Sapi Mati di Abdya Terus Bertambah, Distanpan Bertahan Masih Terindikasi PMK

BLANGPIDIE I ACEH HERALD TERNAK Sapi mati di kawasan Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), yang diyakini terpapar wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), jumlahnya terus bertambah. Laporan terbaru diterima Aceh Herald.com, Senin (13/6/2022), satu ekor ternak sapi mati di areal kebun kelapa sawit sekitar bantaran aliran krueng (sungai) Krueng Babahrot. Sapi yang mati … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

FOTO IST Sapi milik Sumardi ditemukan mati di areal kebun sawit kawasan bantaran Sungai Babahrot, Abdya, Senin (13/6/2022). Sapi tersebut diklim mati akibat terkena wabah PMK.

BLANGPIDIE I ACEH HERALD

TERNAK Sapi mati di kawasan Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), yang diyakini terpapar wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), jumlahnya terus bertambah.

Laporan terbaru diterima Aceh Herald.com, Senin (13/6/2022), satu ekor ternak sapi mati di areal kebun kelapa sawit sekitar bantaran aliran krueng (sungai) Krueng Babahrot. Sapi yang mati tersebut milik Sumardi, warga Desa Cot Seumantok, Kecamatan Babahrot.

Itu berarti selama lebih dari dua pekan terakhir, ternak sapi yang mati di kawasan Gampong Cot Seumantok, tercatat sedikitnya 10 ekor.

Tidak kurang 8 ekor sapi milik Ilyas yang dilepas di daerah lokasi Lhueng Manee/Lahan Seuribee, juga merupakan wilayah Gampong Cot Seumantok, padalaman Kecamatan Babahrot.

Satu ekor sapi yang dilaporkan mati sebelumnya adalah milik Zubier Munthaha. Induk sapi tersebut ditemukan mati di areal kebun sawit PT Cemerlang Abadi (CA), kawasan Gampong Cot Seumantok.

Sedang Zubier sendiri adalah warga Gampong Alue Sungai Panang, Kecamatan Jeumpa. Dia punya puluhan ternak sapi yang dipelihara dengan melepas di areal kelapa sawit milik PT CA di Cot Seumantok.

Sumardi kepada Aceh Herald.com menjelaskan, 60 ekor sapi yang dipelihara dengan melepas di kawasan Pantai atau Bantaran Krueng (Sungai) Babahrot.

Rata-rata sapi yang dipelihara Sumardi diyakini terkena serangan atau terpapar PMK yang sedang mewabah di sejumlah kabupaten di Aceh.

Klaim terpapar PMK karena gejala awal saja sudah lebih dari cukup. Seperti mulut ternak bukan saja berbuih, tapi bibir ternak tersebut bengkak dan luka-luka sehingga tidak bisa merumput.

Demikian juga kuku ternak sapi, bukan saja bengkak, melainkan sudah bernanah, berulat selanjutnya kuku terlepas sehinga sapi bersangkutan tidak bisa bergerak berhari-hari. “Jadi, menurut kami bukan lagi gejala atau terindikasi, tapi sudah kena sampai mati,” tagas Sumardi.

“Dari sekitar 60 ekor sapi saya pelihara tidak kurang 11 ekor terkena serangan terparah, satu ekor saya temukan mati pagi tadi,” kata Sumardi, Senin (13/6/2022) siang.

Sapi yang berumur sekitar enam tahun itu ditemukan mati tergeletak di areal kebun sawit milik orang lain kawasan bantaran Krueng Babahrot.

Ada sekitar 10 ekor sapi yang kondisinya parah. Penanganan yang bisa dilakukan secara tradisional, yaitu luka pada mulut dan kuku kaki diolesi debgan air perasan kunyit dan memberi minum obat sejenis jamu.

Sumardi mengaku pernah melapor secara lisan kepada petugas kesehatan hewan kecamatan ketika turun ke lokasi Lhueng Manee, beberapa hari lalu. Tapi petugas tersebut mengaku belum tersedia obat.

Akhirnya, ada sejumlah pemilik ternak berinisiatif membeli obat secara swadaya, kemudian disuntik dengan bantuan orang lain.

Sumardi mengaku heran kenapa petugas dari Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, terkesan tidak percara kalau PMK sudah terjangkit di kawasan Cot Seumantok, daerah pedalaman Kecamatan Babahrot.

Karena petugas tersebut hingga hari ini tetap menyatakan masih terindikasi atau bergejala PMK. “Bagaimana disebut terindikasi kalau secara nyata sejumlah ternak sapi sudah terkapar dengan kondisi mulut luka-luka dan kuku berulat,” tegas Sumardi.

