SIANG itu terik, tapi tidak memyurutkan semangat teman-teman dari Kota Banda Aceh mendatangi rumah produksi Coklat Sabang yang kerap disingkat dengan sebutan Cokbang.
Kepo pastinya, seperti apakah rasa Coklat Sabang tersebut. Ternyata selidik punya selidik, coklatnya asli produksi di Sabang dan kakao nya juga merupakan hasil panen dari petani Sabang.
Puluhan warga Kota Banda Aceh, ini pun mencicipi testernya. Decak kagum pun dilontarkan bahwa Cokbang ini tak kalah rasanya dengan coklat produksi luar negeri.
Senada itu, Sazha, gadis muda asal Negeri Jiran Malaysia, mengakui bahwa rasanya sama saja seperti coklat luar negeri yang pernah dicicipinya. “Enak,” ujarnya sambil menyebutkan merek coklat yang terkenal itu.
Ia mengetahui keberadaan Cokbang ini, dari guide mereka selama di Sabang. Dan diakuinya tidak rugi, sudah datang ke rumah produksi Cokbang di Kawasan Aneuk Laut Sabang ini.
Senada itu, Nur menyebutkan rasanya tidak pahit, beda dengan coklat produksi lokal yang ada di daerah Serambi Mekah ini. “Beda jauh lah, makanya borong berbagai jenis coklatnya untuk anak-anak di Banda Aceh.
Ia juga mengatakan harganya masih terjangkau kocek dan rasanya enak yang terasa di lidah, seperti bikin nendang juga chic. Apalagi rasa pahit atau getirnya tidak begitu terasa.
Sementara itu, Kepala Produksi Cokbang, Melan Meta Diansyah, mengatakan bermula dari penganguran atau kerja mocok-mocok atau serabutan, lalu tahun 2021 ikut pelatihan coklat yang diselenggarakan Disperindag.
Setelahnya, ia bersama teman-temannya mulai memproduksi coklat Sabang, dengan peralatan seadanya, seperti teflon, alat tumbuk sederhana rumah tangga, dan produksinya juga masih dengan jumlah sedikit.
Dengan produksi minim, ia tetap bertahan, bahkan sempat down. Namun, tak lama ia dan temannya memulai lagi usaha Cokbang. Sampai suatu hari, pihak Bank Indonesia Aceh melihat semangat mereka memproduksi coklat Sabang, sehingga BI mulai membina UMKM ini, sekaligus membantu sejumlah mesin alat produksi kakao menjadi Cokbang.
Proses Pembuatan Cokbang
Melan Meta pun menyebutkan bagaimana proses pembuatan Cokbang.
1. Panen dan Fermentasi: Buah kakao yang matang dipanen oleh petani, lalu bijinya difermentasi selama beberapa hari untuk mengembangkan rasa.
2. Pengeringan: Biji kakao yang telah difermentasi dikeringkan di bawah sinar matahari hingga kadar airnya mencapai tingkat yang diinginkan.
3. Pemanggangan: Biji kakao kering dipanggang untuk mengeluarkan aroma dan rasa khas cokelat.
4. Penggilingan: Biji kakao yang dipanggang digiling menjadi pasta kakao (cocoa liquor).
5. Pencampuran: Pasta kakao dicampur dengan bahan-bahan lain seperti gula, susu (untuk cokelat susu), dan lemak kakao.
6. Pengolahan Lanjut: Campuran tersebut kemudian melalui proses refining dan conching untuk menghasilkan tekstur yang halus dan rasa yang kaya.
7. Pencetakan dan Pengemasan: Cokelat cair dicetak dalam berbagai bentuk, didinginkan, dan dikemas untuk dijual.
Usai menyampaikan proses produksinya, Melan Meta menuturkan bahan baku untuk produksi Cokbang nya ini, ia menerima kakao kering atau sudah di fermentasi dari 30 petani kakao yang telah lolos uji kelayakan dan kualitas bagus. Meski begitu ada banyak petani kakao yang ada di Sabang ini.
Adapun, biji kakao kering dihargai Rp80.000 per kilogram, sementara biji kakao yang telah diproses fermentasi dihargai Rp150.000 per kilogram.
Bagaimana pemasaran Cokbang! Kepala Produksi Cokbang mengutarakan market Coklat Sabang saat ini mengandalkan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik, serta promosi dari mulut ke mulut. Sayangnya, antusiasme warga lokal terhadap produk Coklat Sabang masih kurang. Meski begitu, pasarnya selama ini, ya…dari turis saja.
“Pernah, saat turis memesan Cokbang dan meminta dikirimin melalui paket yang semua biaya akan ditanggung oleh wisatawan tersebut. Kemudian ia pun mempaketkannya melalui jasa swasta, namun dikarenakan pihak Cokbang belum ada agreetman dengan jasa titipan itu, sehingga tidak bisa mengirimkan paket nya.
Jadi, selama ini, pihaknya hanya memasarkan Cokbang dari wisatawan ke turis asing yang berkunjung ke Sabang. Dan pengakuan mereka positif-positif saja, baik soal rasa maupun kemasannya.
Meski pun pemasaran hanya melalui turis atau wisatawan saja, namun rasa coklat Sabang yang berasal dari kilometer nol ujung Sumatara ini, bisa tembus ke belahan bumi lainnya ke ujung dunia.
Mimpinya Bangun Cafe Kecil
Ada satu mimpinya belum terwujud. Yakni ingin membangun cafe mini atau dapur Cokbang di samping bangunan rumah produksi coklat Sabang ini.
“Kecil saja tak perlu besar. Cukup untuk pembeli atau pengunjung Cokbang menikmati secangkir coklat hangat atau sepiring kecil dessert Cokbang,” ujarnya.
Diakuinya bermula dari mimpi, lalu diupayakan agar terealisasi dapur mini Cokbang, sehingga pembeli memiliki kesempatan duduk manis menikmati berbagai varian Cokbang, selain yang di beli untuk dibawa pulang.
Siang masih saja terik, meski di kawasan lainnya mendung memayungi Kota Sabang. Cita rasa coklat Sabang ini, bikin lidah berdecak karena rasanya yang menggoyang hati hingga ke ujung dunia dari olahan tangan terampil anak muda di Kilometer Nol Sabang.





















