direktur Utama (Dirut) pertama BAS, Haizir Sulaiman SH MH, yang sebelumnya menjadi Direktur Syariah, saat Bank BPD Aceh memiliki Unit Usaha Syariah. Haizir adalah figur yang memang telah menggawangi UUS Bank Aceh, sejak dideklarasikan tahun 2004. Dan kini pria itu adaah dirut pertama BAS paska konversi penuh dari Bank Aceh.

Seperti dikisahkan oleh figur puncak BAS itu, dalam rentan 46 tahun usia bank plat merah milik Pemeintah Aceh selaku pemegang saham pengendali (PSP) tersebut, sedikitnya ada lima moment besar yang telah dilewati. Pertama adalah krisis ekonomi global atau krisis moneter tahun 1997-1999 yang membuat Bank Aceh menjadi pasien BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) dan berhasil dilewati, moment ke dua adalah konflik berkepanjangan yang melanda Aceh yang membuat ada staf Bank Aceh menjadi korban jiwa, setelah itu mega musibah gempa dan tsunami 26 Des 2004. Saat tsunami melanda, usia UUS Bank Aceh baru satu bulan.

Setelah musibah kebakaran, Gedung pusat administrasi Bank Aceh pada 24 April 2015, hingga bank terbesar di Aceh itu harus menyewa kantor secara berpencar pada beberapa lokasi pertokoan. Dan moment terbesar adalah konversi Bank Aceh secara penuh menjadi Bank Aceh Syariah yang tentu saja beroperasi secara Syariah. Hingga putuslah hubungan dengan status konvensional.

Langkah Bank Aceh itu kini telah ditiru oleh Bank NTB, Bank Bengkulu, Bank Nagari Sumbar, dan Bank Riau. Dengan kata lian, Bank Aceh telah menjadi pionir dalam mengkonversi dari konvensional ke Syariah bank bank plat merah daerah di negeri ini.

Baca Juga:  Hasil Serie A Italia – Inter Milan meraih Capolista

Kini yang dilakukan adalah aplikasi tiga transformasi, yatu transformasi kultur budaya, transformasi visi misi dan transforasi tampilan. Dalam kaitan transformasi tampilan, setelah nyaris genap lima tahun setelah musibah kebakaran itu, akhirnya manajemen BAS berhasil merakit mimpi mereka untuk membangun Gedung pusat administrasi yang baru. Dengan taksiran dana pembangunan fisik sebesar Rp 200 miliar. Inilah transformasi tampilan.

Dan kini, dengan titel arsitektur Seulanga Timoh, Bank Aceh Syariah akan menempati sebuah Gedung baru yang sangat representative dan bahkan akan mnjadi ikon baru di Banda Aceh. Seandainya Seulanga Timoh terwujud, itulah buah penantian panjang keluarga besar BAS. Namun mereka juga tak kan pernah lupa, pernah menabur kopi saat memulai kerja, karena dikepung dengan bau ayam dan tentu saja lengkap dengan kotorannya. Sejarah memang menjadi saksi bisu, namun itu tak kan pernah terlupakan.

 

Penulis                 : Nurdinsyam

Berita Terkini

Haba Nanggroe