RENCANA peningkatan jalur strategis Banda Aceh – Aceh Jaya kembali menjadi perhatian. Jalur ini selama puluhan tahun menjadi urat nadi penghubung antara wilayah Barat dan Selatan Aceh dengan ibu kota provinsi. Tantangan utama terletak di kawasan perbukitan Paro, Kulu, dan Geurute, di mana kemiringan jalan, curah hujan tinggi, serta potensi longsor kerap menghambat mobilitas barang dan manusia.
Tokoh Barat Selatan Aceh (Barsela) Mayjen TNI (Purn) Teuku Abdul Hafil Fuddin SH SIP MH, menawarkan opsi pembangunan jalan layang pesisir (Lhoknga–Lamno), setelah sebelumnya mencuat alternatif pembuatan terowongan menembus perbukitan Geurute. Bagi mantan Pangdam IM itu, keduanya bertujuan sama — mempercepat konektivitas dan menekan risiko bencana — namun memberikan dampak ekonomi berkelanjutan yang sangat berbeda.
Berikut uraian TA Hafil yang juga mantan Pangdam Iskandar Muda tahun 2018, terkait kedua alternatif itu.

- Jalan Layang Pesisir: Infrastruktur yang Menumbuhkan Ekonomi
Pilihan membangun jalan layang menyusuri pesisir barat bukan sekadar solusi teknis, tetapi langkah strategis membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru. Dengan panjang sekitar 25 kilometer, jalur ini dapat dirancang sejajar dengan garis pantai, melewati kawasan wisata Ujong Pancu, Lhoknga hingga Lamno yang memiliki potensi wisata dengan panorama eksotis dan perikanan yang tinggi.
Dari sisi biaya, pembangunan jalan layang di atas garis pantai jauh lebih efisien. Berdasarkan perbandingan proyek sejenis di Indonesia, biaya jalan layang pesisir rata-rata berkisar antara Rp150–250 miliar per kilometer, tergantung kondisi lahan dan bentang struktur. Sementara itu, biaya terowongan pegunungan dapat mencapai Rp600 miliar hingga Rp1 triliun per kilometer, belum termasuk biaya sistem keamanan, ventilasi, dan mitigasi gempa.
Lebih dari sekadar hemat biaya, jalur layang pesisir juga memberi multiplier effect yang langsung dirasakan masyarakat:
- Menghidupkan sektor pariwisata pesisir,
- Membuka akses bagi nelayan dan UMKM pesisir,
- Memperluas konektivitas logistik untuk produk pertanian dan hasil laut,
- Mendorong investasi baru di sektor perhotelan dan ekonomi kreatif.
Pemandangan laut yang spektakuler dapat menjadikan jalur ini sebagai ikon baru Aceh, seperti Great Ocean Road di Australia atau Jeju Coastal Road di Korea Selatan. Infrastruktur ini tak hanya menghubungkan wilayah, tapi juga memperkuat identitas ekonomi pesisir Aceh.
- Terowongan Geurute: Solusi Teknis Berbiaya Tinggi
Pembangunan terowongan menembus gunung Geurute memang tampak menjanjikan dari sisi waktu tempuh, namun memiliki tantangan besar dalam aspek biaya, geologi, dan perawatan. Kondisi tanah dan batuan di kawasan tersebut bersifat heterogen, rawan gempa, serta memiliki sejarah longsor besar.
Dalam studi awal PUPR, pembuatan terowongan sepanjang 6–8 kilometer memerlukan:
- Struktur ventilasi dan sistem drainase bertekanan tinggi,
- Pemantauan seismik kontinu,
- Sistem evakuasi darurat multiakses.
Biaya perawatan tahunan juga jauh lebih besar dibanding jalan layang. Di Norwegia, biaya pemeliharaan terowongan laut misalnya mencapai 2–3 persen dari nilai proyek per tahun. Jika diterapkan di Geurute, beban fiskal untuk pemerintah daerah akan cukup berat.
Selain itu, terowongan memiliki nilai ekonomi turunan yang terbatas. Tidak ada ruang bagi ekonomi lokal tumbuh di dalam atau di sekitar terowongan. Aktivitas UMKM, rest area, atau wisata tidak bisa dikembangkan. Terowongan hanya mempercepat perjalanan, namun tidak menumbuhkan kegiatan ekonomi baru.
- Analisis Perbandingan Ekonomi dan Sosial
Aspek Jalan Layang Pesisir Biaya Konstruksi Rp150–250 miliar/km, Terowongan Geureutee Rp 600 miliar–1 triliun/km
Biaya Pemeliharaan Tahunan Rendah (jalan terbuka, mudah diawasi)
Terowongan Geurutee Tinggi (ventilasi, drainase, keselamatan)
Dampak Ekonomi Lokal Tinggi – membuka akses wisata, nelayan, UMKM
Terowongan Geureutee dampak ekonomi Rendah – tertutup, tidak berdampak langsung
Risiko Geoteknik & Gempa Sedang – mitigasi dengan desain tahan gelombang
Terowongan Geureutee Tinggi – potensi retak, longsor, banjir bawah tanah
Daya Tarik Wisata Jalan Layang, Tinggi – panorama laut & sunset Lhoknga–Lamno
Sedangkan terowongan Geureutee Rendah – jalan tertutup tanpa pemandangan
Dampak Sosial dan Pemerataan Menyebar, menghidupkan desa pesisir T
Sementara dampak sosial terowongan Geurutee terbatas di kawasan sekitar portal terowongan
Kontribusi ke PAD dan UMKM Besar – potensi ekonomi pesisir terbuka
Kontribusi terowongan untuk PAD sangat minim, ekonomi terbatas di luar terowongan
- Perspektif Jangka Panjang: Konektivitas dan Ketahanan Wilayah
Secara strategis, jalan layang pesisir juga menjadi bagian dari Koridor Barat Aceh–Sumatera, yang suatu saat akan terhubung hingga ke perbatasan Simeulue dan Nagan Raya. Jalur ini memiliki fungsi ganda:
- Sebagai rute evakuasi tsunami karena struktur elevasinya tinggi dan aman;
- Sebagai jalur alternatif militer dan logistik nasional bila jalur utama lintas tengah terganggu.
Dengan demikian, pembangunan jalan layang pesisir bukan sekadar proyek infrastruktur sipil, melainkan investasi pertahanan dan ketahanan nasional.
- Kesimpulan: Ekonomi, Estetika, dan Keberlanjutan
Jika diukur dari seluruh indikator ekonomi, sosial, dan keberlanjutan lingkungan, jalan layang pesisir Lhoknga–Lamno lebih unggul daripada opsi terowongan Geurute.
Proyek ini mampu menjadi katalis bagi revitalisasi ekonomi pesisir barat Aceh, membuka lapangan kerja baru, dan menumbuhkan sektor wisata kelas dunia tanpa mengorbankan keseimbangan alam.
Infrastruktur bukan sekadar jalan penghubung, tetapi simbol visi pembangunan yang berorientasi pada rakyat, kemandirian ekonomi, dan keindahan Aceh sebagai Serambi Mekkah. Dengan memilih jalur layang pesisir, Aceh tidak hanya membangun jalan — tetapi membangun masa depan, demikian TA Hafil.



















