Pengantar Redaksi,
JUMAT, 15 Agustus 2025 besok adalah sebuah hari yang krusial bagi masyarakat Aceh secara khusus dan Indonesia secara umum. Sejarah mencatat jika almanak di hari itu adalah saat terwujudnya kesepahaman damai antara Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Smolna Government Building, Helsinki Finlandia. Kesepahaman dengan label Memorandum of Understanding (MoU) tersebut secara langsung memungkasi konflik bersenjata antara RI-GAM selama tiga dekade, dimulai dengan Deklarasi GAM 04 Desember 1976 di Gunung Halimun Pidie. Selama bentang konflik yang berkuah darah itu, sebagai sosok jurnalis saya menjadi saksi hidup dan ikut mereportasekan keping keping kejadian yang penuh onak serta derai air mata berkepanjangan itu, mulai dari balik meja editor hingga bertugas di lapangan, kala saya masih menjadi bagian harian lokal di Aceh, Serambi Indonesia.
Dalam kapasitas sebagai reporter itupula saya ditugaskan korporasi untuk meliput langsung MoU RI-GAM yang diinisiasi oleh Crisis Management Initiatif (CMI) yang dipimpin mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari di Helsinki Finlandia. Praktis, saya menjadi saksi hidup bentang konflik itu, mulai dari desing mesiu perang terbuka hingga penandatanganan perdamaian secara elegant di Meja Perundingan kala itu, Senin 15 Agustus 2005 siang waktu Helsinki.
Sebuah kehormatan, saya menjadi satu-satunya wartawan di luar Jakarta yang meliput fenomena sarat Sejarah itu. Menambah deretan pengalaman liputan luar negeri saya, seperti Australia, Hongkong, Macau dan China.
Saya mencoba mengurai ingatan tentang kesaksian bentang konflik itu, melalui dua buah tulisan berikut di bawah ini, sebagai pengingat dan menjadi renungan bagi kita semua, betapa untuk merajut damai begitu mahal karena ribuan nyawa terserabut dari raga dan so pasti, menyisakan luka nanah serta pilu yang tiada bertepi. Dan satu yang harus dicatat, tulisan ini tak bermaksud memojokkan pihak manapun, karena ini hanya secuil kenangan dan bukan untuk mengungkit luka lama.
Mereka yang menandatangani MoU Helsinki, 15 Agustus 2005. Foto Ist
SABTU 06 Agustus 2005 sekitar pukul 09.30 WIB, sebuah nomor asing masuk ke hand phone Nokia 8250 di kantong depan baju saya. Saat itu sedang acara pesta perkawinan seorang anak keponakan di Gampong Lampriet Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh. Jantung tiba tiba berdegup kencang, saat suara seorang wanita di seberang sana menanyakan identitas secara singkat dan terukur. Nama, profesi dan alamat kantor.
Suara itu memang bernada rendah namun tegas. “Kami dari istana Wapres, anda diminta menghadap tanggal 10 Agustus 2005,” katanya singkat dan dingin sembari menutup saluran telepon.
Serasa percaya atau tidak, ketika sang penelpon mengatakan saya dipercaya untuk meliput pelaksanaan Memorandum of Understanding (MoU) antara GAM dan RI di Helsinki Finlandia. Sebuah kawasan yang jangankan bercitacita, bermimpi pun tidak untuk saya kunjungi. Maklum ia terletak di Eropa Utara, tak jauh dari Norwegia yang terhitung bagian dari kutub bumi.
Saat rasa bingung belum menghilang, HP saya kembali berdering, kali ini telepon dari sobat satu korporasi yang bertugas di Jakarta. “Bos, nama ente sudah kudaftarkan di Istana Wapres, untuk meliput MoU Helsinki. Ane hanya rekomendasikan nama ente untuk ikut acara itu,” katanya singkat dalam nada canda percakapan kami selama ini, sehingga saya tahu mengapa saya yang disasar pihak Istana Wapres.
Fikar W Eda, itulah sahabat sesama Serambi Indonesia kala itu, yang memang bertugas di Jakarta. Seharusnya dialah yang berangkat ke Helsinki, namun saat bersamaan ia terlibat kegiatan seni budaya di Takengon, tanah kelahirannya. Pentas seni budaya di Tana Gayo lebih menggema di hatinya, sehingga ia mengambil cuti dari kantor untuk ikut acara itu.
Smolna Government Building, Helsinki (Foto Ist)
Ada rasa bingung dan takut saat menyadari undangan yang tak biasa tersebut. Meliput di seantero tanah air rasanya biasa biasa saja. Ini meliput diantara jepitan wartawan internasional dengan isu yang super kuat perdamaian RI-GAM. Sebuah magnitut news yang luar biasa.
Bubar dari pesta pernikahan, saya l;angsung berkoordinasi dengan Bung Mawardi Ibrahim, Pemimpin Redaksi (Pemred) Serambi Indonesia kala itu. Saya balik menawarkan agar ia saja yang berangkat, namun ia menolak dengan alasan tak punya paspor, akibat rumahnya dihantam tsunami. “Kajiet, gata mantong jak (sudahlah kamu saja yang berangkat) karena nama juga sudah masuk ke Istana Wapres,” katanya singkat.