Dia mengaku tidak melapor ke Posko Babahrot sehingga menjadi alasan petugas tidak turun ke lapangan. “Saya rasa tanpa melapor pun, dari info beredar saja petugas sudah tahu bahwa banyak ternak sapi dan kerbau di Cot Seumantok terkena serangan PMK, bahkan sejumlah ternak sapi sudah mati,” tambahnya.

Baca Juga:  Rumah Janda Syarifah Tertimpa Pohon Kelapa, Bhabinkamtinmas Turun Tangan

Ternak sapi milik warga yang diklaim diserang wabah PMK, dilaporkan sejumlah diantaranya ditemukan mati di areal kebun kelapa sawit PT CA.

Ada juga ternak sapi yang mati sekitar kebun sawit milik warga, seperti lokasi dekat kebun Murfid.

Ternak sapi tersebut sangat diyakini terkena serangan PMK yang diperkirakan menular dari ternak yang dibawa dari luar daerah, kemudian dilepas di kawasan tersebut.

Sementara Kepala Dustanpan Abdya melalui Kabid Peternakan, drh Laili Suhairi dihubungi Aceh Herald.com, Senin siang, mengaku belum menerima laporan kalau ada sapi mati di kawasan Cot Seumabtok, Babahrot.

Padahal, Posko Penanggulangan PMK Wilayah I di Puskeswan Babahrot, sudah dibentuk sejak 30 Mei lalu.

Padahal kalau ada laporan, petugas turun ke lapangan untuk melihat riwayat sapi dan siapa pemliknya.

Ketika diperlihat foto sapi milik Sumardi yang ditemukan mati, Senin pagi, Kabid Peternakan, Laili Suhairi berkomentar bahwa kalau kita perhatikan foto, kondisi sapi tersebut sangat kurus.

Terkait klaim warga sapi mati terkena wabah PMK, Laili mengatakan, kita tidak bisa pastikan sudah terkena PMK, karena bukan petugas yang mengerti yang memeriksa.

Sekarang tetap masih terindikasi. Lagi pula, katanya, sampel swab dan darah yang diambil petugas dari Tim dari Balai Veteriner PKH Medan, di sejumlah titik kandang di Abdya, pada 3 Juni lalu, hingga sekarang (Senin-13/6/2022), belum keluar hasilnya.

Bahkan menurutnya, kalau pun ada ternak diserang PMK, tidak menyebabkan kematian mendadak, tapi menampakkan gejala.

Kematian, katanya, biasanya di sebabkan ternak tidak ditangani atau diobati yg menyebabkan ternak tidak bisa makan atau kasus yg berat tdk bisa berjalan sehingga kondisinyamemburuk dan berakhir dengan kematian.

Ditanya, respon petugas lapangan dinilai masih kurang, Laili Suhairi menjelaskan, petugas dari Puskeswan Babahrot sudah pernah turun ke Lhueng Manee, daerah kawasan Gampong Cot Seumtok, termasuk Gampong Blang Raja, untuk suntik antibiotik terhadap sejumlah ternak sapi.

Kendala yang dihadapi, menurut Laili ternak sapi tidak dikandangkan melainkan dilepas begitu saja oleh pemiliknya dalam areal kebun kelapa sawit, baik kebun milik perusahaan dan kebun masyarakat.

Namun, pihaknya terus berusaha memberikan penyuluhan seperti sapi tidak boleh dilepas. Kemudian, kandang sapi sudah disemprot disinfektan untuk membunuh kuman. “Kita sudah melakukan penyemprotan kandang sapi di sejumlah lokasi bersama personel dari Polres Abdya, sekaligus memberikan penyuluhan,” kata Laili Suhairi.

Petugas dari Puskeswan Kecamatan hingga Senin tetap turun lapangan untuk melihat kondisi ternak sapi yang terindikasi PMK.  “Petugas di Kecamatan Babahrot hari ini (Senin) berada di lapangan, termasuk melihat sapi milik Sumardi di Cot Seumantok,” kata Laili.

Seperti diberitakan Aceh Herald.com, Minggu, 12 Juni 2022, bahwa Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang ternak kerbau dan sapi diyakini sudah terjangkit di Kabupten Abdya. Dilaporkan, puluhan ternak sapi dan kerbau terserang dengan kondisi mulut berbuih dan bibir dan kuku bengkak.

