ACEH BARAT DAYA | ACEHHERALD.Com – Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Aceh Barat Daya, Zedi Saputra, mengakui bahwa hingga kini pihaknya hanya bisa memantau harga di tingkat agen resmi.
Sedangkan soal aktivitas pangkalan liar yang selama ini dicurigai sebagai aktor utama di balik kekacauan distribusi, belum bisa mereka deteksi, kata Zedi Saputra, kepada Acehherald.com, Jum’at (18/7/2025).
“Sejauh ini kami hanya dapat memantau harga pada pihak agen, sedangkan keberadaan pangkalan liar yang bermain belum terdeteksi,” ujar Zedi tanpa ragu, seolah mengatakan kepada publik: “Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Selebihnya Ia menyarankan agar awak Acehherald.com, mempertanyakan permasalahan tersebut ke Pertamina Aceh, terkait berapa tabung jumlah kouta LPG 3 kg di Kabupaten Abdya.
Pangkalan di Seluruh Desa
Sementara itu, hasil amatan dan komentar dari sejumlah nara sumber media ini bahwa di Kabupaten Abdya ada tiga agen lpg 3 Kg sebagai penyalur ke pangkalan, kemudian pangkalan menyalur ke warga berhak (warga miskin).
Adapun ketiga agen itu adalah PT Suria Meukat Gah, PT Gah Lhe Kilo, dan PT Ujong Raja Kuala Batu. Sedangkan berapa kuota tiap-tiap agennya, hanya Pertamina Wil I Aceh yang tahu.
Namun, kata salah satu agen, info tersebut berubah dan pihak agen kalau dulu masing-masing menerima kuota tak banyak juga, tetapi sekarang pangkalan hampir di seluruh desa di Abdya ysng jumlah desa mencakup 152, sehingga masing-masing pangkalan sudah berjumlah sekitar ratusan unit.
Jadi pihaknya menduga, pangkalan terus dibuka di seluruh desa, sementara kouta tak ditambah, makanya terjadi kelangkaan.
Masih info yang didapat awak Acehherald.com bahwa sekarang ini pangkalan dapat pasokan sekitar 40 sampai 70 tabung sekali pasok. Dalam satu bulan masing-masing pangkalan menerima pasokan sekitar 5 x pasok.
Padahal, tambahnya, sebelumnya pangkalan bisa menerima pasokan antara 50 sampai 100 tabung. Artinya, jumlah pasokan berkurang drastis sehingga terjadi kelangkaan, disamping tudingan terjadi penyimpangan.
Sebelumnya Sekretaris Komisi II DPRK Aceh Barat Daya, Rahmat Irfan, resah gegara antrean panjang untuk mendapatkan tabung gas di daerahnya dan opini rakyat hanya bergema di warung kopi. Dugaan nya dengan kondisi ini pasti ada yang bermain dalam gelap dan pemerintah terlalu takut untuk menyalakan lampu.
Rahmat Irfan mengungkapkan, kelangkaan gas LPG bukan peristiwa mendadak. Ini hasil dari pembiaran yang berlangsung lama, dimana pengecer nakal dengan leluasa memainkan tabung dan harga, sementara pihak yang seharusnya mengawasi justru bungkam.
Irfan melanjutkan, masyarakat hari ini makin terjepit, antrean tambah panjang, dan akses terhadap kebutuhan Gas LPG jadi barang langka. Dan ini semua terjadi karena pengawasan melempem, tindakan tidak tegas, dan ketidakjelasan siapa yang seharusnya bertanggung jawab, katanya kepada Acehherald.com, Kamis (17/7/2025).
Laporan: Andhika dan Zainun Yusuf





















