
“Saya mempertaruhkan reputasi sebagai pelatih, untuk memenuhi target masuk final sepakbola PON Papua. Dalam kaitan itu, saya menerapkan standar tinggi kepada pemain, yakni fisik, teknik, taktik dan mental. Semua itu merupakan kunci keberhasilan sebuah tim sepakbola,”
Hal itu diungkapkan Fakhri Husaini sejenak menerima tawaran sebagai pelatih skuat PON Aceh, yang baru sukses meraih juara di Porwil Bengkulu.
Fakhri Husaini mencampakkan posisi sebagai asisten pelatih Timnas U-19 sejenak PSSI mengontrak pelatih dari Korea Sin Tae Yong. Bagi seorang Fakhri, kehormatan dan rasa cinta daerah adalah segalanya. Sebagai figur pelatih yang sukses mengantarkan PSSI U-19 menjadi juara Grup K menuju Piala Asia di Uzbekistan, pria kelahiran 27 Juli 1965 itu merasa seperti dicampak di tengah jalan. Ia pun langsung memilih pulang kampung. “Saya belum pernah memberi kontribusi terhadap sepakbola Aceh selama karier sebagai pemain maupun pelatih. Ini kesempatan saya memberikan yang terbaik untuk sepakbola Aceh,” tuturnya kala itu.
Dan obsesi final itu pun kini sampai sudah. Dengan rasa bangga, Coach Fakhri menggiring Akhirul Wahdan dkk masuk Stadion Mandala, satu jam ke depan, untuk menapak laga final.
Fakhri ternyata memang bukan bukan tong kosong. Ia benar benar menerapkan standar tinggi kepada pemain, yakni fisik, teknik, taktik dan mental. “Semua itu merupakan kunci keberhasilan sebuah tim sepakbola,” pungkas entrenador sekaligus mantan pemain yang penuh talenta itu.
Fakhri menyandang peran seperti Luigi Del Neiri saat melambungkan Keledai Terbang Chievo Verona menuju Seri A Italia di dekade 90-an. Ia melatih sebuah tim bukan karena bintang, tapi malah mencetak bintang, dengan standar tinggi yang ia terapkan.
Sebagai pelatih ia mungkin mirip dengan coach Joachim Loew yang bertangan dingin saat melatih Deer Panzeer Jerman. Selalu siap memberi honour kepada para pamainnya yang telah tampil mati matian di lapangan. “Saya mengucapkan terima kasih kepada para pemain atas perjuangan yang mereka perlihatkan hari ini,” kata Fakhri sejenak anak asuhnya membekapJatim serta melaju ke final dua hari lalu.
Sebagai putra Aceh,Coach Fakhri juga memahami konsep religi yang dianut rakyat Aceh. Ia secara terbuka menyatakan sukses yang diraih tak lepas dari dukungan moril seluruh masyarakat Aceh. “Dan juga kepada seluruh masyarakat Aceh, tentu kemenangan ini ada peran dan andil dari doa yang dipanjatkan di setiap rumah di Aceh ketika mereka menyaksikan perjuangan para pemain,” tutur Fakhri bakda duel semifinal yang menyesakkan itu.
Mengilas sejarah, Fakhri menjejaki karier profesional sebagai pesepakbola di Bina Taruna (Jakarta) pada 1984. Lima tahun berselang, ia meninggalkan klub tersebut dan memilih Lampung Putra sebagai tim barunya. Setelah itu bergabung dengan Petrokimia Putra.
Ia bertahan di Petrokimia selama satu setengah tahun. Pada akhirnya, Fakhri pun memilih Pupuk Kaltim (PKT). Kelak, bersama PKT inilah kariernya mulai dikenal. Beralasan, karena di klub tersebut ia berkiprah selama 9 musim.
Sebagai pemain, prestasi terbaiknya yakni mengantarkan PKT menjadi finalis Liga Indonesia musim 1999/2000.
Setelah gantung sepatu, Fakhri Husaini menerima pinangan PKT Bontang sebagai asisten pelatih pada 2000-2003. Jabatan serupa juga diemban di Timnas U23 asuhan Peter White pada 2004-2005.
Sementara sebagai kepala pelatih, Fakhri mengawali kariernya saat menukangi Tim PON Kalimantan Timur pada 2008.
Fakhri Husaini akhirnya dipanggil untuk menjadi kepala pelatih PKT yang saat itu berubah nama menjadi Bontang FC di musim 2008/2009. Ia membawa tim berjuluk Laskar Bukit Tursina itu bercokol di peringkat 13. Satu musim berselang, peruntungan Fakhri membaik. Bontang FC diantarnya ke posisi 11.
Jatuh bangun Fakhri Husaini semakin membuatnya terasah. Seiring pengalaman, karier Fakhri Husaini sebagai pelatih mulai menanjak tatkala menukangi timnas usia muda. Pada medio 2014-2015, Fakhri ditunjuk menukangi timnas U17 dan timnas U19.
Pada 2017, ia berhasil membawa Timnas U16 lolos dari fase Kualifikasi Piala Asia U16 yang kala itu berada satu grup dengan Thailand, Timor Leste, Laos dan Kepulauan Mariana Utara.
dalam memoles timnas usia muda pun patut diacungi jempol. Bukan semata-mata sukses mengantarkan lolos ke putaran final Piala Asia U16 dan U19, atau sejumlah prestasi lainnya. Melainkan mengubah posisi pemain yang bukan berada di posisi biasanya.
Ada fakta menarik ketika Fakhri Husaini menolak timnas U-19 Indonesia dan memutuskan untuk melatih tim PON Aceh U-20. Secara target, coach putra Lhokseumawe itu telah melunasi beban yang diberikan kepadanya. Siang ini hanya untuk pembuktian ke sekian kali, apakah standar tinggi yang ia terapkan berujung sukses melebihi ekspektasi? Karena rangkaian pressure telah dilalui para Rencong Muda. Sempat dianggap sebelah mata, lalu meraih juara di kandang lawan, hingga terseok berat dalam perjalanan menuju laga puncak. Karenanya, semua bisa terjadi, dan Fakhri beserta anak asuhnya kembali memberi bukti.




















