BANDA ACEH | ACEHHERALD.com – Pengurus Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Aceh, dilantik untuk masa kepemimpinan 2023-2027.
Ketua PWPM Aceh, Zul Hafiyan, mengatakan, Pemuda Muhammadiyah didorong kembali pada semangat keummatan, dengan menjadikan masjid sebagai basis untuk dimakmurkan, lalu berjuang mewujudkan kemajuan pemuda.
“Sesuai dengan tema pelantikan kita. Maka kita terus memakmurkan masjid, mensejahterakan umat dan pemuda negarawan untuk Aceh berkemajuan,” katanya di Aula Hotel Grand Nanggroe, Selasa (30/1/2024).
Menurut Zul Hafiyan, PWPM Aceh selalu berpegang teguh pada landasan Al Quran dan sunnah sebagai panduan hidup yang tidak akan sesat hingga akhir zaman.
Sebab, agama Islam merupakan risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW menjadi rahmatan lil’alamin, selalu relevan dengan zaman sebagai tuntunan hidup untuk mencapai ridha Allah SWT, tuturnya.
Zulhafian menginformasikan, Pemuda Muhammadiyah di Aceh saat ini memiliki PDPM di 23 kabupaten/kota, dengan jumlah PCPM 125 kecamatan, dan lebih dari 500 ranting di tingkat gampong, serta ada 20 ribu anggota aktif hingga hari ini.
Dalam kesempatan yang sama, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Machendra Setya Atmaja mengingatkan pengurus PWPM Aceh baru dilantik untuk tetap amanah melaksanakan apa yang sudah diucapkan, dijanjikan dalam pengukuhan ini benar-benar direalisasikan secara paripurna.
Ia menganalogikan, dalam menjalankan roda organisasi ini bisa diterapkan seperti tiga hal dalam filosofi kopi, yaitu mulai dari pemilihan biji kopi, meracik hingga menikmati kopi.
Dalam memilih kopi pun, harus melihat program yang terbaik dan yang paling bermanfaat. Seperti program bergerak dari masjid, itu baik sebagai pondasi awal dalam sebuah gerakan, katanya lagi.
Pihaknya berharap, dalam meracik program kedepannya, dirinya berharap PWPM Aceh mampu bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah provinsi dan hingga daerah, serta legislatif DPR Aceh maupun DPR kabupaten/kota se Aceh.
“Membuka komunikasi dengan Pemerintah Aceh, DPR Aceh serta berbagai stakeholder lainnya di Aceh, ini sangat penting dilakukan untuk mewujudkan Aceh yang berkemajuan seperti yang diharapkan,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki dalam pidatonya yang dibacakan Plh Staf Ahli Bidang Keistimewaan Aceh, Danil Arca menyampaikan, empat pilar yang digaungkan PWPM Aceh ini memiliki relevansi tinggi terhadap permasalahan yang dihadapi
<span;>bangsa.
Pilar pertama terkait Islam berkemajuan, adalah pandangan keagamaan yang berorientasi, mempertinggi dan memajukan kehidupan manusia, memerangi keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan dan kemerosotan akhlak.
“Pilar ini hanya dapat tegak bila kita berkomitmen untuk selalu menghadirkan pembaruan. Saya merasa bahwa kekuatan intelektual merupakan potensi utama Pemuda Muhammadiyah,” ujarnya.
Harapannya, Pemuda Muhammadiyah Aceh dapat memiliki andil dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, di Aceh khususnya.
Menyikapi suatu ilmu atau teknologi, maka harus menjauhi sikap apriori dan sikap pilih kasih. Semua ilmu memiliki nilainya sendiri yang berharga untuk dipelajari, dan setiap teknologi punya keunikan yang menunggu untuk dikuasai.
Semangat keilmuan, tambah Arca, mendukung pilar selanjutnya, yaitu kewirausahaan sosial, dirinya sangat menghargai ini, dan ditafsirkan sebagai janji Pemuda Muhammadiyah untuk memperkuat dan memberdayakan ekonomi kerakyatan demi memberikan jalan bagi masyarakat untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Pj Gubernur, percaya logika politik Pemuda Muhammadiyah yang dilandaskan pada nilai-nilai luhur kebangsaan dan keislaman, tidak akan mendudukkan politik hanya sebagai motor menuju kekuasaan semata, tetapi lebih dari itu.
“Politik bukan hanya sebagai kendaraan untuk mempromosikan kekuasaan, melainkan sebagai jembatan menuju tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Danil Arca.
Laporan: Andika Ichsan





















