Nasib Guru PPPK 2 Bulan Ngajar Dikampung Orang, SK Belum Turun Hidup Terombang-ambing

Sungguh miris nasib tenaga Pegawai Kontrak PPPK yang mengajar ditingkat SMA/SMK sederajat, khusus lagi bagi mereka yang ditempatkan jauh dari tempat domisili asal si PPPK. Bagaimana tidak, mereka para guru PPPK tersebut sudah sejak bulan Juli mengajar dan mendapat kuota jam mengajar ditempat dimana mereka ditempatkan. Namun sayang jelang dua bulan masa mengajar, hingga saat … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Sungguh miris nasib tenaga Pegawai Kontrak PPPK yang mengajar ditingkat SMA/SMK sederajat, khusus lagi bagi mereka yang ditempatkan jauh dari tempat domisili asal si PPPK.

Bagaimana tidak, mereka para guru PPPK tersebut sudah sejak bulan Juli mengajar dan mendapat kuota jam mengajar ditempat dimana mereka ditempatkan.

Namun sayang jelang dua bulan masa mengajar, hingga saat ini pihak BKN Regional Aceh belum memberi signal tentang kapan SK para guru tersebut diserahkan.

Apalagi mendengar kabar para guru PPPK di daerah lain sudah mengantongi SK. Makanya sungguh memprihatinkan nasib mereka para guru Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang mendapat penempatan jauh dari tempat domisili mereka sebelumnya.

Belum lagi, mereka harus meninggalkan anak, isteri atau suami, untuk mengajar di tempat baru sebagaimana penempatan yang ditunjukkan kepada mereka.

Hingga pekan ini, sudah dua bulan berjalan, berbagai permasalahan mulai muncul, dimana secara ekonomi mereka mulai kehabisan uang untuk biaya hidup ditempat yang baru, tak ayal lagi anak dan suami atau isteri terlantar yang mereka tinggalkan.

Sebut saja Bunga 41 tahun (nama samaran). Bunga berasal dari salah satu kabupaten wilayah pesisir barat Aceh. Ia mendapat penempatan mengajar disalah satu SMA diwilayah utara Aceh. Sudah dua bulan Bunga berada disana dengan meninggalkan suami dan 3 anaknya yang masih kecil.

Hampir selama dua bulan ini, Bunga tidak dapat bertemu dengan anak dan suaminya dikarenakan keterbatasan biaya untuk ongkos transportasi, bahkan menurut pengakuan Bunga, ia saat ini sudah tidak punya biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ditempat barunya.

“Sudah hampir dua bulan saya tidak pulang dan tidak bertemu dengan anak dan suami, karena keterbatasan biaya transportasi, bahkan saat ini sayapun sudah kehabisan uang untuk biaya kebutuhan sehari-hari disini, mau minjam atau berhutang saya tidak berani, karena saya baru disini dan orang disinipun belum mengenal saya,” tutur Bunga.

Baca Juga:  Sekda Aceh Kunjungi Tiga Kecamatan di Pidie Jaya. Ini Sasarannya

Hal senada juga disampaikan oleh Suparman 43 tahun (nama samaran). Ia juga berasal dari wilayah kabupaten lain di Aceh dan mendapat penempatan di wilayah utara Aceh. Dia mengaku hampir dua bulan meninggalkan 4 anak dan istrinya.

Meski Suparman mengaku sempat pulang sekali untuk menjenguk keluarganya, namun untuk saat ini, sama seperti yang dialami Bunga, Suparman sudah kehabisan biaya ditempat baru dimana ia ditempatkan.

“Hingga sejauh ini pihak BKN Regional Aceh belum bisa menyatakan dengan pasti, kapan SK kami akan diserahkan, sementara kondisi kami saat ini sudah sangat memprihatinkan, bahkan untuk makan sehari-hari kami sudah mulai kesulitan. Makanya kami memohon agar pihak BKN Regional Aceh mau mengerti keadaan tenaga PPPK seperti kami,” pungkas pria jelang paruh baya ini.

Berita Terkini

Haba Nanggroe