| Edisi Bandung Creative Hub
Sebanyak 10 pelaku ekonomi kreatif (E-kraf) Aceh diterbangkan ke Bandung, Jawa Barat selama empat hari dengan program Bechmarking dalam bidang pengembangan usaha ekonomi kreatif.
Tim Bachmarking Aceh yang dipimpin Muhamamad, Staf Bidang Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan (PUPK) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, sebelum terjun ke lapangan untuk bertemu secara langsung dengan para pelaku ekonomi kreatif, kami dibawa ke sebuah bangunan berlantai lima berlantai lima yang didalamnya menyimpan sejumlah ide-ide kreatitafitas. Bandung Creative Hub.
Kehadiran Bandung Creatifive Hub memang luar biasa. Di gedung ini manusia-manusia kreatif bisa beinovasi untuk kemajuan ekonomi kreatif di Tanah Parahiyangan.
Bandung Creative Hub, kalau kita lihat dari luarnya hampir-hampri mirip dengan bangunan Museum Tsunami Aceh yang ada di Jalan Sultan Muda atau kawasan Blang Padang, Banda Aceh. Ternyata gedung BCH yang terletak di Jl. Laswi No.7, Kacapiring, Kec. Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat, juga hasil karya desainernya, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Desainer Museum Tsunami Aceh yang terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, jelas hasil karya Dr. (H.C.) H. Mochamad Ridwan Kamil, ST, MUD. Sedangkan gedung BCH dibangun saat Ridwan Kamil menjadi Walikota Bandung dan kini Ridwan Kamil bahkan dipercayakan sebagai Gubernur Jawa Barat.

Ridwan Kamil yang akrap disapa Kang Emil, sebagai seorang kreatif, saat terpilih sebagai Walikota Bandung, 2013 lalu, ia kemudian mendirikan sebuah bangunan berlantai lima dengan sejumlah ruangan kreatif di dalamnya.
Ruang kreatif tersebut yang dilengkapi full AC, tapi sarana pendukung yang ada di dalamnya bisa digunakan oleh siapapun secara gratis. Yang penting warga yang menggunakan gedung itu harus ber-KTP Bandung.
Gedung yang terletak di jalan strategis itu, ya bisa digunakan secara cuma-cuma. Tanpa bayar. Gratis. Namun, jadwal harus disesuaikan. Sehingga tak saling tabrakan antara pemakai ruang yang sama di tempat yang sama.
Tim Bechmarking Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Aceh yang dipimpin Muhammad, Staf Bidang Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan (PUPK) bersama Ketua Badan Promosi Pariwisata Aceh (BPPA), Mirza Rizqan, dan 10 pelaku ekonomi kreatif Aceh, Selasa (21/10/2022) mendapat kesempatan meninjau Gedung Bandung Kreatif Hub tersebut.

