BPS dan Pers Bersinergi Menyajikan Data Pertumbuhan Ekonomi Aceh

Tasdik Ilhamudin, menyampaikan kegiatan ini untuk meningkatkan literasi wartawan terhadap data ekonomi, agar mereka bisa menafsirkan dan menyajikan informasi yang akurat bagi masyarakat.
Peserta dan narasumber Workshop yang digelar BPS Aceh. Foto dokumentasi BPS Aceh.

Iklan Baris

Lensa Warga

BANDA ACEH | ACEHHERALD.Com – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menggelar Workshop bertajuk “Memahami dan Menyajikan Data Pertumbuhan Ekonomi” bukan sekadar ajang pelatihan teknis bagi wartawan, namun terselubung panggilan untuk memaknai ulang tugas jurnalistik sebagai jembatan antara data dan kebijaksanaan publik.

Plt Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, menyampaikan kegiatan ini untuk meningkatkan literasi wartawan terhadap data ekonomi, agar mereka bisa menafsirkan dan menyajikan informasi yang akurat dan bermakna bagi masyarakat.

Ini bukan hanya soal pelaporan pertumbuhan ekonomi triwulanan, melainkan tentang kemampuan mentransformasikan angka menjadi narasi, grafik menjadi pemahaman, dan tren menjadi arah pembangunan, ujar Tasdik, Rabu (30/7/2025).

Selain itu, ajakan reflektif datang dari akademisi Universitas Syiah Kuala, Prof. Saiful Mahdi memperkenalkan pendekatan DIKW yakni Data, Information, Knowledge, Wisdom sebagai lensa baru melihat dunia.

Bagi Saiful, data tanpa konteks adalah deretan angka bisu. Namun jika disentuh dengan pemahaman dan dimaknai dengan empati, data bisa menjadi hikmah yang mendorong perubahan sosial.

Ia mengingatkan tentang bagaimana miskonsepsi publik terhadap istilah “hidup layak” dalam statistik kemiskinan bisa menimbulkan kegaduhan.

Padahal maksudnya decent life, bukan hidup mewah. Karena framing-nya kurang tepat, muncul reaksi negatif. Di sinilah pentingnya memahami konteks dan membingkai data dengan bijak, katanya.

Wartawan dalam kerangka ini, tidak lagi hanya menjadi pengumpul informasi. Mereka adalah penjaga makna. Mereka harus mampu mengajukan hipotesis, menggali data, dan menyusun kesimpulan berdasarkan fakta mirip seperti ilmuwan. Ini adalah panggilan intelektual sekaligus moral.

Workshop ini pun menjadi ruang interaksi bagaimana media bisa melawan arus disinformasi, tidak hanya dengan membantah hoaks, tetapi juga dengan mengedukasi publik menggunakan data yang dicerna dengan akal sehat dan rasa keadilan.

Baca Juga:  Dukung UMKM, Babinsa 02/WPS Kodim 0119/BM Motivasi Pengusaha Kuliner

“Media bisa menjadi agen literasi, memutus rantai ketidaktahuan, ketakutan, hingga kekerasan, ini bukan tugas kecil. Ini tugas sejarah,” sambungnya.

Maka, ketika statistik ekonomi hadir bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dipahami dan digunakan secara arif, wartawan tak lagi hanya penulis berita mereka menjadi penjaga nalar publik. Di tengah riuhnya informasi digital, akurasi dan kedalaman menjadi kekuatan paling radikal.

Workshop ini mengingatkan bahwa angka bukan akhir. Ia adalah awal dari percakapan yang lebih besar tentang arah pembangunan, keadilan sosial, dan masa depan Aceh yang dipahami bukan lewat retorika, melainkan melalui data yang hidup dalam narasi-narasi jurnalisme yang tercerahkan.

Laporan: Andika Ichsan

Kata Kunci (Tags):
bps aceh, badan pusat statistik, pertumbuhan ekonomi, workshop bps aceh,

Berita Terkini

Haba Nanggroe