
BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Juru Bicara Tim Covid 19 Aceh, Saifullah Abdulgani, Kamis (26/03/2020) jelang tengah malam merilis kondisi kekinian pasien terkait kemungkinan sebaran corona di Aceh. Katanya, hingga hari ini terjadi penambahan Orang Dalam Pemantauan atau ODP sebanyak 10 orang. Jika sehari sebelumnya, Rabu (25/3) iumlah ODP di Aceh sebanyak 216 orang, Kamis (26/3/2020) menjadi 226 orang.
Sementara itu, PDP yang masih dirawat di RICU RSUZA sebanyak empat orang dan satu lainnya di RSU Cut Mutia Lhokseumawe. Pria yang akrab disapa SAG ini juga membenarkan jika seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal dalam perawatan di Respiratory Intensif Care Unit (RICU) Rumah Sakit Zainoel Abidin, Senin, 23 Maret 2020 dinyatakan positif Covid-19.
Ditambahkan, pasien PDP inisial AA, usia 56 tahun, asal Lhokseumawe yang meninggal dunia Senin (23/3) lalu, di RICU RSUZA dinyatakan positif Covid-19 dan tercatat sebagai Covid-19 yang ke-826 secara nasional.
Kepastian diketahui dari hasil pemeriksaan swab di laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan RI, sebagaimana telah diumumkan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Nasional beberapa saat lalu. “Hasil laboratorium terhadap swab pasien sudah kita terima dan juga baru diumumkan oleh Jubir Gugus Tugas Covid-19 nasional,” ujar SAG.
Sementara itu, PDP berinisial EY, jenis kelamin laki-laki, umur 43 tahun yang kemarin (Rabu, 25/3) meninggal di RICU RSUZA , belum dapat disimpulkan sebagai positif Covid-19, karena belum ada hasil pemeriksaan swab dari laboratorium Balitbang Kemenkes RI di Jakarta. “Hingga saat ini EY meninggal karena gagal nafas akibat pneumonia akut. Tapi karena dicurigai serangan virus corona,, jasadnya dipelakukan sesuai Standar Operaaional Prosedur pasien Covid-19, tapi statusnya masih PDP,” papar SAG.
SAG menjelaskan, awalnya EY didiagnosa sebagai penderita infeksi empedu. Tim medis merencanakan tindakan operasi, namun belakangan terdeteksi pneuomonia akut seperti serangan virus corona,” kata SAG seraya menambahkan, saat persiapan operasi dan pemeriksaan foto thorak, tim medis menemukan pneumonia akut mirip penderita covid-19.
Setelah didalami lebih lanjut terungkap EY memiliki riwayat ke Malaysia, 13 hari sebelumnya. Tanpa informasi baru tiba dari daerah penularan virus corona, maka ditangani sebagaimana pasien gangguan empedu lainnya. “Informasi dari RSUZA, EY sudah sering berobat, sehingga petugas tak menaruh curiga,” kata SAG.
Belajar dsri kasus PDP berinisial EY ini, SAG mengimbau masyarakat, terutama pasien dan keluarga pasien menyampaikan informasi tentang riwayat pasien secara detil kepada tenaga medis yang merawatnya. “Kita bergarap EY bukan PDP Positif Covid-19. Sebab, bila hasil pemeriksaan swab-nya positif, akan banyak petugas yang harus dikarantina selama 14 hari,” urai SAG.
Selanjutnya SAG mengatakan, dalam situasi seperti saat ini, bantu petugas medis dengan informasi yang selengkap- lengkapnya kepada petugas.
Penulis : Nurdinsyam




