
BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Setelah melalui proses penilaian selama empat bulan, dari 115 orang peserta dan 74 hasil karya arsitektur untuk gedung baru Kantor Pusat Bank Aceh Syariah (BS) , dewan juri akhirnya memutuskan hasil karya peserta dengan nomor SBJ BA 081 dengan titel ‘Seulanga Timoh’ sebagai juara sayembara. Dengan demikian, ‘Seulanga Timoh’ menjadi Gedung pusat BAS masa depan, setelah empat tahun bank milik pemerintah ceh itu, menyewa tokp untuk perkantoran, akibat terbakarnya Kantor Pusat Operasional (KPO), April 2016.
Sementara juara dua adalah karya arsitektur dengan judul Taman Kantor Seulanga oleh peserta dengan nomo SBJ BA 026. Sedankan juara tiga adalah peserta dengan nomor SBJ BA 005, dengan karya arsitetur berjudul Kantor Hijau. Ketiga karya itu lolos dari seleksi delapan besar, dengan arsitektur mengedepankan muatan lokal Aceh, serta juga logo BAS berupa Bungong Seulanga.
Para pemenang mendapatkan piala serta uang tunai, dengan rincian juara 1 Rp 150 juta, juara 2 Rp 60 juta serta juara 3 Rp 30 juta.
Para peserta sayembara arsitektur gedung induk BAS itu bukan hanya berasal dari Aceh, namun juga dari luar Aceh. Bahkan termasuk dari Singapura, yang juga arsitek kelahiran Aceh yang berkarya di Singapura. Karya Seulanga Timoh sendiri adalah karya dari gabungan beberapa arsitek dari Lembaga Perguruan Tinggi ternma di negeri ini, antara lain dari ITB, UGM serta lainnya.
Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT yang juga seorang arsitek sekaligus sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP), mengumumkn langsung pemenang tersebut, dalam acara yang berlangsung meriah di Ballroom Hermes Palace Hotel, Jumat (14/2/2020) malam. Plt Gubernur yang didampingi Dirut Bank Aceh Syariah Haizir Sulaiman SH MH , Dewan Juri yang dipimpin oleh Ahmad Juhara yang juga Ketua Ikatan Arsitektur Indoneia (IAI), menyerahkan hadiah kepada para pemenang.

Nova Iriansyah dalam sambutan singkatnya mengharapkan agar pembangunan fisik Gedung segera dilakukan, dan diharap selesai selama dua tahun ke depan. Diperkirakan gedung baru itu akan menelan dana Rp 200 milyar, tidak termasuk dengan mobiler dan peralatan lainnya. Dengan kata lain, Rp 200 milyar hanya untuk fisik Gedung.
Nova secara khusus mengucapkan selamat kepada direksi dan komisaris yang baru dilantik. Ia berharap kehadiran direksi dan komisaris baru itu akan memunculkan super team di BAS. “Lupakan rivalitas masa lalu yang memunculkan komunikasi yang stagnan. Saatnya membuka lembaran baru dengan sinergitas dan soliditas yang jauh lebih baik. Terutama meningkatkan kontribusi BAS untuk pengurangan kemiskinan di Aceh, dengan menyalurkan kredit produktif hingga format 20 persen sesuai ketentuan dari BI,” tandas Nova.
Sementara Dirut Bank Aceh Syariah, Haizir Sulaiman SH MH dalam sambutannya mengurai tentang lima tahapan penting yang telah dilalui manajemen BAS yang sebelumnya bernama Bank BPD Aceh. Tahapan itu dimulai dengan krisis moneter tahun 1997-1999 yang membuat Bank BPD jadi pasien BPPN, konflik berkepanjangan di Aceh, mega musibah gempa dan tsunami 26 Desember 2004, kebakaran Gedung induk pril 2016 dan kini pembangunan Gedung baru yang akan segera direalisasikan. “Alhamdulillah empat tahap pertama berhasil dilalui, walau ada bank yang terpaksa gulung tikar atau ditutup akibat krisis moneter, namun Baank Aceh mampu melaluinya,” tutur Haizir.
Menurut Haizir kepada pers sejenak usai acara, geduyng baru itu nantinya berlokasi di Jalan Panglima T Nyak Makam Lampinueng, atau di sisi Kantor BPTP, lebih tepatnya lokasi Pasar Tani saat ini, yang digelar setiap Hari Rabu. Kantor baru itu memiliki luas areal tanah sebesar 7300 meter persegi. Pihak manajemen Bank Aceh Syariah memprediksikan pembangunan fisik itu selama 20 bulan. Namun sejauh ini belum sampai pada tahap tender.
Penulis : Nurdinsyam



















