Obsesi Seorang Joel Bungalow Tentang Tambang Emas Wisata Pulo Aceh (tamat)

TATAPAN bak mata elang dari lelaki dengan siluet latinos itu menyapu sepanjang garis pantai berlatar perbukitan seputaran antara Seurapong hingga Lampuyang dari sebuah titik antai eksotis dengan nama Pasie Lambaro. “Ini benar potensi wisata domesik yang luar biasa. Kita memiliki panorama dan bibir pantai yang putih bersih melebihi Pantai Kuta Bali sekalipun, dengan hanya sedikit … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Sebuah sudut sunset dari menara Willem Toren di Gampong Meulingge, Pulo Breuh. Foto Lala

TATAPAN bak mata elang dari lelaki dengan siluet latinos itu menyapu sepanjang garis pantai berlatar perbukitan  seputaran antara Seurapong hingga Lampuyang dari sebuah titik antai eksotis dengan nama Pasie Lambaro. “Ini benar potensi wisata domesik yang luar biasa. Kita memiliki panorama dan bibir pantai yang putih bersih melebihi Pantai Kuta Bali sekalipun, dengan hanya sedikit pembenahan di sana sini,” Zulfitri, pria yang telah kenyang pengalaman di bidang usaha jasa pariwisata.

Ya…siapa yang tak kenal dengan Joel Bungalow, pemilik sebuah resort dengan view yang patut diacungi jempol di kawasan bibir pantai Lampuuk, Aceh Besar yang bersih.

Jangan terkejut jika anda mengetahui seorang Joel Bungalow mengadopsi bisnis wisatanya dari daratan Eropa sana. Ya….pria dengan jambang tipis dan garis wajah sangat maskulin itu memang asli produk Lampuuk, Aceh Besar. Namun ia sempat sepuluh tahun bermukim di Kota Mode Italia, Milan yang juga markas Klub Elit Seri A, AC Milan dan Inter Milan. Pria yang mampu secara fasih berbahasa Italia, Inggris dan Spanyol itu, sempat menjadi guide wisata selama di Lampuuk. Konflik lah yang mengantarnya terbang hingga Italia.

Joel juga memiliki istri dan anak di Italia sana, serta belajar bisnis wisata bahari di kawasan mafia tersohor, Pulau Sisilia dan Sardinia. Di Negeri Spaghetti itulah ia mengasah kemampuan untuk mengolah bisnis wisata, hingga kembali ke Aceh. Kini pria yang sering menunggangi Jeep kelas premium Robicon dan Hummer itu sukses mengelola Joel Bungalow, dan membangkitkan ekonomi wisata di Lampuuk, Aceh Besar dan sekitarnya.

Pria yang sekilas mengingatkan kita dengan kemachoan ala petinju sohor Oscar de La Hoya itu, melihat potensi wisata bahari yang luar biasa di Pulo Aceh. Hanya saja butuh sentuhan dan komiment semua pihak untuk memberdayakannya.

Bagi seorang Joel, sektor wisata akan mampu menggerakkan ekonomi rakyat secara berantai dan menyentuh semua lini. Mulai dari perajin souvenir, nelayan, pengusaha jasa angkutan hingga penyewa tikar dan tukang parkir sekalipun. Semuanya ibarat roda akan bergerak sejajar.

Baca Juga:  Anda OTG Covid? Siap Siaplah Untuk Tidur di Hotel Berbintang

Modal untuk itu telah ada, seperti infrastrukur, spot spot destinasi pantai yang luar biasa, serta dukungan fasilitas listrik yang telah 24 jam dan dayanya berlebih di Pulo Aceh. Dengan kata lain, layanan listrik tak sama dengan layanan umum lainnya di Pulo Aceh yang hilang hilang timbul atau bahkan hanya ada plang kantor. PLN telah hadir dengan setia di Pulo Aceh, dengan kata lain, operatormya tak bekerja dari daratan.