Tiba di gedung yang dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Bandung, kami yang juga dipandu petugas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Muhammad Yana yang kini menjabat sebagai koordinator Ekonomi Kreatif, disambut Rizki Sanjaya.
Diterima Rizki, staf subsektor Bandung Kreatif HUB, setelah mendapat penjelasan ringan dan saling sapa, tim Bechmarking Disbudpar Aceh ke Jabar itu kemudian diantar ke lantai lima gedung tersebut dengan menggunakan lift.
Para pelaku ekonomi kreatif asal Aceh yang hadir di Bechmarking Jawa Barat yang dipimpin Muhammad itu, tercatat antaranya, Mirza Rizqan, Tomi Mukhtar, Suryadi, Fitriadi, Mukhlisuddin, Sahreza, Makmur, M Nasir Yusuf, dan Irmanto, staf PUPK Disbudpar Aceh.
Tiba di Lantai V Bandung Creative Hub (BCH), kepada peserta diperlihatkan tiga ruangan, satu di antaranya ruaang desaign yang dilengkapi 10 unit komputer dengan kualitas tinggi. “Ini ada 10 komputer. Harga satu unit komputer yang di ruang ini sekitar Rp 45 juta,” ujar Rizki.
Di komputer ini, para para pemuda, pelajar atau mahasiswa, juga bisa menggunakan perangkat komputer tersebut untuk mengedit vedio atau film. “Ya terserah yang mau digunakan,” ujarnya.
Selama di gedung ini, kami jadi sangat terhormat. Mendapati berbagai informasi yang sangat kami butuhkan. Meski apa yang kami peroleh di BCH, mungkin tidak akan pernah bisa kami kembangkan di Aceh. Karena, di samping tak memiliki gedung yang sangat representatif sepertti BCH, ya juga masalah lainnya?
Namun, dengan pengalaman melihat gedung yang dibangun khusus untuk tempat warga Bandung mengembangkan ide dan kreatifitasnya, bisa membangkingkan gairah kami bagaimana untuk maju.
Memang tidak mudah untuk mencapai kemajuan seperti yang dicapai Kota Bandung saat ini. Di samping generasi mudanya siap dan punya ide kreatif. Ya juga menyangkut jumlah penduduk yang lumayan banyak ya mencapai angka jutaan,, sangat mendukung kreatifitas seni, budaya, dan berbagai hal lainnnya.
Menurut data yang diperoleh AcehHerald.com, Bandung Creative Hub adalah wadah perkumpulan komunitas kreatif kota Bandung yang didirikan oleh Wali Kota Bandung M. Ridwan Kamil dan Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial pada tanggal 28 Desember 2017 dengan tujuan menyediakan 16 subsektor ekonomi kreatif.
Bandung Creative Hub termasuk salah satu implementasi Bandung Smart City dari Smart Community. Bandung Creative Hub memberikan fasilitas agar komunitas kreatif berkembang, beredukasi, dan memajukan sektor industri kreatif kota Bandung.
Bangunan ini menyediakan sarana dan fasilitas lengkap agar perkumpulan komunitas kreatif yang ada di Kota Bandung berkembang dapat menggerakkan dan memajukan industri kreatif di Indonesia.
Untuk sampai ke hari ini, memang ceritanya sangat panjang. Mulai dari obrolan ringan kemudian harus banyak meyakinkan orang yang sebelumnya tidak yakin, dan lain-lain. Namun alhamdulillah akhirnya kita sampai juga ke hari ini.
Banyak ide yang brilian namun tidak bisa dieksekusi karena tidak ada fasilitas. Lalu banyak ide bersama yang seharusnya bisa berkolaborasi tapi terhalang karena ketiadaan tempat berkarya. Itulah dasar dari kebutuhan adanya tempat ini.

Ruang Perpustakaan, Membaca sambil tidur-dtiduran
BCH menyediakan ruang perpustakaan umum yang sangat representatif, dan tentu pelayanannya juga sangat prima. Para ‘jamaah’ yang memanfaatkan ruang baca di perpustakaan tersebut, tidak hanya dilayani sambil duduk seperti di perpustakaan umum lainnya.
Dan, bagi mereka yang ingin tetap membaca sambil tidur-tiduran pun dilayani di perpustakaan yang dimiliki Bandung Creative Hub. Bukunya lumayan banyak dan berkualitas.
Selain tersedia meja baca yang tersebar, BCH juga menyediakan sejumlah tempat tidur lesehan untuk mereka yang tetap ingin membaca sambil rileks.
Beberapa mahasiswa yang ditemui AcehHerald.com di ruang perpustaan BCH mengaku mereka sering kumpul di sini, selain susasananya enak, dingin dan ber-AC, juga mudah dijangkau. Kami bisa berdiskusi di sini berjam-jam sambil membaca, terutama dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah.
“Kalau ditanya bagaimana harapan kami, ya kami sangat berterima kasih kepada Kang Emil, sang walikota yang telah menghadirkan gedung semegah ini dengan peruntukannya yang luar biasa,” ujar Andri, seorang mahasiswa yang ditemui AcehHerald.com di ruang perpustakaan BCH.
BCH tidah hanya ruang baca dan peprpustakaan, tapi bangunan berlantai lima ini memiliki sejumlah ruangan yang semuanya dinilai sangat berperan untuk mendukung kreatifitas ekonomi kreatif di Tanah Pasundan.
Di samping perpustakaan, ada auditorium yang bentuknya bagai bioskop, ruang tari, studio musik, Photography Space, Ruang Game dan Aninimasi, Ruang Kelas Menjahit dan Fashion, Ruang Aula, ruang basment, dan tentunya ruang kerja staf.
Namun, sudah begitu lengkapnya ruangan yang dimiliki BCH, ternyata bangunan ini menyediakan space untuk Caffe Shop.
Rizki Sanjaya, petugas Sub Sektor Bandung Creative Hub mengaku memang Pemko Bandung tidak menyediakan warung kopi di sini…
Penulis M Nasir Yusuf




