Kamis, Maret 4, 2021

Kantor Balai Taman Nasional Gunung Leuser Pindah ke Banda Aceh

 

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Mawardi, menyaksikan penandatanganan prasasti oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi dan Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno, saat meresmikan pemindahan Kantor Balai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dari Medan ke Banda Aceh, Selasa, (16/2/2021).

BANDA ACEH | ACEH HERALD – Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) akhirnya memindahkan kantornya dari Medan ke Banda Aceh. Pemda Aceh memberi apresiasi atas pemindahan kantor manajemen tersebut setelah 23 tahun berhome base di Medan Sumatera Utara.

Dengan pemindahan itu, koordinasi dalam pengelolaan dan pengembangan Taman Nasional itu ke depan akan lebih lancar dan cepat, hingga upaya melindungi dan melestarikan kawasan Leuser agar lebih efektif dan efisien, kata Asisten Perekonomian
dan Pembangunan Setda Aceh, Ir Mawardi, pada acara Peresmian Kepindahan Kantor Balai Besar TNGL di Banda Aceh, Selasa, (16/2/2021).

Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Wakil Ketua Komisi IV Bidang Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Kelautan DPR RI, Dedi Mulyadi dan Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno.

Penandatanganan itu ikut disaksikan oleh sejumlah anggota Komisi IV DPR RI, termasuk diantaranya legislator asal Aceh, Ir TA Khalid dan Muslim Aiyub. Ikut juga menyaksikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, Ir A Hanan MP.

“Sejak lahirnya Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang menegaskan bahwa pengelolaan kawasan TNGL merupakan kewenangan Pemerintah Aceh, Itu berarti, berbagai kebijakan terkait perlindungan TNGL tidak lagi berada di bawah kendali Pemerintah pusat, melainkan tanggungjawab Pemerintah Aceh,” kata Mawardi.

Mawardi menjelaskan, dengan lahirnya regulasi baru tersebut, maka tidak efektif lagi kalau Balai Besar TNGL berkantor di Medan. Pilihan membuka kantor di Aceh adalah keputusan paling tepat agar komunikasi dengan Pemerintah Aceh lebih lancar.

Dengan demikian, kerjasama kedua belah pihak dalam melindungi dan melestarikan kawasan Leuser akan lebih efektif dan efisien.

Sebagai pengelola TNGL, kata Mawardi, Pemerintah Aceh telah menetapkan beberapa kebijakan untuk penyelamatan kawasan tersebut, antara lain, perekrutan Tenaga Pengamanan Hutan sebanyak 2.000 orang, Penetapan Qanun Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Satwa Liar, Pembentukan Tim Terpadu Pencegahan dan Perusakan Kawasan Hutan, serta beberapa kebijakan lainnya.

Mawardi menyebutkan, setidaknya ada lima poin penting yang menjadi perhatian Pemerintah Aceh dalam melindungi hutan Aceh, terutama kawasan TNGL.

Kelima poin tersebut, antara lain, penguatan kelembagaan untuk pengelolaan hutan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, fasilitasi dan pendampingan perhutanan sosial, mempercepat penyelesaian konflik tanah dalam kawasan hutan, serta penguatan kelembagaan pengelola kawasan konservasi.

“Untuk menjalankan lima poin tersebut, Balai Besar TNGL memiliki peran yang sangat besar. Karena itu, komunikasi dan koordinasi antara Pemerintah Aceh dan Balai Besar TNGL harus kita perkuat,”ujar Mawardi.

Sementara Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno, mengatakan, pemindahan kantor tersebut merupakan bagian dari usaha pihaknya untuk mendorong Balai Besar TNGL dalam berperan besar melindungi kawasan hutan khususnya di wilayah Provinsi Aceh.

Selain itu, melalui pemindahan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan komunikasi dalam rangka kerja sama dengan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan masyarakat Aceh.

“Tujuan akhirnya adalah masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser ini memiliki ekonomi berbasis kawasan konservasi, tumbuh dengan spirit keswadayaan, kemandirian dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan satwa liar,” kata Wiratno.

Wiratno menyebutkan, TNGL memiliki luas area sebesar 830 ribu hektar lebih. Dua pertiga diantaranya berada dalam kawasan Provinsi Aceh, sementara sepertiga lagi berada di wilayah Sumatera Utara.

