Yang Tersisa dari Debat 1, Mulai dari Nyinyir Soal Mengajii Hingga Klaim Kedekatan dengan Istana

Terlepas dari kehadiran pendukung yang berfungsi sebagai tim sorak, namun fungsi itu juga terlihat sebagai bentuk ‘teror mental’ bagi kubu lawan. Terutama dibuktikan dengan bentuk dukungan yang lebih menggelegar, hingga terkesan seperti menonton sepakbola, konser musik atau malah cerdas cermat.

Iklan Baris

Lensa Warga

DEBAT perdana dalam ajang kontestasi politik Pilkada Aceh dengan menghadirkn dua pasangan calon (Paslon), Bustami Hamzah/M Fadhil Rahmi (Paslon 01) dan Muzakir Manaf/Fadhlullah (Paslon 02) telah berlangsung sesuai rencana, Jumat (25/10/2024), di Gedung Amel Covention Hall, Punge Banda Aceh. Kegiatan yang dilakukan KIP Aceh itu terhitung sukses dan berlangsung kondusiv.

Banyak ide cemerlang yang dikemukakan kedua paslon, namun ada beberapa catatan kaki yang menarik untuk disimak. Yaitu dominannya komunikasi Calon Wakil Gubernur dalam memberikan tanggapan, terutama Fadhlullah atau Dek Fadh di kubu 02. Muzakir Manaf terlibat nyaris sebagai backing vokal. Termasuk Om Bus yang lebih banyak memberi kesempatan kepada Syech Fadhil untuk menanggapi pertanyaan dari kubu sebelah.

Terlepas dari kehadiran pendukung yang berfungsi sebagai tim sorak, namun fungsi itu juga terlihat sebagai bentuk ‘teror mental’ bagi kubu lawan. Terutama dibuktikan dengan bentuk dukungan yang lebih menggelegar, hingga terkesan seperti menonton sepakbola, konser musik atau malah cerdas cermat.

Tak ayal moderator selaku pembawa acara beberapa kali terlihat menenangkan massa, dalam acara yang berlangsung live melalui multiplafond media itu. Kedewasaan ‘supporter’ memang butuh peningkatan di sesi debat selanjutnya.

Sementara menyangkut materi debat dan program yang akan dibawakan kedua pihak terhitung ideal ideal saja. Paslon 01 Om Bus dan Syech Fadhil misalnya yang bertekad untuk memperjuangkan agar Dana Otsus untuk Aceh tak terbatas hingga tahun 2027 saja, namun hendaknya abadi. Om Bus berjanji Dana Otsus itu kelak akan dikelola secara lebih terarah, hingga benar benar dapat dinikmati rakyat. Tidak malah sebaliknya membuat status Aceh malah lebih miskin. Dana Otsus itu bergulir sejak nyaris dua dekade atau beberapa periode Pemerintah Aceh atau Gubernur/Wakil Gubernur yang lalu.

Baca Juga:  Kapolda Resmikan Gedung Senilai Rp 6 M, Bupati Bicara Bahaya Narkoba
Foto Ist

Om Bus dalam pemaparan visi-misinya berjanji akan melakukan upaya lobby ke pemerintah pusat untuk memperjuangkan Dana Otsus diperpanjang apabila pasangan nomor urut 01 mendapat amanah dan kepercayaan dari rakyat untuk memimpin Aceh lima tahun ke depan.

“Selama kita belum mampu memaksimalkan Dana Otsus, selama itu pula angka kemiskinan di Aceh akan masih sangat tinggi,” imbuhnya.

Di kesempatan itu, Bustami bersama Fadhil juga menyampaikan beberapa program prioritasnya seperti, Pertanian, kehutanan dan perikanan, bahkan reformasi Birokrasi untuk pelayanan publik yang modern dan andal.

Sementara itu, pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor urut 2, Mualem-Dek Fadh dalam kesempatan itu menyampaikan, jika mereka dipercaya oleh rakyat untuk memimpin Aceh, akan menjalankan syariat Islam secara kaffah. Pihaknya akan mewujudkan kekhususan dan keistimewaan Aceh sesuai dengan MoU Helsinki.

Sedangkan di sektor ekonomi, Mualem-Dek Fadh akan mengupayakan kemandirian ekonomi Aceh yang berbasis pada sektor unggulan Aceh. Serta akan memperhatikan sektor pelayanan publik dan menjaga perdamaian Aceh, membina stabilitas politik dan melestarikan lingkungan hidup.

Yang justru terasa ada aroma agak lain dalam debat itu adalah klaim kedekatan Paslon Mualem-Dek Fadh dengan istana di Jakarta. Dengan asumsi ada jalur paralel dari sisi partai pengusung. Justru hal yang terasa keluar dari koridor debat itu disanggah secara lugas oleh Om Bus, yang mengatakan, ketika seseorang terpilih sebagai pemimpinm tentu ia telah menjadi Pemimpin Rakyat, bukan lagi sosok Pemimpin partai pengusung.

Masalahnya, Bustami telah membuktikan, jika dirinya mampu menuntaskan sengkarut tanah Jaln Tol Sibanceh hanya tiga hari menjabat sebagai Pj Gubrenur Aceh. Bustami pula yang sukses mengembalikan kepercayaan Jakarta untuk menghidupkan kembali Proyek Strategis Nasional (PSN) yang seharusnya sudah ‘menutup’ pintu untuk Aceh.

Baca Juga:  Aceh Hanya Kebagian 30 Persen di Blok Andaman

Ada ‘nyanyian sumbang’ Mualem saat membacakan pantun di penutup pernyataannya, yaitu intinya mengatakan, tak usah menjadi pemimpin jika tak bisa mengaji. Ini jelas tak tahu arahnya kemana. Karena jika kita jujur, seandainya ada salah satu dari Paslon itu tak bisa mengaji, tentu mereka tak berdiri di podium debat kandidat, karena telah dinyatakan gagal melewati ‘test mengaji’. Karena itulah, pernyataan tersebut malah membuat bias dan tak relevan dengan bahasan dalam debat.

Lagi pula test mengaji kandidat pemimpin dan calon anggota legislatf di Aceh bukanlah ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Yang kadang iramanya merdu, tapi kadang malah ada yang lain dibaca dengan yang tersurah.

Kita berharap untuk debat ke depan, ada baiknya semuanya lebih dewasa dan fokus. Termasuk para pemandu sorak, untuk tidak menjadikan arena debat seperti panggung konser atau stadion sepakbola. Tapi ini debat para calon pemimpin yang tentu saja sangat visioner. Kalau pun panggung konser, ini mirip dengan panggung orkestra yang penontonnya berdasi serta jas lengkap dan minus sorakan. Sekali lagi, ini panggung debat boss, bukan tempat laga ayam!!

Kata Kunci (Tags):
pilkada aceh, bustami hamzah, mualem, pilkada aceh

Berita Terkini

Haba Nanggroe