Perjalanan sepanjang 30 kilometer dari Lampuyang hingga lampu mercu suar di menara Willem Tooren—satu diantara tiga menara suar bangunan Belanda di Dunia (Pulo Breuh, Belanda dan Karibia)– di Gampong Meulingge membuka mata seorang Joel tentang potensi wisata di Pulo Breuh dan Pulo Nasi tentunya. “Banyak spot wisata bahari dengan ragam resort potensial yang bisa kita kembangkan. Hanya saja kini butuh komitmen semua pihak untuk sama sama memberdayakan potensi itu,” kata Zulfitri, yang punya rencana awal mengelola fasilitas penginapan BPKS untuk menarik wisatan ke Pulo Aceh. Tentu saja dalam koridor Kerjasama profesional.

Plt Kepala BPKS Ir Razuardi Ibrahim MT (kiri) dan Zulfitri aau Joel Bungalow (kanan) terlibat diskusi seputar pemberdayaan Wisata Pulo Aceh. Foto Nasir Yusuf

Salah satu rencana besar Zulfitri adalah menggandeng BPKS serta Pemkab Aceh Besar dan Pemerintah Aceh  untuk merealisasikan akses jalur wisata laut secara rutin PP, antara Lhoknga-Uleelhue-Pulo Aceh. Paket perjalanan itu akan dipasarkan kepada turis yang selama ini secara rutin telah mengunjungi kawasan wisata bahari di Lhoknga dan Lampuuk, Aceh Besar. “Nantinya, jika kita punya penginapan yang representatif di Pulo Aceh, mereka tentu dapat mampir dan menginap di sana, apa lagi jika memiliki kawasan resort ekslusive yang membuat turis betah. Ini potensi ekonomi yang luar biasa,” kata Joel.

Karena harus diakui, jika warga Pulo Aceh sendiri sudah tahu persis dengan potensi wisata baharinya. Sebagai bukti, aparatur Gampong Seurapong telah membangun dua unit kamar wisaa di Pantai Pasie Lambaro yang menawan, dengan dana gampong. Bangunan itu dilengkapi fasilias kamar mandi berikut WC yang bersih, dengan dukungan air sumur pompa. Namun karena terkendala dengan pemasaran, fasilitas gampong yang diharap mendatangkan Pendapatan Asli Gampong (PAG) kini belum maksimal hasilnya. Joel berobsesi untuk memasarkan semua potensi itu.

Baca Juga:  Negara Bangkrut, Warga Rampok Bank Demi Ambil Uangnya Sendiri

Hanya saja pria muda nan enerjik tersebut berharap jajaran DKS juga punya komitment yang sama untuk menghidupkan wisata Pulo Aceh secara berkesinmbungan, bukan hanya sifatnya temporer apalagi panas panas tahi ayam. Cara nya bisa saja dengan menjadikan kawasan Pulo Aceh sebagai lokasi seminar atau workshop  jajaran SKPA Aceh serta SKPK Aceh Besar.

Bukan hanya dengan itu, tapi juga menjadikan Pulo Aceh sebagai arena gathering para birokrat serta jajaran BUMN dan BUMD yang ada di Aceh. Tentu saja harus ada nawaitu yang lebih jauh dan terstruktur, misalnya dengan rancangan anggaran yang diplot terlebih dahulu. Termasuk dengan membuat kalender event yang rutin di Pulo Aceh.

Intinya pemerintah melalui instansi terkait harus hadir di Pulo Aceh, bukan seperti saat ini terkesan ogah ogahan.  “Dengan cara itu, bukan tak mungkin wisata Pulo Aceh akan menjadi industry yang menjanjikan, karena mau tak mau Pulo Aceh akan terus dalam pusaran kunjungan,” tutur Zulfitri.

Jika sektor itu telah hidup, maka ekonomi Pulo Aceh akan menggeliat, dan harga hasil alam tak lagi sesuka agen di daratan. Ikan dan gurita akan menjadi sandaran ekonomi yang mumpuni bagi anak anak pulau.  Dan terbukalah pintu gerbang Pulo Aceh sebagai destinasi wisata andalan sekaligus terbentangnya masa depan yang penuh harapan untuk anak anak pulau.(nurdinsyam)

 

Berita Terkini

Haba Nanggroe