Wiratno menjelaskan, sejarah pengelolaan TNGL telah melalui empat fase penting. Tahap pertama adalah pada Februari 1934, pada tahap itu diterbitkan Surat Keputusan Pendudukan Suaka Marga Satwa Gunung Leuser seluas 416.600 hektar di Tapaktuan, Aceh Selatan. SK tersebut disahkan oleh Gubernur Militer Aceh di Kutaraja pada Juli 1934.

Kemudian tahap kedua, melalui pengumuman Menteri Pertanian pada tahun 1980 kawasan Gunung Leuser dideklarasikan sebagai Taman Nasional bersamaan dengan empat Taman Nasional lainnya di Indonesia. Pengelolaanya berada di bawah kewenangan Sub Balai Perlindungan dan Pelestarian Alam Kementerian Pertanian dengan lokasi kantornya di Kutacane, Aceh Tenggara.

Selanjutnya tahap ketiga, pada Mei 1984 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan pengelolaannya ditingkatkan menjadi Balai TNGL dengan lokasi kantor tetap di Kutacane. Kemudian hampir 23 tahun selanjutnya, tepatnya pada tahun 2007 Balai TNGL berubah menjadi Balai Besar TNGL melalui peraturan Menteri Kehutanan dengan kantornya dipindah ke Medan Sumatera Utara.

“Mudah-mudahan pemindahan kantor Balai Besar TNGL ke Banda Aceh ini dapat mengembangkan pengelolaan dan kerja sama kemitraan berbasis mutual trust, mutual respect, mutual benefit dengan pemerintah provinsi, kabupaten, perguruan tinggi, LSM, tokoh masyarakat dan agama,” kata Wiratno.

 

- Advertisement -

Related Articles

Tuanku Muhammad Sayangkan Pembangunan IPAL Kembali Dilanjutkan

BANDA ACEH I ACEH HERALD Ketua Fraksi PKS DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, menyayangkan terbitnya surat dari Pemerintah Kota Banda Aceh kepada Kementerian Pekerjaan Umum...

Ketua DPRK Sosialisasikan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba di Kuta Alam

BANDA ACEH I ACEH HERALD KETUA Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Farid Nyak Umar, melaksanakan reses masa persidangan II tahun 2021 di Daerah...

Cegah Karhutla, Rocky Pimpin Apel Gabungan

IDI I ACEH HERALD MARAKNYA kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di beberapa daerah akhir-akhir  ini, membuat sejumlah pihak cepat tanggap termasuk Forkopimda Aceh Timur. Untuk...
- Advertisement -

Ikuti Kami

19,899FansSuka
0PengikutMengikuti
17,300PelangganBerlangganan

Berita Terbaru

Tuanku Muhammad Sayangkan Pembangunan IPAL Kembali Dilanjutkan

BANDA ACEH I ACEH HERALD Ketua Fraksi PKS DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, menyayangkan terbitnya surat dari Pemerintah Kota Banda Aceh kepada Kementerian Pekerjaan Umum...

Ketua DPRK Sosialisasikan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba di Kuta Alam

BANDA ACEH I ACEH HERALD KETUA Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Farid Nyak Umar, melaksanakan reses masa persidangan II tahun 2021 di Daerah...

Cegah Karhutla, Rocky Pimpin Apel Gabungan

IDI I ACEH HERALD MARAKNYA kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di beberapa daerah akhir-akhir  ini, membuat sejumlah pihak cepat tanggap termasuk Forkopimda Aceh Timur. Untuk...

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Simpang Keuramat Padamkan Kebakaran Hutan di Geuredong Pase

LHOKSUKON I ACEH HERALD BABINSA dan Bhabinkamtibmas Simpang Keuramat memadamkan api yang membakar hutan di Desa Alue Awe, Kecamatan Grudung Pase, Kabupaten Aceh Utara, Rabu...

Polres Pidie Gelar Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla

SIGLI I ACEH HERALD MENINDAKLANJUTI arahan Presiden RI Bapak Ir.Joko Widodo, tentang Dalkarhutla 2021 melalui Vidcon pada 22 Februari 2021 lalu, Polres Pidie menggelar Rapat...
- Advertisement -