
BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) menyatakan komitmennya untuk terus melakukan pengambangan dan pembangunan di Kecamatan Pulo Aceh terutama Pulo Breuh dan Pulo Nasi. Karena kawasan itu termasuk dalam revitalisasi BPKS.
Hal itu diungkapkan oleh Ir Razuardi Ibrahim MT, Plt Kepala BPKS, saat menjadi keynote speaker pada seminar yang bertajuk “Orientasi BPKS Dalam Pembangunan Kawasan Pulo Aceh” di Rumoh PMI, Banda Aceh, Rabu (15/1). Seminar itu sendiri digagas oleh Ikatan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Pulo Aceh (Ippelmapa), Aceh Besar.
Menurut Razuardi, pembangunan Pulo Aceh itu mencakup kawasan Pulo Nasi dan Pulo Breuh. Terutama menyangkut fasilitas infrastruktur. Baik itu dalam bentuk pelabuhan dan juga jalan. Bahkan pihak BPKS sendiri telah membangunan semacam ‘mess perwakilan’di Pulo Breuh, sebagai bentuk komitment tersebut.
Razuardi berharap peran aktif yang saling mendukung dari seluruh masyarakat Pulo Aceh, terhadap keberadaan langkah langkah revitalisasi yang terus dilakukan. Termasuk partisipasi dalam hal kemitraan untuk penetapan lokasi revitalisasi. “Kami akan melibatkan semua pihak di level gampong dan kecamatan, agar revitalisasi Pulo Aceh akan benar benar dirasakan manfaatnya oleh warga Pulo Aceh. Termasuk dalam hal menjadikan Pulo Aceh sebagai kawasan wisata,” ujara Razuardi yang akrab disapa Essex oleh teman dan koleganya.

Sementara itu Teuku Cut Mahmud Aziz S.Fil MA, akademisi dari Umuslim Birueun yang jjuga menjadi pembicara dalam seminar setengah hari itu mengatakan, investasi dimanapun ia berada termasuk Pulo Aceh tentunya, membutuhkan keamanan dan kenyamanan. Tanpa itu semua akan nonsense, kataya.
Ditambahkan, sebagai kawasan pulau, Pulo Aceh punya potensi wisata yang besar, terutama kawasan wisata dengan kearifan lokal, dan butuh sumber pendanaan yang terbaik dan islami, dalam penggarapannya.
Sementara Darmansah, stah ali Gubernur Bidang Keistimewaan Aceh serta hubungan dan kerjasama, dalam kesempatan itu meminta semua stake holder terkait Pulo Aceh termasuk mahasiswa tentunya, untuk membuat video tentang Pulo Aceh, llu sebarkan melalui media sosial. “Ini adalah kebijakan paling ampuh untuk mendatangkan wisata ke Pulo Aceh. Karena kawasan itu sangat eksotis, terutama pemandangan alam sepanjang pesisir pantaiya,” kata Darmansah, yang berjanji segera datang ke Pulo Aceh.
Fajriah, salah seorang penanggap meminta agar Pulo Aceh jangan dianaktirikan dalam program BPKS. “Jangan anak tirikan kami Pulo Aceh, sementara Sabang jadi anak kandung. Kami juga ingin berkemban dan berdaya secara ekonomi,” kata Fajriah yang mengaku datang khusus dari Pulo Aceh untuk menghadiri seminar tersebu.
Sementara Razali, penanggap lainnya, mengingatkan semua pihak untuk tidak menjadikan Pulo Aceh sebagai ‘sertifikat’ untuk mengambil dana APBN atau bahkan APBA. Setlh dapat, Pulo Aceh tetap jln di tempat. “Ini sangat idak kami harapkan karena melukai nurani kami sebagai orang Pulo Aceh,” tandas Razali.
Penulis : Nurdinsyam


