Saya dipaksa untuk belajar kembali dari dasar menyangkut pengiriman berita dan foto melalui modem dengan fasilitas laptop, satu hal yang paling saya hindari selama ini. Karena semuanya telah dihandel tenaga IT kantor, sementara saya hanya tinggal klik. Nyaris 2×24 jam saya belajar untuk itu, hingga benar benar mahir dan siap untuk berangkat ke medan tempur.
Sesuai dengan arahan, tanggal 10 sekitar pukul 09.00 WIB saya menapak pekarangan secretariat Istana Wapres di Jalan Kebon Sirih Nomor 14 Jakarta Pusat. Karena muncul dari jantung konflik, saya diperiksa secara ketat saat masuk untuk pertama kalinya. Usai melihat Surat dan identitas, saya lalu diberi arahan singkat tentang acara peliputan yang ditalangi sepenuhnya oleh Setwapres serta menggandeng Kedubes RI di Finlandia.
Saya diminta kembali keesokan harinya untuk proses ticketing dan administrasi pendukung lainnya. Kamis 11 Agustus pagi saat kembali ke Setwapres, staf memberikan tiket dan uang jalan. Di jadwal tertera pukul 19.00 WIB hari itu, dengan penerbangan Lutfhansa rute Jakarta-Frankfurk-Helsinki. Bersama wartawan Kantor Berita Antara belakangan juga dari TVRI (Alm Juli Elfano dan seorang reporter Wanita, dengan nada optimis kami memasuki counter check in.
Wajah saya tiba tiba pucat pasi, saat petugas counter menanyakan visa schangen, karena transit di Frankfurt. Jelas saya tak punya dan tak dibekali oleh Setwapres, kami ditolak untuk berangkat. Saya hanya pasrah, walau sempat berdalih kami rombongan Setwapres, namun mereka keukeuh menolak dan kembali lah kami menuju rimba beton Jakarta lagi. Saya berpikir semua telah selesai.
Dalam taksi di perjalanan pulang, Menkominfo Sofyan Jalil yang telah berangkat lebih dulu menelpon dari Singapura, dan menenangkan hati kami. Iya mengaku lupa dengan persyaratan visa schangen, dan meminta kami untuk kembali ke Setwapdres pagi besok.
Jumat 12 Agustus 2005, kami kembali ke Setwapres untuk melapor, dan aklhirnya kami diberi tiket First Class Finn Air untuk berangkat pada malam harinya, bersama rombongan pamungkas. Saya ingat kala itu antara lain ada Said Fuad (Ketua DPRD Aceh), Plt Gubernur Azwar Abubakar, Alm Tgk Muslim Ibrahim, Menko Polkam Widodo AS, Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin (Ketua Delegasi RI) serta beberapa orang lainnya.
Finn Air melayani rute Jakarta-Bangkok yang ditempuh selama tiga jam. Lalu transit di Dong Muang dan Langsung terbang ke Helsinki dengan masa penerbangan 13 jam nonstop. Benar benar penerbangan kelas 1. Sekitar 15 meninggalkan Dong Muang Bangkok, saat saya baru saja menikmati lengkingan Freddy Mercury lead vocal Grup Rock Legendaris Inggris Queen, lewat titel Bohemian Rhapsody, seorang pramugari Wanita paruh baya mendekat dan menawarkan welcome drink, wine. “No” saya menolak sembari menyambar sekaleng Coke dingin di nampan. Setelah itu adalah terbang tanpa jeda selama 14 jam menuju Helsinki, dengan selingan makan dan minum.
Tanggal 13 menjelang petang, kami menapak Bandara Vantaa yang terketak 17 Km dari jantung Kota Helsinki. Udara segar musim autum menyambut kedatangan kami. Usai mengemasi bagasi, rombongan langsung menuju Hotel Hilton yang tak jauh dari Kedubes RI di Helsinki. Alhamdulillah akhirnya jadi jua, saya membathin.
Masih ada sisa dua hari menjelang Hari H penandatanganan MoU Helsinki yang dijadwalkan Senin tanggal 15 Agustus 2005. Malam itu saya merancang liputan untuk keesokan harinya, sembari mengirimkan liputan awal untuk redakjsi. Pagi keesopan hari nya usai breakfast bersama teman mencari lokasi acara di Smolna Government Centre yang terletak di jantung Kota Helsinki. Kala itu gedung yang terhitung sebagai bangunan klasik tersebut masih dalam bentuk asli dan terlihat sederhana, namun elegant.
Bersama wartawan Kantor Berita Antara, TVRI kami mengambil badge di panitia. Dari situ saya tahu juga ada Bung Nezar Patria (Wamenkominfo) saat ini yang meliput untuk Tempo, juga ada Wartawati Metro Tivi Vallerina Daniel serta fotografer Doni Yussa. Selain itu tentu saja rombiongan besar wartawan media lokal Finlandia, termasuk dari Reuters, AFP, Newyork Time, Marca Spanyol serta lainnya yang tak bisa dirinci. Ada rasa bangga berdiri sejajar dengan mereka, dan saya satu satunya wartawan luar Pulau Jawa yang ikut meliput di sana. Bahkan Bung Nezar secara khusus memberitahu pantia, jika saya adalah reporter lokal langsung dari Aceh.
