IPPELMAS Serukan Kebangkitan Budaya Pesisir Barat Selatan Aceh

"Kami tak ingin generasi kami tumbuh tanpa tahu bahwa tanah yang mereka pijak pernah menjadi jalur emas perdagangan dunia. Festival ini adalah pengingat keras, bahwa sejarah kita bukan milik museum, tapi hidup di denyut masyarakat pesisir,"
Prosesi photo bersama kegiatan Festival Rempah. Foto Ist

Iklan Baris

Lensa Warga

BLANGPIDIE | ACEHHERALD.Com – Ditengah derasnya arus globalisasi dan lunturnya kesadaran sejarah dikalangan generasi muda, Festival Jalur Rempah Barat Selatan Aceh 2025 tampil sebagai tamparan kultural yang membangkitkan kembali jati diri masyarakat pesisir. Tak sekadar seremonial budaya, festival ini menjadi sinyal kuat bahwa wilayah barat dan selatan Aceh menolak dilupakan dari peta peradaban sejarah Nusantara.

Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Susoh (IPPELMAS) yang dengan lantang mengapresiasi langkah monumental ini. Melalui pernyataan Sekretaris Umum IPPELMAS, Muhammad Alfhat Gifari, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan upaya serius untuk merebut kembali narasi kejayaan rempah-rempah yang selama ini terabaikan oleh pembangunan yang bias.

“Kami tak ingin generasi kami tumbuh tanpa tahu bahwa tanah yang mereka pijak pernah menjadi jalur emas perdagangan dunia. Festival ini adalah pengingat keras, bahwa sejarah kita bukan milik museum, tapi hidup di denyut masyarakat pesisir,” ujar Alfhat, Senin (28/7/2025).

Festival yang digagas oleh Aceh Culture and Education (ACTION) bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini mengusung tema “Menelusuri Masa Keemasan Perdagangan Rempah di Pantai Barat-Selatan Aceh”  sebuah tajuk yang bukan hanya romantik, tapi strategis.

Strategis karena membuka mata publik akan potensi budaya dan ekonomi kawasan yang selama ini tertinggal dalam pembangunan provinsi.

Dikesempatan yang sama, Bendahara Umum IPPELMAS, Zayed Taufiqurrahmad menuturkan, bahwa organisasinya siap berdiri di barisan depan untuk mengawal gerakan kebudayaan seperti ini. “Masa depan daerah ini tidak bisa dibangun tanpa fondasi sejarah. Jika pemuda tidak tahu dari mana mereka berasal, bagaimana mungkin mereka tahu ke mana akan melangkah?” tegas Zayed.

Festival Jalur Rempah bukan hanya soal tari-tarian, stan pameran, atau napak tilas sejarah. Ini adalah panggung perlawanan simbolik terhadap amnesia kultural. Ini adalah pernyataan keras bahwa generasi muda pesisir tidak akan membiarkan tanah leluhurnya hanya jadi catatan kaki dalam buku sejarah nasional.

Baca Juga:  Alumni Dayah Abu Kuta Krueng Bentuk Pengurus di Aceh Timur

IPPELMAS menyerukan agar festival seperti ini tidak berhenti menjadi event, tapi menjadi gerakan. Gerakan untuk menjadikan budaya sebagai daya saing, bukan beban nostalgia.  Sebab jika jalur rempah pernah membawa kejayaan, mengapa tidak bisa lagi hari ini?

Berita Terkini

Haba Nanggroe