KOTA JANTHO I ACEHHERALD.com – Sebuah penghargaan internasional dari lembaga PBB yang konsern di bidang pendidikan, sains dan kebudayaan atau The United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation (Unesco), didedikasikan kepada pahlawan nasional dari Aceh, Laksamana Keumalahayati, atau lazim disebut Malahayati, panglima perang angkatan laut Aceh semasa Kesultanan Aceh dipimpin Sultan Alauddin Riatsyah di abad ke-16 M.
Unesco menetapkan Hari Kelahiran Keumalahayati sebagai Hari Perayaan Internasional. Hanya dua orang putra Indonesia yang mendapatkan pengakuan senada. Satu lainnya adalah pahlawan nasional AA Navis yang juga seorang penulis dan sastrawan.
Penjabat (Pj) Bupati Aceh Besar, Muhammad Iswanto SSTP MM kepada awak media, menyatakan rasa bangganya atas penghargaan tersebut. “Ini benar benar penghormatan yang luar biasa dari lembaga di bawah organisasi PBB. Atas nama pribadi dan seluruh rakyat Aceh Besar, saya mengucapkan terimakasih dan rasa syukur yang sebesar besarnya,” kata Iswanto.

Menurutnya, sebagai sebuah lembaga internasional yang memiliki legitimasi serta trust yang sangat tinggi, mereka tentu punya konsideran yang kuat dan mendalam, sebelum menentukan pilihan tersebut. “Mereka menentukan lewat proses persidangan yang ketat serta bersaing secara global dengan puluhan negara lain. Akhirnya ‘Jenderal’ Angkatan Laut Aceh, Laksamana Keumalahayati terpilih. Sangat membanggakan bagi kami warga Aceh Besar dan Propinsi Aceh tentunya,” kata Iswanto.
Ditambahkan, Pemkab dan rakyat Aceh Besar sangat menghargai keberadaan sosok Almarhumah Keumalahayati. Buktinya, dalam peringatan Hari Pahlawan tahun 2023 Nopember lalu, dipusatkan di Makam Keumalahayati di bibir laut Lamreh Krueng Raya. Kala itu Pj Bupati dan seluruh jajaran Forkopimda Aceh Besar hadir di Pusara Malahayati.
Saat ini makam itu juga telah dilakukan beberapa kali perawatan, termasuk akses jalan utama menuju pusara Pahlawan Nasional dari Aceh Besar itu.

Keumalahayati merupakan salah satu tokoh heroik perempuan paling awal di Indonesia. Ia diakui sebagai pahlawan nasional atas keberanian, kepemimpinan, dan kontribusinya dalam membela tanah air.
Keumalahayati dibesarkan di wilayah yang terkenal dengan tradisi maritim kuat. Ia mengenal dunia peperangan laut sejak usia muda. Ayahnya, Laksamana Mahmud Syah, adalah seorang panglima angkatan laut armada Aceh yang terampil dan dihormati.
Ketika ayahnya meninggal dunia, Sultan Alauddin Riayat Syah dari Kerajaan Aceh mengangkat Keumalahayati sebagai laksamana baru. Jabatan Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh menjadikan Keumalahayati sebagai Laksamana perempuan pertama dalam sejarah Indonesia dan bahkan dunia.
Puncak heroik Keumalahayati, ketika ia bersama pasukan wanita para janda petempur Aceh, mengalahkan pasukan Belanda dalam pertempuran head to head tahun 1599. Sejarah mencatat, tanggal 11 September 1599, Malahayati menewaskan jenderal Belanda Cornelis de Houtmann, dalam duel satu lawan satu, kala pasukan Malahayati merangsek ke dalam kapal perang Belanda.
Pengusulan penetapan peringatan 475 tahun kelahiran Keumalahayati (1550-1615) itu sendiri mendapat dukungan dari Malaysia, Federasi Rusia, Thailand, dan Togo.




