Pulang dari bakal lokasi acara, saya langsung bergerak secara mandiri untuk melakukan reportase khusus, yaitu wawancara langsung dengan Perdana Menteri GAM kala itu, Malek Mahmud Alhaytar yang juga ketua rombongan Juru Runding GAM. Jelang ashar waktu Helsinki, saya meninggalkan hotel menuju lokasi penginapan Kontingen GAM di Hana Saari Holmen yang terletak di sisi danau.
Lokasi yang benar benar eksotis dengan pemandangan hamparan danau, dan hal itu sesuai dengan julukan Finladia negeri seribu danau. Saya disambut dengan ramah oleh rombongan yang antara lain ada mantan sesama wartawan Serambi, Adnan Beuransyah, Munawar Liza Zainal, Irwandi Yusuf dan lainnya.
Sesuai dengan target pertama, saya langsung terlibat wawancara ekslusiv dengan Malek Mahmud yang ikut didampingi oleh dr Zaini Abdullah. Menjelang pukul 19 WIB acara usai dan saya kembali ke hotel untuk mengirimkan beberapa liputan hari itu. Hari itu saya menyaksikan infrastruktur jalan di Helsinki yang luar biasa. Termasuk melihat langsung pusat Nokia dunia yang kala itu menjadi produsen HP terbesar.
Detik detik mendebarkan itu akhirnya tiba, 15 Agustus 2005, sekitar pukul 10 WIB kami rombongan wartawan diberikan kesempatan untuk registrasi ulang sekaligus masuk ke ruang perundingan. Kami terus mengambil posisi masing masing, dan saya mendapat posisi terdepan karena bodi ‘ukuran mini’. Setelah itu baru masuk para undangan dari kedua pihak. Pukul 11.20 rombongan dari Crisis Management Initiative yang dipimpin langsung Ketuanya Martti Ahtisaari (mantan Presiden Finlandia) selaku inisiator perundingan.
Kemudian dikuti oleh rombongan dari GAM yang dipimpin oleh Malek Mahmud, serta para juru runding dari RI yang diketuai oleh Hamid Awaluddin. Pergerakan jarum jam terasa terhenti, sunyi dan tak ada sedikitpun suara. Semuanya hening! Hanya sejenak sambutan singkat dari Martti Ahtisaari serta pengenalan kedua kubu oleh pembawa acara, lalu moment bersejarah itu langsung tersaji.
Sebuah sudut Kota Helsinki yang memukau.
Malek Mahmud dan Hamid Awaluddin serta Martti Ahtisaari menorehkan tekenan di lembaran yang palinb fenomenal hingga kini, yaitu Memorandum of Understanding (MoU) antara GAM dan RI untuk mengakhiri konflik tiga dekade. Spontan terlontar ucapan rasa sykur dari kedua kubu. “Alhamdulillah.” Itulah kata yang menggema diiringi tepuk tangan semua undangan dan para juru runding.
Tanpa terasa air mata bergulir di pipi, saya menangis sendiri di tengah jepitan para reporter Eropa dan Asia. Tangis haru, karena ikut menjadi saksi dari moment paling bersejarah ini. Bukan hanya itu, saya diberi kesempatan sebagai sedikit orang yang menjadi saksi hidup dari bara konflik Aceh yang berdarah-darah hingga tuntas di meja perundingan nun puluhan ribu kilometer dari tungku kionflik itu sendiri. Diam diam saya melakukan sujud syukur di atas karpet tebal ruang perundingan yang dingin. “Akhirnya damai itu datang jua,” ujar saya membatin, sebelum meninggalkan Smolna Government Building bersama rekan jurnalis nasional.
Kembali terbukti petuah indatu kita lewat hadih maja, pat ujuen yang han pirang, pat prang yang han reuda. Ya….mana ada hujan yang tak berhenti, mana ada perang yang tiada akhir.
Selasa 16 Agustus 2025 petang, roda Finn Air fligt Helsingki-Bangkok-Jakarta lepas landas dari Bandara Vantaa. Terasa berat meninggalkan negeri yang melahirkan pembalap F1 legendaris, seperti Mika Hakkinen yang seteru berat Michael Shcumacher dan Kimi Raikonen itu. Kota yang adem, lintas High Way membentang hingga taman kota yang eksotis dan romantic kala dipenuhi warga petang hari . Rasanya ingin santai sejenak usai liputan yang super berat yang pernah saya lakoni. Namun tugas lain telah menanti di Aceh dan limit dari Setwapres juga sudah sampai. Hyvasti Helsinki (selamat tinggal Helsinki) saya melambaikan tangan dari kabin First Class Fin Air sambil menikmati tembang never say godbye milik John Bon Jovi dari audio tempat duduk.(tamat)




















