Kala Jatim Melihat Tim Aceh bak Sebuah Aquarium Bening dan Rasa Serba Salah Samuel Cs

Rangkaian keputusan yang menghebohkan itu bisa jadi membuat beban psikologis bagi anak anak Aceh, saat menghadapi Jatim malam ini. Rasanya seperti serba salah, menang salah, kalah juga salah.
Laga semifinal Cabor Sepakbola, Aceh vs Jatim.

Iklan Baris

Lensa Warga

PERTEMUAN  skuadra Aceh versus Jatim adalah pertemuan kedua tim saat di ajang semifinal dua PON terakhir, yaitu PON Papua tahun 2021 dan PON Aceh-Sumut tahun 2024. Kala itu skuad PON Aceh dibesut oleh Fakhri Husaini yang kini membesut tim Jatim melaju ke final. Dalam final 14 Oktober 2021 di Stadion Mandala Jayapura itu, Akhirul Wahdan dkk takluk 2-0, setelah sempat tampil dengan 10 pemain paska kartu merah yang kontroversial untuk Muharrir. Dan Aceh meraih medali perak.

Perunggu diraih Jatim setelah mengalahkan Kaltim 3-2 untuk menyegel posisi 3 dan empat.

Kali ini, Aceh sebagai tuan rumah berusaha memungkasi mimpi jawara yang tertunda di Stadion Mandala Krida, sementara Jatim memiliki misi ganda, menuntaskan dendam kesumat semifinal PON 2021 saat mereka dikubur oleh Aceh dengan skor 2-1, serta menggapai impi mereka untuk mnjadi kampiun sepakola PON 2024.

Akhirnya, Jatim sukses menuntaskan dendam kesumat dan itu terasa sangat istimewa, dilakukan di depan puluhan ribu tifosi Mahyuddin dkk, Senin (16/09/2024) di Stadion Harapan Bangsa, dengan kemenangan 3-2 atas tuan rumah.

Hanya saja, duel malam ini, adalah duel sangat spesial pasukan besutan pelatih Rasiman. Ya…duel serba salah bagi elkapiten Refiansyah dkk. Kali ini anak anak Aceh masuk lapangan dengan perasan rikuh dan seperti serba salah.

Semua itu pasca perlagaan perempatfinal yang mengundang heboh luar biasa, dan memaksa Eric Tohir bos PSSI menurunkan tim investigasi ke Aceh. Tak ada yang salah dalam pertandingan perempatfinal itu, Samuel dkk tampil lugas dan lepas, serta bermain dalam koridor yang sangat fair play. Yang salah adalah rangkaian keputsan wasit yang kontroversial.

Rangkaian keputusan yang menghebohkan itu bisa jadi membuat beban psikologis bagi anak anak Aceh, saat menghadapi Jatim malam ini. Rasanya seperti serba salah, menang salah, kalah juga salah.

Baca Juga:  Fraksi Nasdem-PNA DPRK Banda Aceh Bantu Warga Tertimpa Puting Beliung

Tak tahu mengapa muncul kebijakan seperti itu, apakah karena ‘order’ atau mungkin karena keluguan wasit yang seorang guru olahraga. Rangkaian keputusan kontroverial berakhir dengan sebuah uppercut telak dari fullback Sulteng, Rizki yang membuat wasit EAS ambruk dan dijemout oleh dua unit mobil ambulans dari kotak 16 Sulteng.

Samuel dkk melaju ke semifinal setelah dinyatakan menang WO dan Sulteng mundur dari arena laga di Stadion Dimurthala, saat babak tambahan waktu atau additional time dilakukan.

Secara teknis, bagi Jatim yang kini dilatih oleh Fakhri Husaini, melihat tim Aceh ibarat melihat sebuah akuarium yang transparan.

Betapa tidak, Fakhri tahu persis bagaimana langgam tim PON Aceh, sebuah tim yng pernah dibesutnya empat tahun silam, walau kini telah berganti armada. Namun ruh permainannya tentu ia pahami secara sangat mendalam. Lebih dari itu, asisten pelatih Rasiman juga adalah asisten dirinya ketika memegang tim PON Aceh hingga melesat ke babak final di PON Papua. Ruh dan spirit tim itulah yang sangat dipahami oleh Fakhri, sosok salah satu pelatih terbaik nasional.

Jujur saja, membandingkan track record Fakhri Husaini dengan Rasiman sangatlah tak adil. Rasiman memulai karir sebagai asisten pelatih Rahmad Darmawan di Sriwijaya FC, lalu menjadi pelatih Persis Solo menggantikan Jackson F Tiago, serta juga pernah memegang Madura United. Sementara Fakhri  nyaris bisa dikatakan sebagai pelatih spesialis turnamen, mulai dari level PON hingga kejuaraan regional saat membawa Timnas Indonesia di berbagai level usia.

Pengetahuan mendalam Fakhri yang anak Lhokseumawe itu, tentang tipikal Tim PON Aceh, plus jam terbang lebih dibanding Rasiman, membuat terasa wajar jika ia menjinjing Jatim menerobos babak final Cabor Sepakbola secara beruntun dua PON terakhirm setelah menundukkan Aceh dengan skor 3-2.

Baca Juga:  Uni Eropa tak Akui Kedaulatan Israel Atas Tepi Barat

Di sisi lain, Fakhri juga merasa sedih harus mengalahkan tim tanah kelahirannya di kandang sendiri, tetapi semua harus dipahami, ini sepakbola dan harus profesional. “Sedih karena saya orang Aceh. Tapi ini sepakbola tentu saya harus bersikap profesional,” demikian Fakhri Husaini.

Terlepas dari semua itu, beban psikologis seperti perasaan serba salah bagi Samuel dkk sebelum memasuki altar laga semifinal di Stadion Haraan Bangsa, rasanya jauh lebih dominan. Sebuah pelajaran mahal yang dapat dipetik oleh semua pihak di negeri ini, terutama di Aceh. Sudah saat nya kita tuntaskan semua hasrat di laga lapangan hijau secara elegant, dengan spirit fair play dan silaturrahmi. Bukan masanya lagi–mudah-mudahan tidak– ‘bermain’ di balik layar untuk legalitas sebuah kedigdayaan. Itu pola lama yang seharusnya sudah terkubur secara dalam.  Bravo sepakbola Aceh.

 

(*) – Pemimpin Redaksi Acehherald.com

  • Ketua Forum Pemred Aceh
Kata Kunci (Tags):
semifinal sepakbola pon xxi, aceh vs jatim. stafion harapan bangsa, rasiman, fakhri husaini

Berita Terkini

Haba Nanggroe