FOTO/IST Sejumlah sapi milik Zubir Munthaha di areal kebun sawit PT CA di Gampong Cot Seumantok, Babahrot, Abdya. Puluhan sapi tersebut susah bergerak setelah dari mulut keluar buih, bibir dan kuku bengkak srhingga diyakini terpapar PMK.

Bahkan, sedikitnya sembilan ekor ternak sapi telah mati yang diyakini akibat terpapar serangan penyakit menular tersebut. “Saya punya sekitar 60 ternak sapi, rata-rata sudah terserang,” kata Sumardi, warga Gampong Cot Seumantok, Kecamatan Babahrot kepada Aceh Heraldl.com, Sabtu (11/6/2022) sore.

Baca Juga:  Perkuat Basis Data, BPS Aceh Gelar Apel Siaga Sensus Pertanian 2023

Ternak sapi tersebut dipelihara dengan melepas di kawasan pantai atau bantaran aliran sungai (krueng) Babahrot.

Rata-rata ternak milik Sumardi, sekarang ini dalam kondisi mulut mengeluarkan berbuih (busa putih). Bibir dalam keadaan bengkak dan luka sehingga sulit makan rumput.

Kuku juga bengkak sehingga sulit bergerak. “Tiga ekor sapi diantaranya sudah saya kandangkan karena sulit makan dan berjalan,” tambah Sumardi.

Penanganan dilakukan secara tradisional mengobati bibir sapi yang luka dengan air perasan kunyit. Sapi yang terserang juga diberikan minum obat sejenis jamu.

Sumardi, yakin bahwa penyakit menyerang ternak sapi dan kerbau yang sangat meresahkan itu adalah penyakit mulut dan kuku atau PMK.

Ternak yang terserang, selain di kawasan Cot Seumantok, terutama daerah Lhueng Manee, juga Gampong Teuladan Jaya, Simpang Gadeng dan Blang Raja, Kecamatan Babahrot.

Sumardi menjelaskan, ternak sapi milik warga sudah banyak yang mati. “Ternak sapi milik tetangga saya, Ilyas sudah 8 ekor sapi mati, belum lagi ternak milik warga yang lain, termasuk kerbau selama dua pekan terakhir,” katanya.

Ternak sapi yang mati itu setelah tidak bisa makan rumput akibat mulut mengalami luka, dan tidak berjalan setelah kuku mengeluar nanah dan ulat.

Ada juga beberapa ternak yang terserang kemudian disembelih oleh pemiliknya. Ternak sapi yang disembelih itu tampak kukunya sudah terlepas atau copot. “Tampak kukunya terlepas ketika daging sapi masih utuh satu kaki digantung untuk dijual. Ya, ada juga membeli dengan harga murah, tapi banyak pula warga takut mengkonsumsinya,” ungkapnya.

 

Warga lain, Zubir Munthaha, warga Alue Sungai Pinang, Kecamatan Jeumpa yang memelihara puluhan ternak sapi dengan melepas di areal perkenan kelapa sawit PT Cemerlang Abadi (CA) di Babahrot, juga mengaku sebagian besar sapi miliknya terserang PMK.

Sapi yang terserang awalnya dalam keadaan linglung (termenung). Lalu, mulut berbuih, bibir bengkak dan luka. Kuku bengkak, tidak lama keluar nanah dan ulat sehingga sulit berjalan.

Satu ekor ternak sapi milik Zubir yang dilepas di areal kebun sawit PT CA di Gampong Cot Seumantok, Babahrot, mati sekitar satu pekan lalu. “Sapi yang mati itu adalah induknya, banyak sapi lainnya yang terserang,” kata Zubir yang terkenal banyak sapi peliharaan dengan melepas itu.

Dia menjelaskan, para pemilik sapi dan kerbau di Gampong Cot Seunantok sekitarnya, sekarang ini sibuk membuat kandang untuk mengumpulkan ternak yang terserang penyakit.

Selain mengobati secara tradisional, sejumlah pemilik ternak juga membeli obat sejenis vaksin untuk disuntik ke ternak yang sakit.

Info diperoleh Aceh Herald.com, selain daerah Kecamatan Babahrot, penyakit yang diduga keras PMK tersebut juga telah terjangkit di Kecamatan Kuala Batee, antara lain di Kuala Baro, daerah sekitar Gampong Lama Tuha.

Kemudian, di Gampong Mata Ie dan Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie. Tapi menurut Laili Suhairi, sapi daerah ini sudah membaik kesehatannya setelah dilakukan pengobatan.(*)

 

Penulis Zainun Yusuf (Aceh Barat Daya)

Berita Terkini

Haba Nanggroe